CekFakta #59 Teori Konspirasi di Tengah Pandemi Corona

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penganut teori konspirasi tetap yakin teori bumi datar. Sumber: edition.cnn.com

    Penganut teori konspirasi tetap yakin teori bumi datar. Sumber: edition.cnn.com

    • Perbincangan soal teori konspirasi seputar Covid-19 kembali menghangat dalam beberapa pekan terakhir. Sebagian besar teori itu membahas tentang asal-usul SARS-CoV-2, bahwa virus penyebab Covid-19 tersebut sengaja dibuat oleh manusia. Sebenarnya, bagaimana teori konspirasi ini bisa muncul dan mengapa masyarakat percaya dengan teori-teori itu?
    • Untuk membenahi masalah keamanan dan privasi yang menderanya, Zoom meluncurkan versi terbaru platform konferensi videonya, Zoom 5.0. Pembenahan ini tergolong cepat. Zoom bagaimana pun harus terus bergerak maju agar dapat mengimbangi para pesaingnya yang semakin getol menguasai pasar konferensi video.

    Halo pembaca Nawala CekFakta Tempo! Dari sekian banyak teori konspirasi seputar virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, teori mana yang Anda percaya? Diskusi mengenai teori konspirasi, apalagi terkait Covid-19, memang tengah menghangat. Teori yang paling kencang tentu saja bahwa SARS-CoV-2 adalah virus buatan laboratorium. Nah, dalam edisi kali ini, saya ingin menceritakan awal mula teori ini muncul, dan alasan banyak orang mempercayai teori-teori tersebut.

    Apakah Anda menerima nawala edisi 1 Mei 2020 ini dari teman dan bukan dari email Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    TEORI KONSPIRASI DI TENGAH PANDEMI   

    Dalam beberapa pekan terakhir, lini masa media sosial dipenuhi dengan diskusi teori konspirasi seputar SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19. Sebenarnya, teori konspirasi terkait Covid-19 telah menyebar sejak munculnya pemberitaan virus ini pada Januari 2020. Ketika itu, beredar teori konspirasi bahwa SARS-CoV-2 adalah virus yang sengaja dibuat sebagai senjata biologis.

    Akhir-akhir ini, perbincangan soal teori konspirasi Covid-19 kembali menghangat setelah muncul video di kanal YouTube milik Deddy Corbuzier yang berjudul “Corona Hanya Sebuah Kebohongan Konspirasi!?”. Video yang kini telah ditonton lebih dari 8 juta kali itu berisi obrolan Deddy dengan rapper Young Lex mengenai teori-teori konspirasi seputar Covid-19. Selama lima menit pertama, Deddy dan Young Lex memaparkan sejumlah teori, seperti:

    “Teori-teori dari 5G, 5G itu menghancurkan imunitas tubuh kita sehingga virus-virus bisa masuk dengan gampang.”

    “Ini sebenarnya flu yang ditambahkan cairan kimianya lebih banyak, jadi lebih gampang tersebar.”

    “Flu yang diganaskan, dibuat di laboratorium supaya lebih ganas dan menyerang orang-orang.”

    Mereka juga sempat membahas bahwa nantinya akan muncul vaksin Covid-19 dari pendiri Microsoft, Bill Gates, yang di dalamnya terdapat microchip.

    Sebenarnya, apa itu teori konspirasi? Menurut dosen senior ilmu psikologi di London, Inggris, Jovan Byford, teori konspirasi memiliki tiga unsur, yakni konspirator, rencana, dan sarana manipulasi massal. Konspirator bisa berbentuk organisasi nyata yang punya anggota, misalnya Illuminati, Freemasons, atau Bilderberg. Ada pula yang bukan berupa organisasi nyata, seperti perusahaan farmasi besar, kompleks industri militer, elite global, dan sebagainya. Sementara itu, sarana manipulasi massal bisa berupa sumber-sumber nyata, seperti sains, pemerintah, atau konglomerat media, dan sumber-sumber yang tidak masuk akal, misalnya paranormal atau ilmu hitam.

    “Keyakinan bahwa dunia bisa diatur adalah pendorong utama orang percaya dengan teori konspirasi,” kata Byford. 

    Melihat ciri-ciri ini, sebagian dari kita mungkin berpikir, “Seharusnya orang tidak percaya.” Kenyataannya, banyak orang yang percaya. Menurut jajak pendapat Pew Research Center misalnya, sekitar 29 persen warga Amerika Serikat yang disurvei percaya Covid-19 diciptakan di laboratorium. Dalam survei terhadap 8.914 orang dewasa Amerika itu, Pew bertanya apakah mereka percaya SARS-CoV-2 “muncul secara alami, dikembangkan secara sengaja di laboratorium, dibuat secara tidak sengaja di laboratorium, atau tidak benar-benar ada”.

    Hanya 43 persen responden yang memilih “muncul secara alami”. Sementara dari 29 persen responden yang percaya virus itu dibuat di laboratorium, 23 persennya mengatakan SARS-CoV-2 dibuat secara sengaja. Padahal, menurut berbagai penelitian, termasuk yang dilakukan oleh profesor imunologi dan mikrobiologi dari Scripps Research Institute, Amerika, Kristian Andersen, SARS-CoV-2 adalah buah dari proses evolusi alami, bukan sengaja dibuat di laboratorium.

    Menurut laporan Vox, keyakinan bahwa SARS-CoV-2 diciptakan oleh manusia bermula dari spekulasi beberapa ilmuwan saat awal wabah. Hipotesis ini dilontarkan dengan dasar tidak semua pasien Covid-19 paling awal mengunjungi pasar hewan yang sama di Wuhan, Cina. Beberapa ilmuwan pun menduga bahwa asal virus ini bisa jadi adalah laboratorium tempat manusia bersentuhan dengan kelelawar.

    Kala itu, ahli mikrobiologi Richard Ebright mengatakan bahwa SARS-CoV-2 diduga menular ke manusia dalam sebuah kecelakaan, misalnya “infeksi yang tak sengaja terhadap pekerja laboratorium”. Hipotesis ini menyebar dengan cepat ke masyarakat. Sayangnya, semakin lama, spekulasi itu berkembang menjadi teori konspirasi bahwa virus tersebut tidak hanya berasal dari laboratorium, tapi juga diciptakan di sana.

    Hal ini diperparah oleh perang teori konspirasi antara Cina dan Amerika. Pada 12 Maret 2020, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian, mencuit di Twitter “tentara Amerika merupakan penyebar Covid-19 ke Cina”. Enam hari kemudian, giliran Presiden Amerika Donald Trump yang menyebut bahwa SARS-CoV-2 adalah “virus Cina”. Perang kata-kata ini tentunya tak bisa dilepaskan dari konteks perang dagang antara Cina dan Amerika.

    Pakar psikologi, Daniel Jolley dan Pia Lamberty, menulis di The Conversation bahwa teori konspirasi memang cenderung muncul di tengah krisis, seperti serangan teroris, perubahan situasi politik, atau guncangan ekonomi. “Teori konspirasi berkembang dalam masa penuh ketidakpastian dan ancaman, saat kita berusaha memahami dunia yang kacau,” ujar Jolley dan Lamberty.

    Saat terjadi wabah virus Zika pada 2015-2016 misalnya, teori konspirasi yang berkembang juga mengatakan bahwa virus itu merupakan senjata biologis. Sebuah penelitian yang menelusuri komentar di Reddit selama wabah virus Zika menemukan bahwa teori konspirasi muncul sebagai cara orang-orang mengatasi ketidakpastian ekstrem yang mereka rasakan terkait wabah itu.

    Psikolog dari Universitas Winchester, Inggris, Mike Wood, juga mengatakan bahwa terdapat sejumlah penelitian yang menemukan kaitan antara stres, keadaan yang mudah dipengaruhi, dan teori konspirasi. “Ketika seseorang tidak bisa menguasai diri dengan sepenuhnya, ketika mereka mengalami stres, teori konspirasi akan menjadi masuk akal,” ujar Wood.

    Menurut Myrto Pantazi, doktor dari Institut Internet Universitas Oxford, Inggris, teori konspirasi bisa mempertajam perpecahan dalam masyarakat. Alasannya, ketika teori konspirasi beredar, muncul pertikaian antara mereka yang percaya dan yang skeptis. Guru besar ilmu komunikasi dari Universitas Stanford, Amerika, Jeff Hancock, pun memperingatkan kekuatan dari paparan yang terus berulang, yang disebut “ilusi kebenaran”. “Makin sering Anda mendengarnya, makin sering Anda terpapar, makin besar pula kemungkinan Anda untuk mempercayainya.”

    Jolley dan Lamberty mengatakan teori konspirasi di dunia kesehatan memiliki potensi yang sama berbahayanya dengan wabah itu sendiri. Pasalnya, mereka yang percaya pada teori konspirasi umumnya tak percaya terhadap kelompok yang mereka anggap kuat, termasuk politikus. Pada akhirnya, mereka tidak mengikuti saran pemerintah. Dalam hal Covid-19 misalnya, saran untuk rajin mencuci tangan dengan sabun atau mengisolasi diri di rumah bakal diabaikan.

    Agar tidak mudah terbawa arus pemikiran konspiratif, Anda perlu terbuka kepada banyak pendapat. Jangan sampai menjadikan teori konspirasi sebagai satu-satunya pegangan. Skeptislah terhadap segala informasi, apalagi yang belum terbukti kebenarannya. Ingat pula bahwa teori konspirasi mengenai Covid-19 memiliki efek yang membahayakan. Seperti kata Jolley dan Lamberty, jika penganut teori ini mengabaikan imbauan pemerintah, dan jumlah mereka sangat banyak, penyebaran Covid-19 akan sulit dikendalikan.

    MENGGESER DOMINASI ZOOM  

    Platform konferensi video yang populer di tengah pandemi Covid-19, Zoom, baru saja mengumumkan versi terbarunya, Zoom 5.0, yang diklaim lebih aman dibandingkan versi sebelumnya. Peluncuran ini disebut sebagai tonggak penting dalam rencana 90 hari perusahaan untuk proaktif mengidentifikasi, mengatasi, dan meningkatkan keamanan serta privasi pengguna. Namun, disamping memperbaiki platformnya, Zoom harus cepat bergerak maju agar tidak tertinggal dari para pesaingnya yang juga semakin getol meningkatkan layanan konferensi video mereka.

    - Dalam versi terbarunya, Zoom mengganti enkripsi AES 256-bit GCM yang digunakan sebelumnya menjadi ACM 256-bit GCM. Perubahan ini disebut bakal meningkatkan perlindungan terhadap data rapat virtual dan ketahanan terhadap gangguan. Selain itu, Zoom memperkenalkan fitur kontrol perutean data di mana admin dapat memilih pusat data yang digunakan saat rapat berlangsung. Zoom juga mengaktifkan fitur waiting room atau ruang tunggu virtual secara default serta menyematkan fitur “melaporkan pengguna” di ikon keamanan.

    - Google menggratiskan layanan konferensi video mereka, Meet, bagi semua orang. Sebelumnya, pengguna memang bisa berpartisipasi dalam rapat Meet tanpa berlangganan G Suite. Namun, pengguna tetap membutuhkan sebuah akun yang berlangganan G Suite untuk memulai rapat. Layanan gratis ini bakal berlaku hingga 30 September 2020, di mana pengguna dapat menikmati kapasitas rapat virtual hingga 100 orang serta waktu penggunaan yang tidak dibatasi.

    - Platform panggilan video milik Google lainnya, Duo, juga merilis sejumlah fitur baru, salah satunya kapasitas peserta panggilan video grup menjadi 12 orang dari sebelumnya delapan orang. Tak tertutup kemungkinan, ke depan, kapasitas peserta ini kembali ditingkatkan. Selain itu, pengguna akan bisa mengambil foto di tengah panggilan video bersama seorang pengguna lain. Yang juga anyar adalah fitur untuk menyimpan pesan. Sebelumnya, pesan yang diterima pengguna bakal terhapus setelah 24 jam.

    - WhatsApp, platform perpesanan milik Facebook, juga resmi menghadirkan pembaruan untuk fitur panggilan suara dan video. Pembaruan itu berupa penambahan kapasitas peserta panggilan menjadi delapan orang. Penambahan kapasitas ini dilakukan karena WhatsApp melihat pengguna semakin aktif menggunakan fitur panggilan suara dan video saat pandemi Covid-19. Menurut WhatsApp, dalam satu bulan terakhir, rata-rata penggunaan panggilan video per hari mencapai 15 miliar menit.

    - Tak ingin ketinggalan dari anak perusahaannya, Facebook juga merilis fitur konferensi video, Messenger Room. Dalam satu rapat, fitur ini bisa dipakai oleh 50 orang. Fitur itu dapat diakses lewat WhatsApp. Menurut laporan WABetaInfo, dalam WhatsApp beta versi 2.20.139, terlihat pintasan “Room” untuk fitur baru tersebut. Ketika mengetuk “Room”, pengguna akan melihat pesan pengantar yang berbunyi “buat ruang di Messenger dan kirim obrolan video yang panjang ke grup dengan siapa pun”.

    - Aplikasi pesan instan Telegram pun sedang menyiapkan fitur panggilan video grup. Menurut bos Telegram, Pavel Durov, banyak platform panggilan video yang kurang aman sehingga ia ingin menghadirkan layanan tersebut di Telegram. Hingga saat ini, fitur panggilan di Telegram memang hanya sebatas suara, tanpa panggilan video. Walaupun tak merinci kapan layanan ini bakal melunsur, Durov mengatakan fitur panggilan video grup di Telegram tersebut bakal hadir pada 2020.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    - Apple dan Google bekerjasama untuk mengembangkan sebuah sistem pelacakan penyebaran Covid-19. Sistem ini memanfaatkan koneksi bluetooth yang tersemat di perangkat pengguna. Sistem tersebut berupa application programming interface (API) yang kompatibel dengan perangkat Android maupun iOS. Teknologi ini bukan berupa aplikasi, melainkan API yang bisa mengumpulkan data pelacakan pengguna yang dapat dimanfaatkan oleh aplikasi milik badan-badan kesehatan di setiap negara. Rencananya, API ini dirilis pada pertengahan Mei 2020.

    - Sejak awal April 2020, WhatsApp memberlakukan kebijakan pembatasan forward atau meneruskan pesan hanya satu kali untuk menekan penyebaran hoaks terkait virus Corona Covid-19. WhatsApp mengklaim kebijakan itu efektif menurunkan forward pesan hingga 70 persen secara global. WhatsApp memang menerapkan enkripsi end-to-end sehingga perusahaan tidak dapat membaca isi pesan. Namun, metadata pesan itu memungkinkan WhatsApp untuk mengetahui berapa banyak suatu pesan telah dikirimkan lewat fitur forward.

    - Baru-baru ini, Twitter menonaktifkan fitur SMS yang ada di platformnya. Sebelumnya, fitur ini bisa digunakan untuk menerima atau mengirimkan tweet lewat SMS. Meskipun demikian, Twitter hanya mematikan fitur ini di beberapa negara. Fitur tersebut masih dipertahankan di negara-negara yang bergantung padanya. Twitter menyebut faktor keamanan yang menjadi alasan fitur ini dihentikan. Selain itu, dengan perkembangan ponsel saat ini, hampir seluruh pengguna mengakses Twitter lewat aplikasi mobile, tidak seperti dulu di mana pengguna mengandalkan SMS untuk mencuit.

    - Pemerintah Cina meminta perusahaan teknologi ByteDance untuk menghapus aplikasi workplace messaging tool, Feishu, dari toko aplikasi. Permintaan itu dilontarkan setelah Feishu diketahui memberikan izin kepada pengguna untuk mengakses unggahan dari Facebook dan Twitter yang notabene dilarang di Cina. Awalnya, ByteDance yang merupakan pemilik TikTok ini mengembangkan Feishu sebagai aplikasi internal. Feishu yang juga memiliki fitur konferensi video tersebut baru dipasarkan untuk penggunaan bisnis pada 2019.

    - Google menghapus 103 aplikasi di Play Store pada 27 April 2020. Penghapusan itu dilakukan karena aplikasi-aplikasi tersebut ditengarai melanggar aturan keamanan, termasuk memiliki adware, serta konten yang berbeda dari deskripsi. Menurut laporan CyberNews, ratusan aplikasi itu diduga kuat berasal dari jaringan developer yang terorganisir. Berdasarkan penelusuran, mereka menyalahgunakan data pengguna, termasuk lokasi. Informasi itu kemudian dijual pada agen-agen pemasaran dengan harga ribuan dolar.

    - Lebih dari 160 ribu akun Nintendo dilaporkan telah dibajak sejak awal April 2020. “ID dan kata sandi diperoleh secara ilegal,” kata Nintendo. Yang mungkin telah dibajak antara lain nama panggilan, tanggal lahir, negara, dan alamat email. Karena itu, Nintendo merekomendasikan semua pengguna untuk mengaktifkan otentikasi dua faktor. Saat ini, Nintendo sedang menyetel ulang kata sandi untuk akun-akun yang telah dibobol itu. Nintendo juga menonaktifkan kemampuan untuk masuk ke akun melalui Nintendo Network ID (NNID).

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Foto-foto yang diklaim sebagai citra satelit pangkalan militer Cina di Laut Natuna Utara beredar di media sosial. Menurut narasi yang menyertainya, foto-foto itu dirilis oleh Google Earth dan disebut sebagai gambar proyek pangkalan militer Cina di laut sekitar Pulau Batam dan Pontianak. Tercantum pula tautan sumber gambar tersebut, yakni artikel di situs Militermeter.com.

    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, klaim itu menyesatkan. Lewat penelusuran dengan Google Earth, foto-foto itu merupakan gambar satelit pangkalan militer di Kepulauan Spratly, bukan di Laut Natuna Utara. Di Google Maps, Kepulauan Spratly terletak di tengah Laut Cina Selatan. Negara yang terdekat dengan kepulauan ini adalah Filipina. Sementara dalam peta baru Indonesia, Laut Natuna Utara berada di barat daya Kepulauan Spratly. Menurut pemberitaan di media-media kredibel, Cina memang memiliki tiga pangkalan militer di Kepulauan Spratly, tepatnya di pulau karang Subi, Mischief, dan Fiery Cross.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta terhadap beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Diego Maradona dan Tangan Tuhan

    Sosok Diego Maradona yang kontroversial tidak dapat dipisahkan dari gol yang disebut-sebut orang sebagai gol Tangan Tuhan.