CekFakta #91 Cuitan Trump & Serangan di US Capitol

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah ilustrasi foto menunjukkan akun Twitter Presiden AS Donald Trump yang diblokir pada ponsel cerdas di White House, Washington, AS, 8 Januari 2021. witter mencatat, pada 8 Januari, Trump mengunggah cuitan

    Sebuah ilustrasi foto menunjukkan akun Twitter Presiden AS Donald Trump yang diblokir pada ponsel cerdas di White House, Washington, AS, 8 Januari 2021. witter mencatat, pada 8 Januari, Trump mengunggah cuitan "75.000.000 Patriot Amerika yang hebat yang memilih saya, AMERICA FIRST, dan MAKE AMERICA GREAT AGAIN, akan memiliki GIANT VOICE di masa depan. Mereka tidak akan dihormati atau diperlakukan tidak adil dengan cara, bentuk, atau bentuk apa pun!!!" REUTERS/Joshua Roberts

    • Para pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerbu US Capitol pada 6 Januari 2021. Serangan ini disebut sebagai klimaks dari kampanye Trump yang dipenuhi klaim tak berdasar tentang kecurangan pemilu. Di tengah kerusuhan itu, raksasa-raksasa media sosial memutuskan memblokir sementara akun Trump karena terus menyerukan teori konspirasi tentang pemilu dan menghasut kekerasan.
    • Telah setahun lamanya SARS-CoV-2, virus Corona baru penyebab Covid-19, muncul. Pengembangan vaksin pun telah menunjukkan hasilnya. Dalam sebulan terakhir, sejumlah vaksin Covid-19 telah mendapatkan izin penggunaan darurat di beberapa negara. Yang mengkhawatirkan, semakin banyak pula hoaks terkait vaksin Covid-19 berseliweran di lini masa pengguna media sosial.

    Halo pembaca nawala CekFakta Tempo! Pekan ini, linimasa media sosial ramai dengan pembicaraan terkait serangan US Capitol di Washington DC, Amerika Serikat, oleh para pendukung Presiden Donald Trump. Banyak pihak menilai serangan itu dipicu cuitan-cuitan Trump yang berulang kali menyerukan ada kecurangan dalam Pemilu AS 2020. Omongan Trump disebut sebagai perusak demokrasi, dan perusahaan media sosial didesak menyingkirkan Trump dari platform mereka.

    Apakah Anda menerima nawala edisi 8 Januari 2021 ini dari teman dan bukan dari e-mail Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    CUITAN TRUMP & SERANGAN DI US CAPITOL

    Pergolakan kembali terjadi di Amerika Serikat. Pada 6 Januari 202 para pengunjuk rasa pendukung Presiden AS Donald Trump, yang kalah dalam pemilu pada 3 November 2020 dari Joe Biden, menyerbu gedung parlemen US Capitol di Washington DC. Mereka membongkar barikade dan bentrok dengan polisi di halaman, lalu merangsek ke dalam gedung, saat anggota parlemen bertemu untuk secara resmi menyatakan kemenangan Biden.

    Menurut The New York Times, demonstrasi itu adalah klimaks dari kampanye Trump  selama berminggu-minggu, yang penuh dengan klaim dan kebohongan tidak berdasar untuk membatalkan hasil pemilu. “Ini karena keangkuhan seorang pria egois yang terluka, serta kemarahan pendukung yang ia jejali misinformasi selama dua bulan terakhir, yang digerakkan untuk bertindak pagi ini,” ujar Mitt Romney, senator asal Utah—calon Presiden AS dalam Pemilu 2012 yang diusung oleh Partai Republik, partai Trump. “Apa yang terjadi hari ini adalah pemberontakan yang dihasut oleh Presiden AS.”

    Sejak hari pemungutan suara pada 3 November 2020, Trump memang berulang kali menyerukan klaim yang tidak berdasar, bahwa Partai Demokrat mencoba mencuri Pemilu AS. Sepanjang 3-5 November 2020, sedikitnya enam cuitan Trump disembunyikan Twitter karena “kemungkinan mengandung klaim yang menyesatkan tentang pemilu”. Tuduhan itu membuat para politikus Partai Demokrat bersuara agar akun Twitter Trump ditangguhkan hingga hasil pemilu diumumkan.

    Baru dua bulan kemudian tuntutan itu dikabulkan, setelah terjadinya kekerasan. Pada 6 Januari 2021 malam, di tengah kericuhan yang terjadi di US Capitol, Twitter menangguhkan akun Trump untuk pertama kalinya. Dilansir dari The Washington Post, penangguhan itu berlangsung selama 12 jam. Twitter juga menghapus tiga cuitan Trump. Tak lama setelah penangguhan 12 jam ini selesai, pada 8 Januari kemarin, Twitter akhirnya menangguhkan secara permanen akun Trump.

    Langkah yang sama diambil Facebook. Facebook memblokir akun Trump untuk pertama kalinya karena dua pelanggaran kebijakan, meskipun perusahaan milik Mark Zuckerberg ini tidak memberikan ancaman tentang penangguhan permanen. Selain akun Facebook, akun Instagram Trump juga diblokir. Instagram merupakan anak perusahaan Facebook. Belakangan, Zuckerberg menyatakan akun Trump ditangguhkan hingga batas waktu yang tidak ditentukan atau setidaknya hingga masa jabatannya selesai pada 20 Januari mendatang.

    YouTube, anak perusahaan Google, juga menghapus video Trump yang membahas serangan massa ke US Capitol, karena dia mengulangi informasi palsu tentang hasil pemilu. Dalam video itu, yang diunggah pula ke Twitter dan Facebook, Trump terus mengklaim bahwa Pemilu AS telah dicuri. Dia memang memakai video tersebut untuk meminta para demonstran “pulang” beberapa jam setelah serangan. Tapi Trump tidak mencela kerusuhan yang terjadi.

    Seorang pendukung Presiden AS Donald Trump memegang poster "Don Wayne" di dekat Gedung Capitol AS di Washington, AS, Rabu, 6 Januari 2021. Hannah Gaber/USA TODAY via REUTERS

    Meskipun platform media sosial telah mengambil tindakan, kata-kata Trump terlanjur bergema jauh. Para pendukung Trump yang berada di platform-platform kecil telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memikirkan apa yang mereka sebut “perang saudara kedua” melawan Partai Demokrat dan “deep state”. Banyak yang mendorong QAnon dan teori konspirasi lainnya bahwa pemberontakan pasukan militer rahasia atau milisi sipil dapat membantu mengamankan kepresidenan Trump.

    Penyerbuan US Capitol menyebabkan banyak banyak dari antara akun-akun tersebut merayakan dan menyerukan kekerasan lebih lanjut. Ketika gambar-gambar kerusuhan muncul di televisi, forum pro-Trump TheDonald.win mengadakan “pesta menonton” online, dengan ribuan orang memberikan komentar terkait serangan itu. “Inilah mengapa Trump memanggil kita ke DC hari ini! Serbu Capitol!” demikian bunyi salah satu komentar yang ditulis pendukung Trump.

    Sama seperti Romney, Joan Donovan, direktur penelitian Shorenstein Center on Media, Politics, and Public Policy di Harvard Kennedy School, mengatakan kericuhan di US Capitol terjadi setelah menumpuknya kegelisahan para pendukung Trump selama berminggu-minggu. Mereka menjajakan gagasan bahwa mereka perlu menghentikan pencurian dan mengganggu upaya penghitungan suara secara nasional. “Ini adalah konsekuensi dari menyerukan protes yang sangat liar, yang akan menyebabkan kerusakan serius,” ujar Donovan.

    Casey Newton, penulis teknologi The Verge dan pendiri Platformer News, berkata, “Ini saatnya Facebook, Twitter, dan YouTube menghapus Trump.” Menurut dia, seruan agar platform menghapus Trump telah menggelora selama bertahun-tahun. Trump dinilai telah menyalahgunakan Twitter untuk menebar ancaman soal perang nuklir, menyerang warga biasa, dan merusak pemilu sejak ia berkampanye pada 2016. “Twitter telah membantu dan mendukungnya selama bertahun-tahun, menempatkannya dalam daftar pengguna yang direkomendasikan bahkan ketika dia mempromosikan konspirasi dan menyebarkan kebohongan rasis.”

    Menurut laporan NPR, banyak pemimpin dunia, termasuk Trump, memang menikmati kebebasan yang lebih besar dari pengguna biasa untuk berbagi narasi di Facebook dan Twitter, karena platform tersebut menganggap omongan mereka sebagai pidato politik yang memiliki nilai bagi publik. Tapi para pengkritik mengatakan kebijakan itu telah memungkinkan Trump mengubah konspirasi menjadi hal yang viral.

    Frank Pallone, anggota parlemen asal New Jersey dari Partai Demokrat, menyatakan, “Trump menyerukan kekerasan dan menyebarkan misinformasi yang merusak demokrasi dan cara hidup kita. Media sosial terus memperkuat retorika anti-demokrasi Trump.” Ia menambahkan bahwa sudah waktunya Twitter dan Facebook menyingkirkan Trump dari platform mereka.

    CEO Anti-Defamation League, Jonathan Greenblatt, mengatakan pemberontakan di US Capitol yang dilakukan oleh para pendukung Trump adalah akibat langsung dari ketakutan dan disinformasi yang telah disebarluaskan oleh perusahaan media sosial. “Perusahaan media sosial harus menangguhkan akunnya secepat mungkin seperti yang akan mereka lakukan untuk orang lain yang menyebarkan disinformasi dan mempromosikan kekerasan. Sudah waktunya.”

    ISU SESAT VAKSIN COVID-19

    Bagian ini ditulis oleh Siti Aisah, peserta Health Fellowship Tempo yang didukung oleh Facebook.

    Setahun sudah dunia berkutat dengan virus Corona. Sejak SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19, muncul, berbagai pihak mulai bergerak dan berlomba-lomba untuk mencari vaksinnya. Beberapa bulan berselang, sejumlah vaksin Covid-19 mulai mendapatkan izin penggunaan darurat. Namun, seiring dengan semakin banyaknya vaksin yang diperbolehkan beredar, semakin banyak pula hoaks terkait vaksin yang berseliweran di lini masa media sosial.

    Petugas menunjukan contoh vaksin Covid-19 Sinovac dan Bio Farma di pusat produksi, pengemasan, dan distribusi vaksin Covid-19 Bio Farma Bandung, Jawa Barat, 7 Januari 2021. TEMPO/Prima Mulia

    - Salah satu isu yang baru-baru ini ramai didiskusikan adalah bahwa sebanyak 240 warga Israel terinfeksi Covid-19 setelah menerima vaksin Pfizer. Banyak orang kemudian buru-buru menyimpulkan bahwa vaksin itu tidak manjur. Padahal, infeksi memang masih bisa terjadi karena tubuh butuh waktu untuk mengembangkan antibodi dari vaksin sehingga efektif melawan virus. Riset vaksin Pfizer pun menunjukkan kekebalan terhadap virus baru terjadi sekitar 8-10 hari setelah suntikan pertama dan mencapai potensi penuh setelah suntikan kedua.

    - Christian Ramers, pakar penyakit menular dari Pusat Kesehatan Keluarga San Diego, Amerika Serikat, mengatakan butuh 10-14 hari bagi seseorang untuk mengembangkan proteksi setelah menerima vaksin. Vaksin Pfizer perlu diberikan dua kali, karena suntikan pertama menawarkan sekitar 50 persen perlindungan dari Covid-19, dan suntikan kedua merupakan penguat atau booster sehingga perlindungan meningkat hingga 95 persen.

    - Menurut otoritas kesehatan Israel, data menunjukkan bahwa mayoritas penerima vaksin Covid-19 tidak mengalami efek samping, meskipun beberapa orang dilaporkan harus menerima tindakan medis karena merasa lemah, pusing, demam, dan diare. Media di Israel juga melaporkan ada empat orang yang meninggal setelah menerima vaksin. Tapi tiga kematian tidak terkait dengan vaksin. Sementara kasus kematian keempat masih diinvestigasi.

    - Isu lain yang juga ramai beredar adalah bahwa vaksin Sinovac dibuat dari sel vero yang berasal dari kera hijau Afrika sehingga tidak halal. Menurut ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo, sel vero hanya digunakan untuk menumbuhkan virus. Setelah tumbuh, partikel-partikel virus akan diinaktivasi sehingga genom virus rusak dan tidak bisa berkembang biak. Kemudian, dilakukan proses filtrasi. “Jadi, dalam produk finalnya, tidak ada lagi hal-hal yang mengkhawatirkan, seperti sel kera,” ujar Ahmad.

    - Manajer Lapangan Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 dari Universitas Padjajaran Bandung, Eddy Fadlyana, juga menjelaskan terkait sel vero yang diklaim membuat vaksin tidak halal. Menurut dia, lembaga yang menentukan halal atau tidaknya vaksin adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, Eddy memastikan, vaksin Sinovac tidak menggunakan enzim tripsin babi. Sejumlah vaksin yang telah lama beredar juga menggunakan sel vero, seperti vaksin DPT, namun mengantongi sertifikat halal.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    Aplikasi TikTok. REUTERS/Danish Siddiqui/Illustration

    - Seorang anak berusia 12 tahun asal London, Inggris, memenangkan putusan sela dalam gugatannya melawan platform video pendek TikTok. Anak itu menuduh TikTok melanggar aturan perlindungan data Uni Eropa. Hakim juga memutuskan untuk tidak mengungkap identitas anak tersebut, dan memberinya dorongan untuk melanjutkan gugatan itu. Anak ini akan diwakili oleh Anne Longfield, Komisaris Anak untuk Inggris. Longfield memang meminta pengadilan memberikan anonimitas mengingat anak itu bisa menghadapi intimidasi online.

    - Telegram baru saja meluncurkan fitur yang memungkinkan pengguna berkirim pesan dengan orang atau bergabung dengan grup yang berada di sekitar tempat tinggal mereka. Selain memperlihatkan nama dan foto profil mereka, fitur yang disebut People Nearby ini juga mengungkap jarak mereka dengan lawan bicaranya secara akurat. Saking akuratnya, peneliti keamanan siber khawatir fitur tersebut rentan disalahgunakan oleh hacker, yang bisa mengetahui lokasi pengguna tanpa diketahui korbannya.

    - Lebih dari 125 ribu data mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, dikabarkan bocor. Hal itu diketahui dari unggahan seorang warganet di Twitter, @fannhasbi. “Breached! Lebih dari 125 ribu data mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) bocor,” kata pemilik akun yang mengaku sebagai security enthusiast tersebut. Adapun data mahasiswa Undip yang disebut bocor berupa alamat, jalur masuk, e-mail, username, password, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), riwayat sekolah, beasiswa, dan sebagainya.

    - Sejumlah konsumen di Indonesia mengaku telah ditipu oleh perusahaan jual-beli barang Grab Toko. Barang yang telah mereka bayar tidak kunjung dikirim. Belakangan, beredar gambar tangkapan layar unggahan di akun Instagram Grab Toko yang berisi klaim bahwa telah terjadi penggelapan uang konsumen oleh pihak investor. Sebagian konsumen mengaku telah mentransfer sejumlah uang untuk membeli produk elektronik, bahkan ada yang nilainya mencapai Rp 23 juta.

    - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerbitkan perintah eksekutif yang melarang penggunaan aplikasi pembayaran asal Cina, AliPay dan WeChat Pay. AliPay dimiliki oleh Alibaba, sementara WeChat Pay dimiliki oleh Tencent. Selain itu, perintah eksekutif Trump juga melarang CamScanner, QQ Wallet, SHAREit, Tencent QQ, VMate, dan WPS Office. Aplikasi milik anak perusahaan mereka pun dilarang. Menurut seorang pejabat AS, perintah itu diklaim sebagai langkah untuk melindungi warga AS dari ancaman pengambilan data sensitif pengguna oleh aplikasi asal Cina.

    - Pandemi Covid-19 memaksa banyak orang merayakan malam Tahun Baru 2021 secara virtual di rumahnya masing-masing. Hal ini tercermin dari jumlah panggilan suara maupun video di WhatsApp. Aplikasi pesan milik Facebook ini mencatatkan rekor harian dengan 1,4 miliar panggilan pada 31 Desember 2020. Angka tersebut melonjak 50 persen dibandingkan momen yang sama di pengujung 2019 lalu, bahkan melampaui hari-hari awal pandemi pada Maret 2019 ketika new normal mulai terjadi.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Misinformasi tentang vaksin Covid-19 kembali beredar di awal tahun 2021 ini. Yang menjadi sasaran kali ini adalah vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh perusahaan asal Cina Sinovac Biotech. Vaksin tersebut diklaim mengandung bahan dasar yang berbahaya, seperti boraks, formalin, dan merkuri. Klaim itu juga menyebut bahwa vaksin Sinovac mengandung virus hidup yang telah dilemahkan.

    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Juliana Humaira Ummu Syifa yang memuat klaim keliru terkait vaksin Covid-19 Sinovac.

    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, kedua klaim tersebut keliru. Terkait klaim pertama, nama boraks, formalin, dan merkuri (maupun nama kimia atau nama lainnya) tidak tertulis dalam kemasan vaksin Sinovac. Bahan yang tertera dalam kemasan adalah aluminium hydroxide, disodium hydrogen phosphate, sodium dihydrogen phosphate, dan sodium chloride. Empat bahan ini digunakan sebagai penstabil tingkat keasaman (pH) vaksin sehingga tetap berada dalam kisaran pH darah. Sementara terkait klaim kedua, vaksin Sinovac menggunakan partikel SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19, yang telah dimatikan, bukan dilemahkan. 

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta terhadap beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.