CekFakta #119 Studi Terbaru Kasus Pembekuan Darah dan Vaksinasi Covid-19

Reporter:
Editor:

Fitra Moerat Ramadhan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja cargo melakukan bongkar muat Envirotainer berisi vaksin Covid-19  Sinovac dari badan pesawat Garuda Indonesia setibanya dari Beijing di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin, 6 September 2021. Bahan baku vaksin ini akan dibawa ke Bio Farma Bandung. ANTARA/Muhammad Iqbal

    Pekerja cargo melakukan bongkar muat Envirotainer berisi vaksin Covid-19 Sinovac dari badan pesawat Garuda Indonesia setibanya dari Beijing di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin, 6 September 2021. Bahan baku vaksin ini akan dibawa ke Bio Farma Bandung. ANTARA/Muhammad Iqbal

    Halo pembaca Cek Fakta Tempo!

    Dari dunia digital terdengar kabar bahwa WhatsApp akan menghentikan layanannya pada sejumlah versi sistem operasi. Penyetopan layanan itu berlaku baik pada Android maupun iOS.

    Otoritas perlindungan data pemerintah Jerman menyatakan bahwa ada arus informasi pada aplikasi Zoom yang melanggar aturan negara itu. Otoritas itu kemudian mengeluarkan larangan yang berlaku pula untuk anggota pemerintahan Jerman.

    Kemudian, klaim-klaim yang berkaitan dengan Afghanistan masih menyebar luas. Sejumlah klaim dari negara yang kini dikuasai Taliban itu pun mendominasi artikel pemeriksaan fakta dari  Cek Fakta Tempo.

    Sedangkan kabar perkembangan penanganan wabah Coronavirus Disease 2019, populer dengan sebutan Covid-19, hangat dengan pemberitaan tentang vaksin buatan AstraZeneca. Penggunaan vaksin tersebut sempat tak direkomendasikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehubungan kemunculan kasus pembekuan darah di Eropa setelah penyuntikan. Belakangan, BPOM memperbarui rekomendasi terhadap penggunaan vaksin buatan AstraZeneca itu.

    Apakah Anda menerima nawala ini dari teman dan bukan dari e-mail Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Bagian ini ditulis oleh Siti Aisah, peserta Health Fellowship Tempo yang didukung oleh Facebook.

    Studi Terbaru Kasus Pembekuan Darah dan Vaksinasi Covid-19

    Kasus pembekuan darah akibat vaksin Covid-19 sempat menjadi sorotan publik. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merekomendasikan agar vaksin Covid-19 AstraZeneca tidak digunakan selama proses kajian sehubungan adanya kasus pembekuan darah di Eropa. Di Indonesia, kasus pembekuan darah setelah mendapatkan vaksin AstraZeneca pertama kali dilaporkan pada Maret 2021. Pada akhirnya vaksin tetap digunakan setelah BPOM merilis hasil kajian pada 19 Maret lalu, berdasarkan  pertimbangan BPOM dan pembahasan terkait dampak ini di pertemuan khusus, baik di WHO maupun badan otoritas regulatori obat di Eropa (European Medicines Agency).  Baru-baru ini, temuan di Inggris mengungkap bahwa risiko pembekuan darah lebih besar disebabkan oleh infeksi Covid-19 daripada akibat vaksinasi. 

    Pekerja melakukan bongkar muat Envirotainer berisi vaksin Covid-19 Sinovac dari badan pesawat Garuda Indonesia setibanya dari Beijing di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin, 30 Agustus 2021. ANTARA/Muhammad Iqbal

    • Sebuah studi di Amerika Serikat melaporkan kasus trombositopenia, yakni jumlah trombosit yang sangat rendah setelah vaksinasi SARS-CoV-2 menggunakan Pfizer dan Moderna. Studi tersebut menunjukkan adanya kejadian trombositopenia dalam waktu 2 minggu setelah menerima vaksin Covid-19 berbasis mRNA tersebut. Peneliti melaporkan 19 dari 20 pasien mengalami kejadian trombositopenia setelah vaksinasi, 17 pasien tidak memiliki riwayat trombositopenia sebelumnya dan 14 diantaranya melaporkan gejala perdarahan sebelum rawat inap. Semua pasien dirawat di rumah sakit dan sebagian besar pasien mengalami petekie (bintik-bintik kecil berwarna merah atau ungu), memar, maupun perdarahan mukosa (gusi, per vaginam, epistaxis) antara 1-23 hari. Sebagian pasien yang mengalami trombositopenia memiliki faktor komorbid seperti immune thrombocytopenia purpura (ITP), trombositopenia bawaan, dan penyakit autoimun seperti hipotiroidisme, Penyakit Crohn's, maupun tes positif terhadap antibodi seperti antibodi anti-tiroglobulin.
    • Penelitian lain juga dilakukan untuk menilai gambaran klinis dan laboratorium dari 11 pasien di Jerman dan Austria yang mengalami trombosis atau trombositopenia setelah menerima vaksin AstraZeneca. Penelitian ini mendeteksi antibodi terhadap faktor platelet 4 (PF4)-heparin. Sejak hari ke-5 hingga ke-16 pasca vaksinasi, pasien mengalami minimal satu kejadian trombosis, kecuali pada 1 pasien yang mengalami perdarahan intrakranial yang fatal. Studi menunjukkan vaksin AstraZeneca dapat mengakibatkan insiden langka dari trombositopenia imun yang diperantarai oleh antibodi pemicu platelet terhadap PF4, yang secara klinis meniru trombositopenia yang diinduksi heparin.
    • Vaccine-induced immune thrombotic thrombocytopenia (VITT) merupakan suatu kondisi yang mengancam jiwa dan misterius yang mempengaruhi sejumlah kecil orang yang telah menerima vaksin Covid-19 AstraZeneca atau Johnson & Johnson. Saat ini diperkirakan VITT terjadi pada sekitar 1 dari 50.000 orang berusia di bawah 50 tahun penerima vaksin AstraZeneca. Selain keterbatasan dalam mendapatkan sampel yang telah didiagnosis VITT, hanya sedikit laboratorium yang mempelajari hal ini. John Kelton, ahli hematologi di McMaster University di Hamilton, Kanada menyampaikan sekitar dua pertiga dari sampel yang diterima timnya sama sekali tidak memiliki antibodi PF4, yakni protein yang diproduksi oleh trombosit untuk meningkatkan pembekuan darah. Ini menunjukkan bahwa pasien tidak memiliki VITT, tetapi masih mengembangkan gangguan pembekuan darah yang mungkin tidak terkait dengan vaksinasi mereka, kata Kelton. Peneliti mengkarakterisasi antibodi dalam 5 sampel dan menemukan bahwa beberapa antibodi mengikat PF4 di tempat yang sama dengan yang digunakan oleh heparin, dan juga mampu mengaktifkan trombosit.
    • Analisis terbaru untuk risiko pendarahan autoimun ITP (immune thrombocytopenic purpura) dilakukan terhadap mereka yang telah menerima dosis pertama vaksin AstraZeneca maupun Pfizer.  Namun risiko yang meningkat ditemukan di antara penerima vaksin AstraZeneca. Tim peneliti menguji kasus-kasus pendarahan pasca vaksinasi di antara 2,53 juta orang dewasa di Skotlandia yang telah menerima suntikan pertama vaksin Covid-19 antara Desember 2020 hingga April 2021. Angka kejadiannya diperkirakan 11 kasus untuk setiap sejuta penerima dosis pertama vaksin itu. Tim peneliti  menekankan bahwa temuan ini harus dipahami dalam konteks manfaat vaksin AstraZeneca. Risiko berkembangnya kejadian ikutan yang serius tetap jauh di bawah risiko infeksi berat atau bahkan kematian dari Covid-19 jika tidak dilakukan vaksinasi. 
    • Menurut sebuah penelitian besar di Inggris, pasien yang terinfeksi Covid-19 menghadapi risiko mengalami pembekuan darah yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang divaksinasi dengan suntikan AstraZeneca atau Pfizer. Setiap 10 juta orang yang menerima dosis pertama vaksin AstraZeneca, sekitar 66 atau lebih akan menderita sindrom pembekuan darah, menurut penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal. Studi ini melibatkan 29 juta orang yang menerima dosis pertama vaksin AstraZeneca atau Pfizer antara Desember 2020 sampai April 2021 dan juga melacak sekitar 1,7 juta pasien Covid-19. Para peneliti mengamati bahwa orang yang tertular virus hampir sembilan kali lebih mungkin memiliki tingkat trombosit yang rendah dibandingkan dengan orang yang divaksinasi dengan dosis pertama.
    • Julia Hippisley-Cox, profesor epidemiologi klinis dan dokter umum di Universitas Oxford serta penulis utama pada studi tersebut mengatakan, “Orang-orang harus menyadari peningkatan risiko ini setelah vaksinasi Covid-19 dan segera mencari bantuan medis jika mereka mengalami gejala, tetapi juga menyadari bahwa risikonya jauh lebih tinggi dan dalam jangka waktu yang lebih lama jika mereka terinfeksi SARS-CoV-2. Menurut pemerintah Inggris, gejala yang harus diwaspadai termasuk sakit kepala parah yang tidak reda dengan obat penghilang rasa sakit biasa, sakit kepala yang semakin memburuk saat berbaring atau membungkuk, memar atau pendarahan akibat tusukan jarum, sesak napas dan kaki bengkak. 

    Bagian ini ditulis oleh Inge Klara Safitri dari Tempo Media Lab

    Waktunya Trivia!

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    Ilustrasi WhatsApp. (cdn.kalingatv.com)

    WhatsApp akan menghentikan layanannya untuk sejumlah device, baik perangkat dengan sistem operasi Android maupun iOS mulai November mendatang. Secara umum, perangkat yang tidak dapat mengakses WhatsApp adalah perangkat dengan sistem operasi Android 4.0.3 atau lebih rendah. Sedangkan untuk perangkat dengan iOS, penyetopan akan diberlakukan pada versi 9 atau lebih lama.

    Perusahaan intelijen IntSights menganalisis forum bawah tanah kejahatan dunia maya dan menemukan bahwa beberapa pelaku lebih suka menjual akses jaringan ke pihak ketiga daripada mengeksploitasi jaringan itu sendiri. 

    Ilustrasi aplikasi Zoom. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration


    Otoritas perlindungan data (DPA) Jerman telah menetapkan bahwa transfer data Zoom ke Amerika Serikat melanggar ketentuan Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) sehubungan dengan keputusan Schrems. Otoritas utama itu telah mengeluarkan pula peringatan resmi kepada anggota pemerintah negara bagian untuk menghentikan penggunaan platform konferensi video populer tersebut.

    FBI telah mengeluarkan peringatan kepada perusahaan terkait varian ransomware baru yang semakin produktif yang dikenal sebagai Hive. Peringatan Flash yang diposting minggu ini mencatat bahwa ransomware berbasis afiliasi menggunakan beberapa mekanisme untuk membahayakan jaringan perusahaan, sehingga menyulitkan para pembela HAM untuk menguranginya. Termasuk email phishing dengan lampiran berbahaya untuk mendapatkan akses awal dan pembajakan Remote Desktop Protocol (RDP) untuk bergerak secara lateral. 

    Seorang Doktor mengeluarkan serangkaian klaim palsu terkait virus corona di sebuah sekolah di Indiana Tengah. Dr. Daniel Stock menyatakan bahwa lonjakan kasus baru-baru ini menunjukkan bahwa vaksin tidak efektif, bahwa orang lebih baik dengan campuran obat-obatan dan suplemen untuk mencegah rawat inap dari virus, dan bahwa masker tidak membantu mencegah penyebaran infeksi. 


    Periksa Fakta Sepekan Ini

    Baru-baru ini, klaim seputar sejumlah peristiwa yang terjadi di Afghanistan dan kelompok nasionalis Taliban mendominasi kanal Cek Fakta Tempo. Klaim-klaim ini beredar setelah Taliban menguasai kembali Ibu Kota Kabul sejak 15 Agustus 2021.

    Selain itu, klaim-klaim terkait Covid-19 juga masih ditemukan. Buka tautannya ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Afghanistan

    Kesehatan

    Lain-lain

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.


    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.