CekFakta #129 Masalah Privasi Masih Membayangi Meta

Reporter:
Editor:

Fitra Moerat Ramadhan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita

    Halo, pembaca nawala Cek Fakta Tempo!

    Rebranding yang dilakukan Facebook Inc. menjadi Meta masih dibayang-bayangi masalah lama jika tak segera diselesaikan. Sejumlah pihak menilai, masalah privasi dan keamanan yang selama ini ada pada Facebook tak akan serta merta hilang meski Facebook telah mengubah identitas menjadi Meta.

    Dalam nawala ini pula, Tempo telah memeriksa sejumlah klaim dan menayangkan hasil pemeriksaan terhadap klaim tadi di kanal Cek Fakta Tempo. Salah satu klaim yang diperiksa adalah klaim tentang ribuan orang di Indonesia meninggal usai divaksin Covid-19.

    Apakah Anda menerima nawala ini dari teman dan bukan dari e-mail Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    ______________________________________________________________________

    Bagian ini ditulis oleh Inge Klara Safitri dari Tempo MediaLab

    Masalah Privasi Masih Membayangi Meta 

    Facebook Inc. resmi berganti nama menjadi Meta Platforms Inc. Keputusan untuk melakukan rebranding menjadi Meta diduga menjadi upaya Facebook memperbaiki citra perusahaan yang terlanjur dipandang buruk. Apalagi, belum lama ini, seorang mantan karyawan Facebook bernama Frances Haugen membocorkan dokumen internal yang mencoreng perusahaan. Dokumen itu mengungkap bahwa media sosial milik Mark Zuckerberg itu sebenarnya mengetahui adanya masalah privasi, keamanan, dan kesehatan, namun memilih untuk tetap bungkam demi mendulang keuntungan.

    Wakil Presiden dan Direktur Riset Forrester, Mike Proulx menilai bahwa perubahan nama yang dilakukan Facebook tidak serta merta menghindari perusahaan itu dari masalah-masalah yang ada sebelumnya. “Jika Meta tidak mengatasi masalah (privasi dan keamanan) dengan serius, tidak diragukan masalah yang sama juga akan menghampiri Metaverse,” ungkap Proulx, seperti dikutip dari CNet, Jumat, 5 November 2021.

    Metaverse adalah istilah yang diciptakan dalam novel dystopian "Snow Crash" tiga dekade lalu dan sekarang menarik perhatian di Silicon Valley. Ini merujuk pada gagasan tentang dunia virtual bersama yang dapat diakses oleh orang-orang yang menggunakan perangkat yang berbeda. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

    Anggota parlemen asal New York, Alexandria Ocasio-Cortez juga berpendapat bahwa Meta berpotensi menjadi ancaman yang buruk bagi institusi negara dan juga penggunanya. “Meta itu seperti ‘kanker bagi demokrasi’ yang bermetastasis menjadi sistem pengawasan global dan mesin propaganda untuk meningkatkan rezim otoriter, menghancurkan masyarakat sipil... demi keuntungan’,” cuit Ocasio-Cortez. Pernyataan tersebut turut diamini oleh dewan pengawas independen konten di Facebook dan Instagram, yakni Oversight Board.

    Oversight Board menilai, rebranding yang dilakukan Zuckerberg tidak dapat menghapuskan fakta bahwa Facebook telah menyebarkan disinformasi dan kebencian melalui platformnya. Proses penyelidikan, regulasi, dan pengawasan independen saat ini sangat diperlukan sebagai bentuk pertanggungjawaban Facebook. 

    Menanggapi banyak kritik, CEO Facebook Mark Zuckerberg membantah pergantian nama dilakukan untuk memperbaiki citra Facebook yang sudah terlanjur jelek. Ia menjelaskan, alasan rebranding perusahaannya antara lain untuk menghindari kebingungan antara Meta dengan nama media sosial Facebook—yang memang ada di bawah Facebook Inc. Ia berharap Metaverse juga bisa menjadi jalan untuk mewujudkan visi lain perusahaannya di masa depan,

    Dalam pidatonya di ajang Connect 2021, Zuckerberg mengaku sangat menyadari risiko yang datang dengan memasuki bidang baru (Metaverse). Apalagi Facebook tidak memiliki rekam jejak yang baik dalam hal melindungi privasi dan keamanan penggunanya, tapi itu tak menyurutkan upayanya untuk mengembangkan masa depan internet.

    “Setiap bab membawa suara baru dan ide-ide baru, tetapi juga tantangan baru, risiko dan gangguan kepentingan yang sudah mapan. Kita harus bekerja sama, dari awal, untuk mewujudkan versi terbaik dari masa depan ini (metaverse),” kata Zuckerberg.


    Waktunya Trivia!

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini yang mungkin luput dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    Pengawas Konsumen AS Meneliti Penggunaan Data Pembayaran Teknologi Besar. Biro Perlindungan Keuangan Konsumen (CFPB) akan memeriksa penanganan data pembayaran perusahaan besar Big-Tech sebagai sarana untuk memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap hal-hal seperti penipuan dan pelanggaran data.

    IDAI Luncurkan Aplikasi Pengawas Tumbuh Kembang Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI menggandeng perusahaan teknologi kesehatan alias healthtech PrimaKu untuk membuat aplikasi memantau tumbuh kembang anak. Melalui platform ini, orang tua nantinya bakal dapat mengetahui kecukupan gizi anak sejak lahir dengan lebih mudah sehingga dapat mencegah stunting alias gizi buruk. 

    Pembuat Spyware Pegasus Masuk Daftar Hitam Amerika. Departemen Perdagangan Amerika Serikat memasukkan perusahaan pembuat spyware Pegasus asal Israel, NSO Group, ke dalam daftar hitam. Departemen Perdagangan telah memerintahkan perusahaan-perusahaan di AS untuk tidak menjual teknologi mereka ke NSO Group.

    CEO Apple Tim Cook berpose dengan MacBook Pro 2021 yang baru saja diluncurkan di Apple Park di Cupertino, California, AS, 18 Oktober 2021. Apple Inc/Handout via REUTERS

    Perubahan Privasi Apple Tercermin dalam Laporan Penghasilan Big Tech. Efek perubahan privasi Apple ke iOs mulai dapat diukur sejak laporan kuartal ketiga keluar. Perubahan privasi Apple membuat pengguna iOS lebih mudah untuk memilih melepaskan diri dari pelacakan iklan yang dipersonalisasi pada aplikasi apa pun. Bagi pemasar, hal ini justru menjadi bencana. Mereka menyebutnya “Adpocalypse”, karena perubahan itu membuat pemasar terancam kehilangan sebagian besar proyeksi pasar.

    Sebuah penelitian menemukan fakta bahwa misinformasi tentang iklim di Facebook meningkat secara substansial. Sebuah laporan yang dirilis pada hari Kamis lalu oleh Real Facebook Oversight Board --sebuah kelompok pengawas independen dan organisasi nirlaba lingkungan Stop Funding Heat, menganalisis kumpulan data lebih dari 195 halaman dan grup Facebook. Hasilnya, para peneliti menemukan sekitar 45.000 posting yang meremehkan atau menyangkal krisis iklim.

    Periksa Fakta Sepekan Ini

    Dalam sepekan terakhir, klaim seputar SARA paling mendominasi. Selain itu, ada pula klaim tidak terbukti soal Taliban yang memenggal pemain voli Afghanistan karena dianggap mengumbar aurat. Buka tautannya ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prosedur dan Syarat Perjalanan selama PPKM Level 3 Nataru

    Pemerintah mengeluarkan syarat dan prosedur perjalanan selama PPKM saat Natal dan Tahun Baru. Perjalanan ke masuk dari luar negeri juga diperketat.