CekFakta #178 Menciptakan Kekebalan Bersama Terhadap Hoaks Teori Konspirasi

Ilustrasi hoax atau hoaks. shutterstock.com

Halo, pembaca nawala Cek Fakta Tempo!

Di antara informasi yang beredar di sekitar kita, sebagian hoaks atau misinformasi menggunakan narasi teori konspirasi. Meski ada konspirasi (persekongkolan jahat) yang nyata, teori konspirasi ini mengelabui masyarakat agar mempercayai suatu informasi meskipun tanpa bukti.

Lalu, bagaimana jika salah satu anggota keluarga, saudara, maupun kolega yang menggemari teori konspirasi? Bagaimana kita mencegah dan mengajak mereka agar tak mempercayai dan terhindari dari hoaks teori konspirasi?

Dalam nawala ini pula, Tempo telah memeriksa pula sejumlah klaim dan menayangkan hasil pemeriksaan terhadap berbagai klaim tadi di kanal Cek Fakta Tempo. Pekan ini, aneka klaim yang beredar memiliki isu yang sangat beragam, mulai dari isu politik, sosial dan kesehatan.

Apakah Anda menerima nawala ini dari teman dan bukan dari e-mail Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

Bagian ini ditulis oleh Artika Rachmi Farmita dari Tim Cek Fakta Tempo

Menciptakan Kekebalan Bersama Terhadap Hoaks Teori Konspirasi

Pekan lalu, Nawala Cek Fakta Tempo mengajak Anda memahami mengapa teori konspirasi begitu populer dan bagaimana cara mengidentifikasi ciri-ciri pemikiran teori konspirasi. 

Kami memperkenalkan ciri-ciri pemikiran teori konspirasi melalui akronim CONSPIR, yang disadur dari The Conspiracy Theory Handbook. Panduan misinformasi berbau teori konspirasi ini disusun oleh Stephan Lewandowsky, peneliti dari School of Psychological Science, University of Bristol dan John Cook dari Pusat Komunikasi Perubahan Iklim, Universitas George Mason.

Perlu diingat bahwa konspirasi sebenarnya memang ada, tetapi jarang terkuak melalui metode teori konspirasi. Konspirasi nyata justru ditemukan melalui pemikiran konvensional. Yaitu dengan skeptisisme yang sehat terhadap laporan resmi, sambil mempertimbangkan dengan cermat bukti yang terpampang dan konsisten. 

Sebaliknya, pemikiran teori konspirasi ditandai dengan sikap skeptis secara berlebihan terhadap semua informasi yang tidak sesuai dengan narasi teori. Lalu, menafsirkan bukti secara berlebihan yang mendukung teori yang disukai, serta tidak konsisten alias selalu berubah-ubah.

Baca selengkapnya: Membedakan Konspirasi Nyata dan Teori Konspirasi

Agar orang di sekitar kita terlindungi dari paparan teori konspirasi, ada baiknya menerapkan prinsip vaksin di dunia kesehatan; mencegah lebih baik daripada mengobati. Dengan begitu, kita dapat menghambat atau memperlambat penyebaran teori konspirasi. 

Pertanyaan-pertanyaan sederhana bisa kita ajukan sebagai pembuka dialog ketika Anda mendapati orang lain memposting hoaks bernama teori konspirasi di media sosial: 

  1. Apakah saya/Anda mengenali organisasi berita yang memposting berita tersebut?
  2. Apakah informasi dalam postingan tersebut tampak dapat dipercaya?
  3. Apakah postingan ditulis dengan gaya yang biasa digunakan oleh media massa profesional?
  4. Apakah postingan tersebut bermotif politik?

Dari sana, kita bisa mengenali apakah mereka yang berbagi pemikiran teori konspirasi bisa mengontrol perasaannya atau justru diliputi oleh rasa terancam/ketakutan. Ketika orang merasa kehilangan kendali atas suatu situasi, kecenderungan terhadap teori konspirasi akan meningkat. 

Bagaimana menghadapi orang yang gemar berbagi teori konspirasi?

Membongkar teori konspirasi (debunking) mungkin tampak efektif untuk menyadarkan masyarakat secara umum, namun bisa jadi jauh lebih menantang. Apalagi jika kita berhadapan dengan orang-orang yang benar-benar percaya teori konspirasi. 

Alih-alih menilik pada bukti-bukti berseberangan yang disodorkan, mereka punya sistem kepercayaan terhadap teori konspirasi itu sendiri dan setiap keyakinan berfungsi sebagai alat bukti untuk setiap keyakinan konspirasi lainnya.

Akibatnya, misalnya ketika teori konspirasi disanggah oleh konten debunking di Facebook, mereka akhirnya memilih berkomentar dan mendiskusikan konten tersebut dengan lebih intens di ruang gema (echo chamber) mereka sendiri.

Mereka yang mengaku sebagai pakar teori konspirasi juga biasanya punya pengaruh yang sangat besar, meskipun jumlahnya sedikit. Analisis terhadap lebih dari 2 juta komentar di situs subreddit r/conspiracy, menemukan bahwa meskipun hanya 5% poster yang menunjukkan pemikiran konspirasi, mereka berinteraksi dan mempengaruhi sedikitnya 64% dari semua komentar. 

Lalu, bagaimana menghadapi orang-orang ini?

Tunjukkan empati

Berinteraksi dengan orang-orang yang menyebarkan teori konspirasi harus empatik. Serta berusaha membangun pemahaman dengan pihak lain. Karena tujuannya adalah untuk mengembangkan keterbukaan pikiran di antara mereka. Maka, kita harus memberi contoh komunikasi yang baik secara nyata.

Tegaskan pemikiran kritis

Teori konspirasi menganggap diri mereka sebagai pemikir kritis yang tidak bisa tertipu oleh sumber atau otoritas resmi. Persepsi ini dapat dimanfaatkan dengan balik menegaskan ke mereka, bahwa berpikir kritis adalah nilai yang penting. Baru kemudian kita mengarahkan mereka agar menganalisis teori konspirasi secara lebih kritis.

Hindari mengolok-olok

Mendekonstruksi atau menertawakan teori konspirasi secara agresif, atau berfokus pada “memenangi” argumen, akan berisiko pada penolakan secara otomatis. Namun, masih ada kemungkinan ejekan/olokan itu berhasil mempengaruhi persepsi khalayak umum.

Jadilah pengantar pesan terpercaya (trusted messengers)

Pesan balasan yang dibuat oleh mantan anggota komunitas ekstremis (“exiters”) akan dinilai lebih positif dan diingat lebih lama daripada pesan dari sumber lain.

Untuk itu, sebelum melawan balik pemikiran para pakar teori konspirasi, ada baiknya kita menganalisis situasi dan lawan bicara. Perlu diingat bahwa konspirasi nyata memang ada. Namun ciri-ciri pemikiran konspirasi (CONSPIR) bukanlah cara yang produktif untuk mengungkap konspirasi yang sebenarnya. 

Sebaliknya, pemikiran konvensional yang menghargai skeptisisme yang sehat, bukti, dan konsistensi adalah bahan yang diperlukan untuk mengungkap upaya riil untuk menipu publik.

____________________________________________________________________________

Bagian ini ditulis oleh Safira Amni Rahma dari Tim Magang Merdeka Cek Fakta Tempo

Menggaet Pemilih Muda lewat Media Sosial

Media sosial diprediksi menjadi tempat kampanye politik pilihan di masa depan untuk menggaet pemilih muda. Pasalnya, media sosial sangat populer di kalangan muda. Selain Facebook dan Twitter, TikTok juga populer bagi kalangan muda.

Fenomena ini sudah lebih dulu terjadi di Amerika Serikat. Di negara Abang Sam, TikTok terbukti dapat menjangkau pemilih muda secara presisi. Wade Herring, seorang Demokrat yang mencalonkan diri pada kongres di Georgia, berkampanye dengan TikTok.

Padahal sebelumnya, platform itu hanya kesohor sebagai wadah para pegiat media sosial untuk berjoget. “Saat ini pemilih muda tidak menonton CNN, MSNBC, atau Fox. Mereka mendapatkan informasi di TikTok, dan baik atau buruknya, itulah cara menjangkau mereka,” ujar Herring seperti dikutip dari APNews.com.

Di Filipina, TikTok dan Facebook sendiri menjadi salah satu faktor penentu kemenangan Ferdinand Marcos Jr. alias Bongbong. Marcos Jr. menjadi presiden terpilih Filipina dengan kampanye di media sosialnya yang kuat. Dengan memilih sosial media, Bongbong memang menargetkan kaum muda.

Ilustrasi TikTok. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Sementara di Indonesia, sejumlah politisi sesungguhnya sudah mulai memanfaatkan media sosial untuk menggaet perhatian publik. Emil Dardak misalnya, sejak beberapa tahun lalu aktif mengunggah kegiatan atau program pemerintah yang sedang berjalan melalui akun media sosialnya. Selain itu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, juga sering mengangkat topik-topik yang menjadi perbincangan kalangan muda seperti jomlo, malam minggu, rindu, dan sebagainya. Pembahasan semacam itu diramu dan divisualisasikan menjadi konten-konten di sosial medianya.

Sejak beberapa tahun lalu, Partai Golongan Karya (Golkar) juga sudah melancarkan strategi dan pendekatan terhadap anak muda. Partai pohon beringin itu kini menduduki posisi  pertama untuk tingkat popularitas di kalangan generasi muda berdasarkan hasil survei yang dirilis Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada September 2022. Survei tersebut menyebutkan dari 94 persen responden kalangan milenial, sebanyak 75,9 persen menyatakan kesukaannya terhadap Golkar.

Membendung Hoaks pada Pemilu 2024 

Menjelang pemilu, sosial media sarat dengan hoaks. Ketua Bawaslu, Rahmat Bagja pun mengkhawatirkan sisi negatif media sosial sebagai sarana menyebarkan berita bohong. Menurutnya, kabar bohong jika terus diulang bisa membuat orang lain menjadi percaya. 

Untuk mengantisipasinya, Bawaslu mengaku akan memperbarui perjanjian atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan sembilan platform media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Facebook. TikTok juga merupakan salah satu penyedia layanan media sosial yang diajak bekerja sama. Pasalnya TikTok kini menjadi salah satu platform yang banyak digunakan masyarakat dari berbagai usia.

Apalagi, penelitian terbaru dari NewsGuard—sebuah situs yang didedikasikan untuk memverifikasi berita dan informasi yang beredar di jaringan—mengungkapkan bahwa hampir 20 persen dari video yang muncul di hasil pencarian TikTok, berisi informasi yang salah.

Penyelidikan mengungkapkan bahwa bukan hanya konten yang menjadi masalah, tetapi cara TikTok menampilkan saran lewat mesin pencarinya. Mereka mencatat bahwa mesin pencari TikTok sendiri menyarankan, istilah pencarian yang lebih kontroversial ketika yang lebih netral dimasukkan. Bahayanya tidak hanya terletak pada kesalahan informasi, tetapi juga pada keterbatasan kemampuan mencari sumber informasi lain yang lebih andal.

Selain memperbaharui MoU, Bawaslu menangkal hoaks menjelang pemilu dengan kerja sama lain yaitu cek fakta mengenai informasi yang beredar di media sosial tentang Pemilu. Bawaslu juga menyiapkan penindakan bekerja sama dengan Polri.

Bagian ini ditulis oleh Inge Klara Safitri dari Tempo Media Lab

Waktunya Trivia!

Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini yang mungkin luput dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

Akses internet melalui WiFi atau Wireles Fidelity kini menjadi suatu hal yang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas manusia. Bagi kebanyakan orang, alasan penggunaan WiFi lantaran ingin menghemat data seluler dan mendapatkan akses yang lebih cepat saat menjelajah internet. Namun muncul pertanyaan, benarkah riwayat browsing internet bisa dilihat admin WiFi?

Ilustrasi WiFi. telegraph.co.uk

Jelang pemilu presiden, hoaks menyebar di komunitas imigran seperti tahun 2020 lalu. Namun, para peneliti Zignal menemukan, ada twist yang berbahaya pada hoaks yang beredar kali ini, contohnya, dalam beberapa pekan terakhir, postingan yang membesar-besarkan dampak inflasi ditujukan kepada warga Amerika dari negara-negara Amerika Latin yang telah dilumpuhkan oleh manajemen ekonomi yang buruk. Informasi yang salah tersebut berputar-putar dalam bahasa China di Twitter, YouTube, dan WeChat tentang surat suara, kurikulum sekolah, dan kejahatan rasial “memiliki implikasi berbahaya” tahun ini bagi pemilih Asia-Amerika, yang tumbuh sebagai kekuatan politik, menurut kelompok advokasi Asian American Advancing Justice - AAJC.

Kemitraan Integritas Pemilu menargetkan misinformasi pemilu, bukan konservatif. Seorang mantan kandidat kongres mengklaim bahwa dia dan kaum konservatif lainnya menjadi sasaran media sosial dengan bantuan pemerintah sekitar waktu pemilihan 2020.

Periksa Fakta Sepekan Ini

Dalam sepekan terakhir, klaim yang beredar di media sosial memiliki isu yang sangat beragam, mulai dari isu politik, sosial dan kesehatan. Buka tautannya ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini. Ingin mengecek fakta dari informasi atau klaim yang anda terima? Hubungi ChatBot kami.

Ikuti kami di media sosial:

Facebook

Twitter

Instagram

Telegram






Rekomendasi Berita

    Berita tidak ada

CekFakta #194 Waspada Main Hakim Akibat Hoaks Penculikan Anak

15 jam lalu

CekFakta #194 Waspada Main Hakim Akibat Hoaks Penculikan Anak

Bagaimana jika hoaks penculikan malah memicu kekerasan dan pembunuhan terhadap orang tidak bersalah?


Mengunggah Video Kunjungan ke Penjara, Lima Pembuat Konten Mesir Ditahan

2 hari lalu

Mengunggah Video Kunjungan ke Penjara, Lima Pembuat Konten Mesir Ditahan

Pembuat konten Mesir menghadapi dakwaan seperti menerbitkan berita palsu dan menggunakan akun media sosial untuk tindakan terorisme.


Polda Papua Barat Tangkap 5 Tersangka Lagi Pembakar Perempuan Difabel

2 hari lalu

Polda Papua Barat Tangkap 5 Tersangka Lagi Pembakar Perempuan Difabel

Polda Papua Barat membantah korban sebagai pelaku penculikan anak dan menyebut tuduhan tersebut hoaks.


Mengapa Buruk Dampaknya Jika Terbiasa Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain?

3 hari lalu

Mengapa Buruk Dampaknya Jika Terbiasa Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain?

Terus membandingkan diri sendiri dengan orang lain sama saja mengabaikan potensi yang dimiliki


Tak Terima Betrand Peto Difitnah, Ruben Onsu Ancam Lapor Polisi

3 hari lalu

Tak Terima Betrand Peto Difitnah, Ruben Onsu Ancam Lapor Polisi

Ruben Onsu diwakili pengacaranya meminta pelaku menghapus konten-konten hoaks yang menyudutkan Betrand Peto secepatnya.


Tips Membuat Konten Bermutu di Media Sosial

5 hari lalu

Tips Membuat Konten Bermutu di Media Sosial

Para kreator perlu menyajikan konten yang berkualitas dan bernilai karena bisa mempengaruhi kehidupan orang yang melihatnya.


Beredar Video Penculikan Anak Dimasukkan ke Dalam Karung di Bekasi, Polisi Pastikan Hoax

5 hari lalu

Beredar Video Penculikan Anak Dimasukkan ke Dalam Karung di Bekasi, Polisi Pastikan Hoax

Kapolres Bekasi meminta masyarakat tidak panik namun tetap waspada dengan maraknya isu penculikan anak.


Buzzer Mainkan Isu SARA Jelang Pemilu, Ini Sanksi Pidana untuk Mereka

5 hari lalu

Buzzer Mainkan Isu SARA Jelang Pemilu, Ini Sanksi Pidana untuk Mereka

Bawaslu akan menindak buzzer yang menggunakan isu identitas atau SARA di media sosial. Bila terbukti bersalah akan dikenakan pelanggaran UU ITE


Tips Mengelola Emosi Akibat Konten Adu Domba Buzzer

6 hari lalu

Tips Mengelola Emosi Akibat Konten Adu Domba Buzzer

Jelang tahun politik, psikolog UGM memberikan cara menghindari emosi akibat konten buzzer.


Marak Isu Penculikan, Emak-Emak di Depok: Hoaks atau Bohong Kami Tetap Khawatir

7 hari lalu

Marak Isu Penculikan, Emak-Emak di Depok: Hoaks atau Bohong Kami Tetap Khawatir

Emak-emak di Depok diresahkan dengan maraknya isu penculikan yang merebak melalui group media sosial WhatsApp