CekFakta #99 Kekuatan Meme dalam Menebarkan Hoaks

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hoax atau hoaks. shutterstock.com

    Ilustrasi hoax atau hoaks. shutterstock.com

    • Informasi palsu dapat menyebar lewat berbagai medium. Selain beredar melalui unggahan di media sosial dan video deepfakevideo manipulasi yang diciptakan dengan kecerdasan buatan—misinformasi juga bisa menyebar lewat sebuah meme. Meme tidak hanya digunakan oleh troll internet, tapi juga oleh pemerintah dan politikus di seluruh dunia, termasuk di tengah gelaran Pemilu Amerika Serikat 2016 dan pandemi Covid-19.
    • Varian baru virus Corona B117 telah terkonfirmasi masuk ke Indonesia. Varian baru ini dikatakan dapat menyebar lebih cepat ketimbang varian virus Corona lainnya. Tingkat penularan yang lebih tinggi tersebut berpotensi menyebabkan peningkatan kasus Covid-19. Masuknya varian baru ini memunculkan kekhawatiran menyangkut efektivitas vaksin Covid-19 yang mulai diberikan ke masyarakat.

    Halo pembaca nawala Cek Fakta Tempo! Dalam edisi kali ini, saya ingin membahas tentang meme, yang kerap dianggap sebagai hiburan tidak berbahaya, namun sesungguhnya kerap digunakan sebagai senjata untuk menyebarkan hoaks. Meme dipakai untuk mempengaruhi Pemilu AS 2016. Meme juga digunakan oleh kelompok-kelompok anti-vaksin untuk menyebarkan misinformasi di tengah pandemi Covid-19.

    Apakah Anda menerima nawala ini dari teman dan bukan dari e-mail Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    KEKUATAN MEME DALAM MENEBARKAN HOAKS

    Di era yang serba digital saat ini, hampir tidak ada batas dalam hal bagaimana cara sebuah informasi palsu menyebar secara daring. Unggahan di media sosial dan video deepfakevideo manipulasi yang diciptakan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI)—mungkin menjadi metode yang paling sering muncul di benak Anda ketika menyinggung cara sebuah hoaks beredar. Namun, narasi palsu dan misinformasi juga bisa menyebar lewat sebuah unggahan lelucon dan meme. Ya, kita sekarang hidup di dunia di mana meme dapat dijadikan sebuah senjata.

    Sebagian besar kita menganggap meme sebagai gambar lucu yang dibubuhi dengan sebaris teks; meme hanyalah hiburan yang tidak berbahaya, yang berisi komentar lucu dan tajam tentang peristiwa terkini. Namun, saat ini, meme jauh melampaui itu. Perang meme secara konsisten muncul dalam dunia perpolitikan, dan tidak hanya digunakan oleh troll internet atau orang yang kurang kerjaan dari ‘bawah tanah’, tapi juga oleh pemerintah, politikus, dan aktivis di seluruh dunia.

    Menurut Joan Donovan, Direktur Proyek Penelitian Teknologi dan Perubahan Sosial di Harvard Kennedy’s Shorenstein Center, Rusia memakai meme dan trik media sosial lainnya untuk mempengaruhi Pemilu Amerika Serikat 2016—menggunakan peternakan troll yang dikenal sebagai Internet Research Agency untuk menyebar konten pro Donald Trump dan kontra Hillary Clinton di berbagai platform online. “Dua pihak yang berseteru dalam konflik teritorial, seperti Hongkong dan Cina, Gaza dan Israel, serta India dan Pakistan juga memakai meme dan propaganda viral untuk mempengaruhi sentimen lokal dan internasional,” ujarnya.

    Di tengah pandemi Covid-19, meme juga dimanfaatkan oleh para produsen hoaks. Riset teranyar perusahaan intelijen media Zignal Labs menunjukkan bahwa sebuah meme, yang pertama kali disebarkan pada akhir Desember 2020 lalu, telah mendorong ribuan unggahan baru berisi teori konspirasi yang mengaitkan vaksin Covid-19 dengan teknologi 5G. Cuitan itu berisi gambar yang menampilkan sebuah sirkuit listrik pedal gitar, namun diklaim sebagai chip 5G. Teks dalam meme itu menyatakan arsitektur chip sama dengan vaksin Covid-19.

    BBC menemukan beberapa meme yang menunjukkan bahwa vaksin bisa menimbulkan efek samping yang radikal. Foto orang yang cacat dibagikan bersama klaim bahwa foto tersebut menunjukkan “orang pertama yang menerima vaksin”. Mungkin tampak jelas bahwa narasi beserta foto-foto itu tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah, tapi mereka kerap dibagikan dalam kelompok yang sangat menentang vaksinasi. Seperti diketahui, vaksin memang memiliki efek samping. Namun, sebagian besar ringan. Vaksin pun melalui pemeriksaan keamanan yang sangat ketat sebelum dapat diberikan ke publik.

    Menurut Jan Buts, periset pascadoktoral Ilmu Penerjemahan di Trinity College Dublin, format meme yang sangat populer adalah kutipan palsu, yang dimaksudkan untuk menyindir atau menghibur. Sangat banyak meme yang beredar yang berupa foto tokoh-tokoh dunia, seperti Abraham Lincoln, Albert Einstein, atau Mahatma Gandhi, yang dibubuhi dengan kutipan yang tidak masuk akal—yang tentu saja tidak benar-benar pernah dilontarkan oleh tokoh-tokoh tersebut. Atribusi yang salah ini tidak terjadi secara tidak sengaja.

    Memang, bagi mereka yang terbiasa dengan satire atau ironi, meme seperti itu bisa dibaca sebagai lelucon. Tapi bagi mereka yang tak awam dengan hal semacam ini, kutipan dalam meme yang misalnya dibuat seolah-olah untuk mengungkap niat jahat dari tokoh seperti pendiri Microsoft Bill Gates—yang telah lama menjadi target bagi para penggemar teori konspirasi—dapat mempengaruhi mereka untuk tidak mempercayai vaksin, atau bahkan pandemi Covid-19 itu sendiri.

    Jennifer Yang Hui, periset di Centre of Excellence for National Security (CENS), Singapura, mengatakan media sosial saat ini lebih banyak melibatkan konten non-tekstual. Sebut saja platform berbagai video pendek TikTok dan platform berbagi foto Instagram. Konten visual memang memiliki dampak emosi yang unik terhadap audiens. Aspek inilah yang dimanfaatkan oleh produser hoaks, terutama yang dilancarkan melalui meme.

    Karena itu, menurut Donovan, kita harus memandang meme sebagai ancaman yang serius. Meme membuat tipuan dan operasi psikologis mudah dilakukan dalam skala internasional. Dia pun menyarankan, daripada mengejar pencipta meme, politikus atau lembaga yang ingin melawan meme hoaks lebih baik memperkuat produksi dan distribusi informasi yang bisa diandalkan, baik oleh media, akademisi, maupun lembaga pemerintah non-partisan. Sementara pertahanan dunia maya yang dilakukan oleh negara, bersama raksasa-raksasa media sosial, berfungsi untuk membasmi operasi pengaruh.

    Menurut Shane Creevy, kepala editorial Kinzen, firma pelacakan disinformasi, untuk mengatasi misinformasi skala besar yang menyebar lewat meme, perusahaan media sosial perlu menerapkan desentralisasi moderasi konten oleh manusia, bukan AI, atau menugaskan lebih banyak orang untuk membantu mengidentifikasi meme yang menyesatkan. Pasalnya, meskipun telah berhasil mengidentifikasi frasa dan gambar yang menyesatkan secara terpisah, AI belum mampu memahami bagaimana konteks berubah saat teks dan gambar dihamparkan dalam meme.

    Dileep George, peneliti AI, berkata, “Meme bisa dibuat rumit sewenang-wenang.” Misalnya, bentuk, ukuran, dan penempatan huruf bisa divariasikan. Adegan juga bisa diletakkan di dalam huruf sekaligus di latar belakang. Manusia bisa mendeteksi manipulasi semacam itu. Tapi, menurut George, hal tersebut akan “sangat sulit diurai oleh sistem deep learning”. AI juga menghadapi tantangan lain, yakni memahami konteks budaya. “Saya ingin sekali berpikir akan ada teknologi yang dikembangkan yang dapat memecahkan masalah meme,” ujar Creevy. “Tapi teknologi yang ada belum sampai sejauh itu.”

    MASUKNYA VARIAN CORONA B117  KE INDONESIA

    Bagian ini ditulis oleh Siti Aisah, peserta Health Fellowship Tempo yang didukung oleh Facebook.

    Tantangan untuk menangani pandemi Covid-19 bakal semakin berat dengan masuknya varian baru virus Corona B117 ke Indonesia. Pasalnya, varian baru tersebut diperkirakan dapat menyebar lebih cepat ketimbang varian virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, lainnya. Tingkat penularan yang lebih tinggi berpotensi menyebabkan peningkatan kasus Covid-19. Masuknya varian baru ini juga memunculkan kekhawatiran terkait efektivitas vaksin Covid-19 yang mulai disuntikan ke sejumlah kelompok masyarakat.

    Petugas medis dengan pakaian pelindung mengumpulkan sampel dari penduduk selama pengujian asam nukleat massal menyusul pertambahan kasus harian Covid-19 baru-baru ini di Shijiazhuang, provinsi Hebei, Cina, 6 Januari 2021. Di dua kota yang menjadi pusat penyebaran virus corona baru, pemerintah telah selesai melakukan pengujian massal terhadap 13 juta orang. China Daily via REUTERS

    - Dilansir oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Amerika Serikat (CDC), berbagai bukti menunjukkan bahwa varian baru virus Corona B117 lebih cepat menular dibandingkan dengan varian SARS-CoV-2 lainnya. Tingkat penularan yang lebih tinggi ini akan menyebabkan peningkatan kasus Covid-19 dan jumlah pasien yang membutuhkan perawatan klinis serta memperberat beban sistem perawatan kesehatan yang sudah genting.

    - Menurut CDC, tingkat penularan varian virus Corona B117 yang lebih tinggi juga memerlukan penerapan strategi kesehatan masyarakat yang lebih lama dan lebih ketat serta meningkatkan persentase kekebalan komunitas demi pengendalian pandemi. Pengawasan genom pun perlu diperkuat, seiring dengan penerapan protokol kesehatan masyarakat yang efektif, termasuk vaksinasi, menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, serta isolasi dan karantina, untuk membatasi penyebaran SARS-CoV-2.

    - Hasil penelitian Oxford-AstraZeneca dalam pra-cetak (belum peer-review) menyatakan kemanjuran vaksin turun dari rata-rata 84 persen terhadap varian asli virus menjadi 75 persen terhadap varian B117. Sementara itu, peneliti dari Cambridge Institute of Therapeutic Immunology & Infectious Disease menemukan bahwa vaksin Pfizer-BioNTech berhasil memberikan perlindungan terhadap varian B117. “Temuan kami menunjukkan vaksin Pfizer-BioNTech kemungkinan menawarkan perlindungan serupa terhadap B117 seperti halnya terhadap strain SARS-CoV-2 sebelumnya.”

    - Elizabeth Mahase dalam publikasinya di The British Medical Journal (BMJ) yang diterbitkan pada 1 Februari 2021 menunjukkan bahwa vaksin Novavax 95,6 persen efektif terhadap varian asli SARS-CoV-2. Sedangkan berdasarkan data awal uji klinis, terhadap varian baru B117, vaksin Novavax bisa memberikan perlindungan sebesar 85,6 persen, dan 60 persen terhadap varian B1351.

    - Peter English, konsultan di Communicable Disease Control, mengatakan Sinovac telah menerbitkan rilis pers yang melaporkan hasil uji coba fase III vaksin Covid-19 buatannya yang disebut CoronaVac. Vaksin ini dibuat dengan metode inactivated virus yang lebih konvensional daripada vaksin berbasis mRNA dan vaksin vektor yang saat ini digunakan di Inggris. Dengan demikian, vaksin Sinovac kemungkinan berisi antigen yang lebih luas, yang secara teori dapat memberikan perlindungan silang yang lebih baik terhadap varian virus.

    - Sarah Gilbert, kepala penyelidik uji coba vaksin Oxford-AstraZeneca berkata kebutuhan akan vaksin baru selalu diharapkan. “Virus Corona kurang rentan atau lebih lambat bermutasi dibandingkan virus influenza. Tapi seiring pandemi yang masih berlanjut, varian baru akan bermunculan dan menjadi dominan sehingga pada akhirnya dibutuhkan vaksin versi baru, dengan protein spike yang diperbarui untuk mempertahankan kemanjuran vaksin pada tingkat setinggi mungkin.”

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    Ilustrasi Twitter. REUTERS/Dado Ruvic

    - Pada 1 Maret 2021, Twitter mengumumkan akan mulai melabeli cuitan yang berisi informasi yang menyesatkan tentang vaksin Covid-19. Label ini bakal menyertakan tautan ke informasi yang relevan dari otoritas resmi. Twitter pun berencana untuk memberlakukan sistem teguran bertingkat bagi pengguna yang berulang kali melanggar kebijakan platform. Pelanggaran berulang bisa membuat akun dikunci hingga diblokir secara permanen.

    - Akun-akun Twitter yang berbasis di Arab Saudi meluncurkan kampanye terkoordinasi untuk mendiskreditkan kesimpulan pejabat intelijen Amerika Serikat pada 26 Februari lalu, bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman “menyetujui” operasi yang menyebabkan terbunuhnya jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018. Salah satu elemen dari kampanye itu diduga menarget audiens AS dengan merespons cuitan dari beberapa media.

    - YouTube baru-baru ini menghapus sebuah video dari kanal milik pengacara mantan Presiden AS Donald Trump, Rudy Giuliani, dan memblokirnya sementara sehingga kanal itu tidak bisa mengunggah video baru. Langkah itu diambil karena kanal Giuliani melanggar kebijakan platform yang melarang pengguna melontarkan tuduhan palsu soal kecurangan dalam Pemilihan Presiden AS.

    - Facebook akan meluncurkan platform barunya yang secara khusus mewadahi produk-produk jurnalisme, Facebook News, di Jerman pada Mei. Tapi salah satu media paling populer di negara itu, Axel Springer, yang menerbitkan surat kabar nasional Die Welt dan tabloid terlaris Bild, menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam platform tersebut karena tawaran “remunerasi yang terlalu rendah” untuk konten beritanya.

    - Hakim federal AS memerintahkan Facebook membayar denda sebesar US$ 650 juta (sekitar Rp 9,3 triliun) terkait sengketa dengan 1,6 juta pengguna di negara bagian Illinois. Kasus itu berawal dari gugatan class action pada 2015, yang melibatkan teknologi pengenalan wajah Facebook dalam fitur penandaan foto. Menurut gugatan tersebut, pemindaian dibuat tanpa persetujuan pengguna dan melanggar aturan terkait privasi di Illinois.

    - Gab, situs yang mewadahi kelompok-kelompok sayap kanan, diretas. Pada 28 Februari malam, organisasi yang serupa dengan WikiLeaks, Distributed Denial of Secrets (DDoSecrets) mengungkap apa yang mereka sebut GabLeaks, kumpulan lebih dari 70 gigabyte data Gab yang mewakili lebih dari 40 juta unggahan pengguna. Data yang diretas juga mencakup unggahan dan pesan grup pribadi serta akun individu, juga kata sandi.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Di tengah pro-kontra terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal, di mana di dalamnya terdapat lampiran yang mengatur investasi minuman keras (miras) di sejumlah provinsi, beredar gambar tangkapan layar sebuah artikel yang berjudul “Jual Minuman Keras Hukumnya Boleh Untuk Membantu Kas Negara”. Artikel itu dilengkapi dengan foto Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Artikel tersebut diklaim berasal dari situs media Kompas.com dan terbit pada 17 Februari 2021.

    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan investasi miras.

    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim itu keliru. Gambar tangkapan layar artikel tersebut merupakan hasil suntingan dari artikel Kompas.com yang berjudul “Wapres Ma’ruf Amin Disuntik Vaksin Covid-19 Sinovac Pagi Ini”. Artikel ini dimuat pada 17 Februari 2021 pukul 08.34 WIB, sama seperti yang terlihat dalam gambar tangkapan layar artikel yang beredar. Di situs-situs media lain pun, tidak ditemukan berita bahwa Ma’ruf pernah menyatakan hal tersebut.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta terhadap beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.