CekFakta #52 Ganasnya "Infodemik" Virus Corona

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pelancong atau pendatang gelisah dengan kebijakan baru Presiden Donald Trump yang melarang mereka yang baru dari 25 negara di Eropa masuk ke Amerika Serikat. Kebijakan ini untuk menekan penyebaran virus corona. Sumber: Reuters

    Para pelancong atau pendatang gelisah dengan kebijakan baru Presiden Donald Trump yang melarang mereka yang baru dari 25 negara di Eropa masuk ke Amerika Serikat. Kebijakan ini untuk menekan penyebaran virus corona. Sumber: Reuters

    • Para ahli menyatakan penyebaran hoaks terkait virus Corona baru, Covid-2019, sama cepat, atau bahkan lebih cepat, ketimbang penyebaran virus itu sendiri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut banjir informasi mengenai virus Corona itu sebagai “infodemik” sehingga kita juga membutuhkan vaksin untuk misinformasi.
    • Sebuah antibiotik baru ditemukan dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Para peneliti mengklaim bahwa obat tersebut lebih ampuh ketimbang antibakteri yang pernah ada sebelumnya. Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan pun diyakini bakal memberikan dampak yang besar bagi dunia kesehatan.

    Halo pembaca Nawala CekFakta Tempo! Apakah Anda masih kerap menemukan informasi yang simpang-siur seputar virus Corona baru, Covid-2019? Memang, banyaknya informasi yang beredar terkait virus yang bermula di Kota Wuhan, Cina, tersebu sering membuat kita bingung bukan kepalang. Ada informasi yang benar, banyak pula yang menyesatkan. Saking banyaknya informasi mengenai virus Corona ini membuat WHO menyebutnya “infodemik”, yakni keadaan di mana kita sulit menemukan sumber yang dapat dipercaya ketika kita membutuhkannya. Anda merasakannya, bukan?

    Apakah Anda menerima nawala edisi 28 Februari 2020 ini dari teman dan bukan dari e-mail Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    GANASNYA “INFODEMIK” VIRUS CORONA  

    Surat elektronik yang berisi informasi palsu terkait virus Corona baru, Covid-2019, menggegerkan warga Ukraina pada akhir pekan lalu. E-mail yang beredar pada 20 Februari 2020 itu, yang diklaim berasal dari Kementerian Kesehatan Ukraina, menyebut ada lima orang di Ukraina yang positif terinfeksi virus Corona. Kenyataannya, hingga kini, belum ditemukan kasus positif virus Corona di Ukraina.

    Akan tetapi karena e-mail itu beredar bersamaan dengan hari mendaratnya warga Ukraina yang dievakuasi dari Cina, protes pecah. Mereka yang diselimuti ketakutan memprotes evakuasi tersebut dan memblokade jalan yang mengarah ke pusat kesehatan. Bahkan, para pemrotes merusak jendela-jendela bus yang membawa warga Ukraina yang dievakuasi.

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sampai harus turun tangan untuk menenangkan demonstran. Warga lebih tenang setelah Pusat Kesehatan Masyarakat Ukraina menyatakan bahwa isu tentang adanya lima warga Ukraina yang terinfeksi virus Corona adalah hoaks. Zelensky mengunggah pernyataan di Facebook bahwa seluruh warga yang dievakuasi baik-baik saja dan bakal dikarantina selama dua pekan untuk pencegahan dan meminta warga tidak memblokade jalan.

    Kasus di atas hanya salah satu contoh dari sekian banyak kepanikan masyarakat akibat hoaks. Penyebaran misinformasi dan disinformasi terkait virus Corona memang dianggap sama cepat, atau malah lebih cepat, ketimbang penyebaran virus itu sendiri. Ratusan hoaks tentang asal-usul dan penularan virus Corona beredar di seluruh platform media sosial. Tak ketinggalan, teori-teori konspirasi jdisebar untuk meningkatkan ketakutan dunia terhadap virus tersebut.

    Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut banjir informasi mengenai virus Corona itu sebagai “infodemik”. Menurut dia, “Hal ini menyulitkan masyarakat menemukan sumber yang dapat dipercaya ketika mereka membutuhkannya.” Salah satu direktur eksekutif WHO, Michael Ryan, mengatakan, “Kita membutuhkan vaksin untuk misinformasi.”

    Menurut dosen Flinders University, Connal Lee, misinformasi dapat menyebarkan ketakutan dan kepanikan yang tak perlu. Saat virus Ebola muncul pada 2014, rumor yang menyebar membuat masyarakat berbondong-bondong membeli stok kebutuhan sehari-hari serta perlengkapan pelindung dari virus Ebola, seperti jas hazmat dan masker.

    Adapun ketika virus Corona muncul, misinformasi memicu stigmatisasi terhadap kelompok yang terinfeksi. Di Australia misalnya, banyak warga Australia beretnis Cina, yang tidak terkait ataupun terpapar virus Corona,melaporkan peningkatan penggunaan istilah anti-Cina. Mereka kerap menerima cacian, baik di jalanan maupun secara online.

    Menurut Carl Bergstrom, profesor University of Washington, ada tiga aktor utama pemicu misinformasi virus Corona. Pertama, seseorang yang mencoba memberi tahu keluarga dan teman mereka tanpa memeriksa informasi tersebut. Kedua, entitas yang bertujuan merusak pemerintah Cina. Ketiga, aktor lama di dunia disinformasi yang menganggap momen ini dapat dimanfaatkan untuk merusak kepercayaan terhadap pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan media.

    Danny Rogers, pendiri Global Disinformation Index, mengatakan sebagian besar penyebaran misinformasi dimotivasi oleh uang. Mereka menarik perhatian publik dengan konten-konten mereka dan kemudian mengambil untung dari menjual ruang iklan. Sebagai contoh, seorang influencer di YouTube dan Twitter berulang kali mempromosikan “Miracle Mineral Solutions”, larutan yang diklaim mampu mengobati kanker, HIV, bahkan infeksi virus Corona.

    Lalu, bagaimana cara menangkis misinformasi soal virus Corona ini? Menurut Connal Lee, pernyataan dari berbagai otoritas resmi mesti konsisten agar tidak membingungkan masyarakat. Tantangannya, soal koordinasi. Pada pertengahan Februari lalu, otoritas kesehatan Cina menyatakan bahwa wabah virus Corona bakal berakhir pada April mendatang. Pernyataan berbeda disampaikan oleh WHO, bahwa ancaman virus itu lebih besar ketimbang terorisme.

    Berbagai otoritas kesehatan pun harus terus mengulangi pesan-pesan utama mereka dalam pencegahan virus Corona, salah satunya soal pentingnya mencuci tangan secara teratur. Pesan-pesan tersebut dapat dengan mudah dilupakan mengingat informasi palsu serta teori konspirasi seringkali lebih menarik bagi kebanyakan orang.

    Peran perusahaan-perusahaan media sosial pun dibutuhkan. Baik Facebook, Twitter, maupun Google harus membantu organisasi kesehatan global dengan memudahkan publik menemukan informasi yang benar mengenai virus Corona. Begitu pula dengan media massa, mereka harus memastikan pasokan informasi yang kredibel bagi masyarakat.

    KECERDASAN BUATAN TEMUKAN ANTIBIOTIK BARU 

    Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) baru-baru ini mengidentifikasi suatu senyawa antibiotik baru dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Obat itu diklaim lebih ampuh dari antibakteri yang pernah ada sebelumnya. Sejumlah pihak pun meyakini pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan bakal memberikan dampak yang besar bagi dunia kesehatan.

    - Tes yang dilakukan oleh para peneliti MIT menunjukkan bahwa obat tersebut mampu memusnahkan sejumlah bakteri yang kebal terhadap antibiotik, termasuk Acinetobacter baumannii dan Enterobacteriaceae. Bakteri-bakteri itu merupakan dua dari tiga patogen prioritas tinggi yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diberi peringkat “kritis”, artinya sangat membutuhkan antibiotik. “Kami ingin mengembangkan platform yang memungkinkan kami memanfaatkan kekuatan kecerdasan buatan untuk menuju era baru penemuan antibiotik,” ujar salah satu peneliti MIT, James Collins.

    - Menurut Collins, dalam beberapa dekade terakhir, sangat sedikit antibiotik baru yang berhasil dikembangkan. Metode screening antibiotik baru sering kali memakan biaya yang tinggi dan waktu yang lama. Para peneliti MIT meyakini model pembelajaran mesin yang mereka gunakan bisa melakukan screening terhadap lebih dari 100 juta senyawa kimia, hanya dalam hitungan hari. Model itu dirancang untuk memilih antibiotik potensial yang dapat membunuh bakteri menggunakan mekanisme yang berbeda dari obat yang ada. Model ini dapat dimanfaatkan untuk merancang obat baru.

    - Asisten Profesor Ilmu Biologi University of Pittsburgh, Jacob Durrant, memuji temuan para peneliti MIT itu. Menurut Durrant, pendekatan yang dipakai dalam menemukan suatu obat, yakni dengan bantuan komputer, sangat brilian. “Tidak mungkin secara fisik menguji lebih dari 100 juta senyawa untuk menemukan sebuah antibiotik. Metode apapun yang mempercepat penemuan obat tahap awal memiliki potensi untuk membuat dampak yang besar,” ujar Durrant.

    - Riset para ahli London College dan Google Health menemukan bahwa teknologi kecerdasan buatan yang memakai model algoritma Google DeepMind lebih akurat menemukan penyakit kanker payudara ketimbang dokter. Dalam penelitian itu, para ahli “melatih” komputer untuk menemukan kelainan pada foto sinar-X dari sekitar 29 ribu wanita. 

    - Kecerdasan buatan di bidang kesehatan mulai dimanfaatkan oleh Badan Kesehatan Inggris. Mereka mengumumkan bakal mengalokasikan dana sebesar 250 juta poundsterling atau sekitar Rp 4,29 triliun untuk membuat laboratorium kecerdasan buatan. Laboratorium ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemeriksaan kanker dengan mempercepat mammogram, pemindaian otak dan mata, serta pemantauan jantung. Laboratorium itu juga memungkinkan dokter memperkirakan kebutuhan obat, alat, dan sebagainya.

    - Bill Gates, pendiri Microsoft, telah berdiskusi dengan peneliti Google tentang penggunaan kecerdasan buatan di industri kesehatan. Menurut Gates, potensi kecerdasan buatan di bidang kesehatan sangat menjanjikan dalam hal diagnosa. “Kami melakukan banyak penelitian terkait analisa ultrasound dan bisa menampilkan hasil tanpa harus melihat gambar janin dan mengetahui jenis kelaminnya. Artinya, kita bisa memberi tahu kondisi bayi tanpa harus memberitahu jenis kelaminnya kepada para orang tua. Ini bisa menghindarkan kita dari pengguguran bayi karena jenis kelaminnya.”

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    - Pengadilan Swiss menyatakan bahwa memberi tanda jempol alias like terhadap ujaran kebencian di media sosial dapat dianggap sebagai tindak kriminal. Menurut pengadilan Swiss, mengaktifkan tombol like dan share di Facebook bisa meningkatkan penyebaran sebuah konten. Sanksi berupa denda pernah dijatuhkan kepada seorang terdakwa yang menyukai unggahan-unggahan yang menuduh aktivis hak binatang sebagai neo-Nazi. Terdakwa tersebut dianggap membantu menyebarkan konten ujaran kebencian.

    - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat, per 25 Februari 2020, terdapat 127 hoaks terkait wabah virus Corona Covid-2019 yang beredar di Indonesia. Berita palsu tersebut kebanyakan menyebar di media sosial. Tapi Menteri Kominfo Johnny G. Plate mengatakan, kementeriannya tidak bisa begitu saja memblokir akun-akun media sosial yang mengunggah hoaks. Menurut dia, pemblokiran itu merupakan kewenangan penyedia jasa internet serta perusahaan media sosial.

    - Asisten Sekretaris Negara Amerika Serikat untuk Eropa dan Eurasia, Philip Reeker, mengatakan bahwa ribuan akun media sosial yang terkait dengan Rusia telah meluncurkan kampanye terkoordinasi untuk menyebarkan kekhawatiran tentang virus Covid-2019. Menurut Reeker, kampanye tersebut mengganggu upaya global untuk memerangi wabah virus Corona. Kampanye tersebut juga dianggap sebagai upaya untuk merusak citra Amerika karena menyebarkan teori konspirasi yang tidak berdasar bahwa Amerika berada di balik wabah virus Corona.

    - Twitter sedang bereksperimen untuk menambahkan label di bawah cuitan tokoh-tokoh publik yang berisi kebohongan ataupun informasi palsu. Menurut Twitter, penambahan label tersebut merupakan salah satu upaya yang mungkin diambil untuk memerangi misinformasi. Informasi palsu yang diunggah oleh tokoh publi akan lansung dikoreksi oleh pemeriksa fakta atau jurnalis yang telah terverifikasi. Belum diketahui kapan Twitter akan meluncurkan fitur baru tersebut.

    - Jurnalis Deutsche Welle, Jordan Wildon, melalui Twitter mengungkapkan bahwa grup WhatsApp tidak seaman yang orang kira. Ia mengunggah gambar tangkapan layar yang memperlihatkan beberapa tautan ke grup WhatsApp muncul di hasil pencarian Google. Diduga, hal itu terjadi karena, ketika pengguna mengirimkan tautan kepada orang lain untuk bergabung dengan grupnya, Google mengindeksnya. Tapi pendapat lain menyatakan, hal itu disebabkan oleh kesalahan konfigurasi yang membuat sekitar 470 ribu tautan undangan grup terindeks oleh Google.

    - Google tengah menghadapi gugatan baru yang diajukan oleh Jaksa Agung New Mexico, Amerika, Hector Balderas karena dituding melanggar privasi para siswa yang menggunakan laptop Chromebook gratis untuk sekolah-sekolah melalui platform G Suite for Education. “Melacak data siswa tanpa persetujuan orang tua tidak hanya ilegal, tapi juga berbahaya. Kami akan meminta pertanggungjawaban perusahaan apa pun yang membahayakan keselamatan anak-anak,” ujar Balderas.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Pada 25 Februari 2020 lalu, banjir kembali menenggelamkan sejumlah titik di Jakarta. Hoaks terkait banjir pun ikut meramaikan perdebatan di media sosial. Saat itu di Facebook dan Twitter beredar foto dan video yang memperlihatkan ada yang sengaja menimbun lubang serapan air agar terjadi banjir. Dalam foto yang viral itu, terlihat sebuah lubang di jalan yang tertutup karung-karung pasir. Juga tampak tiga pria dengan rompi oranye yang sedang menurunkan karung dari truk dan memasukkannya ke sebuah lubang di tepi jalan.

    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Zee Nazheera Tazzahra yang memuat narasi sesat mengenai video dan foto yang diunggahnya.

    Terkait video tiga pria berompi oranye itu, Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Hari Nugroho, menyatakan bahwa lubang dalam video tersebut bukan saluran air, melainkan manhole utilitas. Lubang itu digunakan sebagai saluran pekerjaan umum, seperti jaringan kabel listrik. Sesuai prosedur, karung pasir harus dimasukkan ke manhole sebelum ditutup dengan plat beton. Terkait foto lubang di jalan yang tertutup karung pasir, Hari juga menyatakan bahwa lubang dalam foto itu merupakan manhole utilitas, sama seperti yang terlihat dalam video tadi. Menurut Hari, fungsi karung pasir yang dimasukkan ke manhole utilitas adalah sebagai penahan plat beton. “Kalau ada beban, kendaraan lewat, tidak langsung jeblos ke bawah,” ujar Hari.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta terhadap beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Animal Crossing dan 9 Aplikasi Makin Dicari Saat Wabah Covid-19

    Situs Glimpse melansir peningkatan minat terkait aplikasi selama wabah Covid-19. Salah satu peningkatan pesat terjadi pada pencarian Animal Crossing.