CekFakta #47 Pseudosains yang Merajai Media Sosial

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi sains. shutterstock.com

    Ilustrasi sains. shutterstock.com

    • Sebuah polling daring menunjukkan bahwa kaum antivaksin merupakan salah satu kelompok yang paling dibenci oleh warganet dalam dekade terakhir. Gerakan kaum ini memang tumbuh subur, dan salah satu penyebabnya adalah masifnya peredaran pseudosains di dunia maya. Bagaimana cara mengenali pseudosains dan mengapa orang percaya pada ilmu semu tersebut?
    • Sejumlah pakar teknologi meyakini serangan siber bakal semakin cerdas pada 2020. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan akan dimanfaatkan oleh para peretas untuk menciptakan perangkat lunak jahat yang lebih berbahaya. Mengapa? Karena, dengan kecerdasannya, perangkat lunak ini bakal selalu memperbaiki kelemahannya.

    Selamat hari Jumat, pembaca Nawala CekFakta Tempo! Anda pasti pernah mendengar klaim “vaksin menyebabkan autisme” atau “bumi itu datar”. Apakah Anda percaya dengan klaim-klaim itu? Berhati-hatilah, sebab, berbagai informasi yang sebenarnya berbau pseudosains itu banyak berseliweran di dunia maya. Apa itu pseudosains? Singkatnya, pseudosains adalah informasi yang terkesan ilmiah, tapi sebenarnya tidak didasarkan pada bukti-bukti ilmiah. Mirisnya, banyak orang yang masih percaya dengan informasi-informasi semacam itu. Kok bisa mereka mengabaikan pengetahuan yang valid, yang sudah dipelajari sejak SD? Simak penjelasan dari berbagai ahli yang saya rangkum di bawah.

    Apakah Anda menerima nawala edisi 24 Januari 2020 ini dari teman dan bukan dari e-mail Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    PSEUDOSAINS YANG MERAJAI DUNIA MAYA

      

    Tahukah Anda jika kaum antivaksin adalah salah satu kelompok yang paling dibenci oleh warganet selama satu dekade terakhir? Setidaknya, hasil polling daring oleh Vice yang diterbitkan pada akhir 2019 lalu berkata demikian. Menurut Vice, “Kalau yang dicari adalah tren paling buruk, menyebalkan, dan semua atribut tak menyenangkan lainnya, maka juara selama 10 tahun terakhir adalah: kaum antivaksin.”

    Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan antivaksin memang marak di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Lewat media sosial, penyebaran narasi-narasi sesat seputar vaksin, yang mencampuradukkan sains dengan agama, termasuk teori konspirasi, semakin masif. Kaum antivaksin pun dianggap ikut bertanggung jawab atas kembali mewabahnya campak, difteri, serta polio di beberapa negara. Sampai-sampai, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan kaum antivaksin dalam daftar ancaman terbesar kesehatan global sepanjang 2019.

    Dokter Spesialis Anak Konsultan, Mururul Aisyi, juga pernah menuturkan bahwa tingginya kasus difteri di Indonesia salah satunya disebabkan oleh resistensi terhadap program imunisasi dan gerakan antivaksin. Populernya gerakan itu, menurut dia, salah satunya diakibatkan oleh beredarnya pseudosains. “Kemudahan mengakses informasi tidak serta-merta membuat publik cerdas,” ujar Mururul pada Desember 2017 silam.

    Mururul mengatakan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih informasi yang bersifat sains atau yang bersifat pseudosains. Anda tentu sudah tahu apa arti sains. Nah, pseudosains bukanlah salah satu cabang sains, melainkan praktik-praktik yang seolah ilmiah, namun sebenarnya merupakan metode yang asal-asalan dalam menyambungkan fakta.

    Bagaimana cara mengenali sebuah informasi yang bersifat pseudosains? Menurut Mururul, salah satu ciri pseudosains adalah “too good to be true”. Misalnya, satu jenis obat diklaim bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ciri lainnya, “all-natural fallacy” atau pemahaman bahwa sesuatu yang alami selalu aman dan sesuatu yang sintetis selalu buruk, juga testimoni yang berusaha meyakinkan bahwa mereka memiliki penjelasan ilmiah atas sebuah peristiwa atau “it worked for me”, serta “suppressed miracle”.

    Bahaya Merebaknya Pseudosains

    Direktur Riset Institut Hukum Kesehatan Universitas Alberta Kanada, Timothy Caulfield, mengatakan terlalu banyak misinformasi yang beredar dalam budaya populer saat ini. Bahaya misinformasi ini, kata Caulfield, berpotensi mengancam dunia kesehatan ketika para selebritas yang percaya pseudosains mendominasi wacana publik.

    Tak hanya dunia kesehatan, masalah lingkungan pun bisa-bisa tak lagi menjadi agenda penting untuk diselesaikan gara-gara pseudosains. Sebut saja Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara terang-terangan bersikap skeptis, bahkan tidak percaya pada perubahan iklim. Keyakinan inilah yang kemudian membuat Trump menarik AS dari perjanjian Paris tentang mitigasi dampak perubahan iklim pada 2017 lalu.

    Sebenarnya, apa yang membuat seseorang percaya pada informasi-informasi yang mungkin berasal dari “pakar” yang tidak jelas rekam jejaknya itu? Sebuah studi oleh kelompok peneliti Massachusetts Institute of Technology menemukan bahwa kebohongan menyebar lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam, dan lebih luas dibandingkan kebenaran. Sementara riset terhadap kaum antivaksin oleh peneliti New York University School of Medicine menyatakan kepercayaan terhadap teori konspirasi dan mitos kesehatan yang berbahaya cenderung meningkat.

    Menurut dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Rizqy Amelia Zein, beberapa riset psikologi sosial mengaitkan science denialism dengan kepercayaan terhadap teori konspirasi, pandangan bahwa sains mengandung ancaman moral hingga ideologi politik. “Individu yang memiliki kapasitas berpikir analitik yang kurang memadai dan rasa percaya yang rendah pada otoritas dan institusi sosial, cenderung mudah mempercayai pseudosains dan mengandalkan teori konspirasi dalam memperoleh penjelasan mengenai hal-hal yang kompleks,” katanya.

    Para pencipta pseudosains memang cerdik memanfaatkan efek Dunning-Kruger, “ketidaktahuan menghasilkan kepercayaan diri”. Artinya, semakin sedikit Anda tahu, semakin besar kemungkinan Anda menganggap diri Anda seorang ahli. Pernahkah Anda merasa komentar Anda terhadap sebuah unggahan di media sosial sebagai komentar tercerdas yang pernah ada? Jika ya, besar kemungkinan Anda mengalami efek Dunning-Kruger. Berhati-hatilah, di atas langit masih ada langit.

    CERDASNYA SERANGAN SIBER PADA 2020

    Ancaman serangan siber pada 2020 diyakini akan membawa masyarakat dunia ke level yang baru. Sejumlah proyeksi dari beberapa ahli keamanan siber menyatakan bahwa, mulai tahun ini, para peretas bakal semakin memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Serangan siber dengan mengandalkan teknologi AI ini disebut lebih berbahaya karena bisa menganalisis titik lemah sasarannya.

    - Lembaga penelitian keamanan siber CISSReC Indonesia memprediksi, pada 2020, perkembangan teknologi AI tidak hanya terjadi di dunia industri serta birokrasi. Peretas juga akan mengembangkan teknologi AI untuk melahirkan perangkat lunak jahat atau malicious software (malware) yang mampu melakukan belajar secara mandiri dan pada akhirnya menambah peluang keberhasilan serangan. Dengan teknologi AI, malware bakal selalu memperbaiki kelemahannya.

    - Menurut pakar keamanan siber Pratama Persadha, tahun ini, masyarakat akan semakin dipusingkan oleh serangan yang menyasar aplikasi populer, seperti dalam kasus akun GoPay milik musisi Maia Estianty. Dia menambahkan, celah keamanan tidak selalu soal sistem, baik pada situs, aplikasi, maupun jaringan, melainkan juga soal minimnya pengetahuan korban. “Paling banyak adalah kejadian menjebol akun dengan meminta one-time password lewat SMS maupun telepon. Ini merupakan praktek social engineering,” kata Pratama.

    - Data perusahaan keamanan siber Kaspersky menunjukkan, sepanjang 2019, tercatat 14 juta upaya phising terhadap pengguna internet di Asia Tenggara. Indonesia menempati posisi ketiga dengan persentase sebesar 14,31 persen. Phising merupakan modus penipuan dengan mengelabui korban untuk mencuri akunnya. Istilah phising berasal dari kata fishing, memancing korban untuk terperangkap dalam jebakan pelaku.

    - Gelaran Pilkada Serentak 2020 pun berpotensi terancam oleh serangan siber. Menurut Pratama, teknologi AI bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian dan hoaks. Saat ini, tengah berkembang deepfake, konten manipulasi berupa video atau audio yang diciptakan dengan teknologi AI. Dengan deepfake, video seseorang bisa diedit sehingga dia tampak  mengatakan suatu hal yang sebenarnya tidak pernah dikatakannya. “Ini harus diwaspadai sejak dini karena rawan memecah belah masyarakat bawah,” ujar Pratama.

    - Perusahaan layanan teknologi Nippon Telegraph and Telephone (NTT) Indonesia juga memprediksi serangan siber dengan bot yang dilengkapi teknologi AI akan semakin masif pada 2020. Serangan ini disebut lebih berbahaya karena bisa menganalisis titik lemah sasarannya. “Mana yang make sense untuk diserang, dia bisa tahu,” kata CEO NTT Indonesia, Hendra Lesmana.

    - Hendra memperkirakan serangan siber yang paling masif terjadi pada 2020 adalah ransomware, salah satu jenis malware. Ketika terserang ransomware, data korban akan terkunci dan, ketika ingin data itu kembali, korban harus membayar tebusan. Sektor yang diprediksi akan menjadi sasaran serangan ini adalah sektor finansial, seperti bank dan lembaga keuangan lainnya. Adapun serangan siber jenis cryptojacking bakal menurun karena nilai mata uang digital juga turun.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    - Investigasi BBC menemukan bahwa iklan di Twitter dapat ditargetkan ke pengguna yang menunjukkan minatnya pada “neo-Nazi”, “supremasi kulit putih”, “islamofobia”, “homofobia”, “anti-gay, dan sebagainya. Organisasi anti-ekstremisme, Hope Not Hate, menyatakan kekhawatirannya bahwa iklan-iklan di Twitter bisa menjadi alat propaganda bagi kelompok-kelompok tersebut. Twitter pun telah meminta maaf atas hal itu dan menyatakan akan segera memperbaikinya.

    - Facebook digugat oleh empat perusahaan teknologi atas dugaan telah melakukan tindakan anti-kompetisi. Penggugat meminta hakim untuk memerintahkan bos Facebook, Mark Zuckerberg, mundur serta menjual WhatsApp dan Instagram. Empat perusahaan itu menggambarkan operasi Facebook sebagai salah satu praktek monopoli terbesar di AS. Facebook menanggapi gugatan itu dengan menyatakan bahwa mereka beroperasi dalam lingkungan yang kompetitif di mana setiap orang serta pengiklan memiliki banyak pilihan.

    - WhatsApp menunda rencananya untuk memasukkan iklan ke dalam aplikasinya. Anak perusahaan Facebook ini telah membubarkan tim yang secara khusus dibentuk untuk mengintegrasikan layanan iklan ke dalam platformnya. Facebook memang maju-mundur dalam memonetisasi WhatsApp. Sebelumnya, Facebook sempat berwacana untuk menerapkan WhatsApp berbayar bagi pengguna yang ingin aplikasinya bersih dari iklan. Rencana ini membuat Zuckerberg berselisih paham dengan pendiri WhatsApp, Brian Acton dan Jan Koum.

    - Instagram menghapus label “keliru” dari foto Death Valley di California, Amerika Serikat, yang diedit menjadi berwarna-warni pada 15 Januari 2020. Sebelumnya, label penanda hoaks tersebut disematkan oleh salah satu organisasi pemeriksa fakta, NewsMobile. Penghapusan label itu dilakukan setelah warganet melancarkan protes dan menyatakan bahwa foto editan itu adalah karya seni digital. Menurut mereka, label tersebut tidak seharusnya disematkan pada sebuah karya seni.

    - Peneliti vpnMentor menemukan ribuan data pribadi model porno sebuah situs dewasa, P***Cash, yang tercecer. Rinciannya, sekitar 4 ribu data model film dewasa berupa nama lengkap, alamat, kartu kredit, paspor, sidik jari, dan nomor jaminan sosial. Situs tersebut memang menyimpan catatan sensitif model-model itu dalam basis datanya, namun tanpa jaminan dan tidak terenkripsi. Basis data tersebut berisi sekitar 875 ribu dokumen yang tidak terenkripsi, dengan ukuran hampir 20 gigabita. Dokumen lain yang bocor adalah tulisan tangan model-model itu, yang menceritakan hal-hal favorit mereka, bahkan preferensi dan fantasi seksualnya.

    - Kaspersky mendeteksi lebih dari 24 juta serangan siber Juice Jacking terjadi di Indonesia sepanjang Oktober-Desember 2019. Juice Jacking merupakan serangan siber secara offline yang biasanya dilakukan melalui port USB di stasiun pengisian daya baterai ponsel, seperti di bandara atau stasiun kereta. Jumlah itu menempatkan Indonesia pada posisi rawan ke-70 di seluruh dunia. Sementara itu, peringkat lima teratas diduduki oleh Afghanistan, Aljazair, Etiopia, Myanmar, dan Nepal.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Informasi tentang bahaya mengkonsumsi bubble tea, minuman asal Taiwan yang terbuat dari teh dan susu, beredar di WhatsApp dan Facebook dalam beberapa hari terakhir. Informasi itu menyebar bersama video seorang petugas medis yang sedang menunjukkan kantong empedu hasil operasinya. Saat kantong empedu itu diiris, banyak butiran padat berwarna hitam yang keluar. Butiran itu diklaim sebagai boba, isian bubble tea yang terbuat dari tepung tapioka, yang tidak bisa dicerna.

    Berdasarkan penelusuran Tempo, informasi itu menyesatkan. Video tersebut adalah video milik dokter bedah Amerika Serikat, Kenichi Miyata. Dalam unggahannya di Instagram pada 9 Januari 2020, Miyata memang menuliskan keterangan “bag of boba”. Namun, ia juga menambahkan tagar gallbladder surgery (operasi kantong empedu) dan gallstones (batu empedu). Sayangnya, banyak warganet yang menelan mentah-mentah keterangan “bag of boba” yang ditulis Miyata sehingga menyebarkan kembali video itu dengan narasi yang keliru.

    Viralnya video itu dengan informasi yang salah membuat Miyata memberikan klarifikasi. Dalam video klarifikasinya pada 21 Januari 2020, Miyata mengatakan bahwa ia menuliskan keterangan “bag of boba” karena butiran hitam itu terlihat seperti boba. Sebenarnya, butiran tersebut adalah batu empedu. Miyata pun menyatakan bahwa kantong empedu sangat mustahil terisi dengan boba. Sebab, pencernaan makanan berada dalam saluran yang berbeda dengan empedu.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta terhadap beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Animal Crossing dan 9 Aplikasi Makin Dicari Saat Wabah Covid-19

    Situs Glimpse melansir peningkatan minat terkait aplikasi selama wabah Covid-19. Salah satu peningkatan pesat terjadi pada pencarian Animal Crossing.