CekFakta #110 Melihat Jeroan Bisnis Anti Vaksin

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang tenaga kesehatan bersiap menyuntikkan vaksin COVID-19 rekombinan (vektor adenovirus tipe 5), di Distrik Haidian, Beijing, ibu kota Cina, Kamis, 20 Mei 2021. Vaksin ini telah selesai melewati uji klinis tahap 3. (Xinhua/Ren Chao)

    Seorang tenaga kesehatan bersiap menyuntikkan vaksin COVID-19 rekombinan (vektor adenovirus tipe 5), di Distrik Haidian, Beijing, ibu kota Cina, Kamis, 20 Mei 2021. Vaksin ini telah selesai melewati uji klinis tahap 3. (Xinhua/Ren Chao)

    Halo pembaca nawala Cek Fakta Tempo! Apakah Anda menonton laga Denmark melawan Finlandia dalam Piala Eropa 2021 kemarin? Jika ya, Anda pasti masih teringat betapa mengerikannya kejadian yang menimpa salah satu pemain Denmark, Christian Eriksen. Yang membuat kesal, ada kelompok yang memanfaatkan peristiwa itu untuk menyebarkan misinformasi. Mereka adalah para anti-vaxx, yang mengedarkan hoaks vaksin Covid-19 dengan mengendarai tragedi yang menimpa Eriksen.

    • Berbagai jurus ditempuh oleh kelompok anti-vaksin untuk menyebarkan ketakutan kepada masyarakat. Seperti apa bisnis anti-vaksin diatur dan dikendalikan?
    • Virus Corona varian Delta mulai mendominasi kasus Covid-19 yang muncul di Indonesia. Beberapa riset meneliti risiko masuk rumah sakit akibat varian itu serta memperkirakan efektivitas vaksin Covid-19 terhadapnya.

    Apakah Anda menerima nawala ini dari teman dan bukan dari e-mail Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    MELIHAT JEROAN BISNIS ANTI-VAKSIN

    Tak henti-hentinya misinformasi tentang vaksin Covid-19 bermunculan di lini masa media sosial kita. Berbagai kejadian, bahkan tragedi, menjadi kendaraan bagi para kaum anti-vaksin untuk menyebarkan hoaks. Yang terbaru adalah peristiwa yang menimpa pemain sepakbola Denmark, Christian Eriksen, dalam pertandingan Piala Eropa 2021 pada 12 Juni 2021 lalu. Pria berusia 29 tahun ini kolaps di tengah permainan akibat serangan jantung. Kejadian ini memicu beredarnya klaim palsu tentang status vaksinasi Covid-19 Eriksen.

    Hanya beberapa saat setelah kejadian itu, muncul spekulasi tak berdasar bahwa Eriksen telah divaksinasi Covid-19 dan mengalami salah satu dari sejumlah kecil kasus miokarditis yang dilaporkan. The European Medicines Agency kini memang sedang menyelidiki kemungkinan adanya hubungan antara miokarditis dan vaksin berbasis mRNA, seperti vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan Moderna.

    Informasi bahwa Eriksen telah menerima vaksin Pfizer awalnya dibagikan oleh blogger Lubos Motl, yang sebelumnya kerap menyebarkan klaim palsu dan menyesatkan tentang Covid-19 dan vaksin, di Twitter. Unggahan Motl diperkuat oleh tokoh-tokoh seperti Alex Berenson, mantan jurnalis New York Times yang banyak dikritik karena membuat klaim palsu dan menyesatkan tentang vaksin Covid-19. Motl menghapus cuitannya setelah Giuseppe Marotta, direktur Inter Milan, klub Eriksen, menyatakan bahwa pemainnya itu tidak pernah divaksinasi Covid-19. Eriksen juga tidak pernah tertular penyakit tersebut.

    Masih ada cara lain digunakan oleh para anti-vaxx, sebutan bagi mereka yang anti dengan vaksin, untuk menyebarkan ketakutan terhadap vaksin. Salah satunya adalah memanfaatkan basis data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) milik pemerintah Amerika Serikat yang mencakup ratusan ribu laporan kejadian beberapa menit, jam, atau hari setelah vaksinasi. Banyak dari kasus itu terjadi karena sebab lain, bukan karena vaksin. Tapi, ketika jutaan orang divaksinasi dalam waktu singkat, jumlah kejadian yang dilaporkan tersebut bisa terlihat besar.

    Data laporan-laporan tesebut dipilih dan disusun sedemikian rupa oleh para anti-vaxx untuk mengklaim secara keliru bahwa vaksin Covid-19 berbahaya. Hal ini dapat mereka lakukan dengan mudah lantaran seluruh basis data VAERS bersifat publik, dapat diunduh siapa saja. “Ini adalah sistem yang sangat berharga untuk mendeteksi efek samping. Tapi harus digunakan dengan benar,” ujar William Moss, direktur eksekutif International Vaccine Access Center di John Hopkins Bloomberg School of Public Health.

    Seorang petugas kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 COVISHIELD yang diproduksi oleh Serum Institute of India, pada seorang penggembala dalam perjalanan vaksinasi di Lidderwat dekat Pahalgam, di distrik Anantnag, Kashmir selatan, 10 Juni 2021. Kementerian Kesehatan India melaporkan bahwa 94.052 kasus Corona tercatat dalam 24 jam terakhir. REUTERS/Sanna Irshad Mattoo

    Menurut riset karya Imran Ahmad, peneliti Center for Countering Digital Hate, yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine, sejumlah investigasi menunjukkan bahwa ada yang mengatur dan membiayai penyebarkan misinformasi tentang vaksin Covid-19. Ketika mendengar istilah anti-vaxx, kita biasanya terbayang seorang ahli teori konspirasi yang gemar menyendiri di ruang bawah tanah yang kotor atau sosok yang acak-acakan. Pada kenyataannya, protagonis utama dalam industri anti-vaksin adalah kelompok propagandis profesional yang koheren.

    “Mereka orang-orang yang menjalankan organisasi multi-juta dolar, yang sebagian besar didirikan di AS, dengan masing-masing memiliki 60 staf. Mereka menghasilkan buku manual pelatihan untuk para aktivis, menyesuaikan pesan mereka untuk audiens yang berbeda, dan mengatur pertemuan yang mirip dengan konferensi perdagangan tahunan, seperti industri lainnya,” ujar Ahmad. “Terlepas presentasi anti-vaxx yang dangkal dan kosong, tetap ada level organisasi dan niat yang mengerikan.”

    Mereka mahir menggunakan media sosial. Menurut Ahmad, mereka mampu mengembangkan taktik ini karena perusahaan media sosial senang para pemain kunci dalam bisnis anti-vaxx menggunakan layanan mereka untuk merekrut pengikut baru dan menyebarkan kebohongan mereka lebih luas. Akibatnya, ada infrastruktur online situs anti-vaksin, grup Facebook, kanal YouTube, halaman Instagram, dan akun Twitter dengan audiens gabungan mencapai 59 juta orang.

    Sementara menurut laporan Center for Countering Digital Hate (CCDH) dan Anti-Vax Watch, sebanyak 65 persen konten anti-vaksin yang beredar di media sosial utama hanya terkait dengan 12 individu atau organisasi anti-vaksin paling terkemuka. Laporan ini didasarkan pada analisis sampel konten anti-vaksin yang dibagikan atau diunggah di Facebook dan Twitter lebih dari 812 ribu kali pada 1 Februari-16 Maret 2021.

    Untuk beberapa anti-vaxx, misinformasi adalah bagian dari bisnis pribadi. Sayer Ji misalnya, seorang pendukung gerakan obat alami, memiliki situs yang penuh dengan artikel tentang pengobatan alami dan misinformasi tentang vaksin. Dia salah satu pendukung anti-vaxx yang memiliki bisnis sampingan. Mereka mempromosikan klaim palsu tentang bahaya vaksin, sembari menjual paket perawatan, suplemen, atau layanan lainnya. Pasar potensial mereka sekitar 20 persen orang AS yang menyatakan tidak ingin divaksinasi Covid-19.

    Menurut Imran Ahmad, yang juga merupakan direktur eksekutif CCDH, untuk menjual obat mereka sendiri para anti-vaxx membujuk orang lain, termasuk dengan berbohong, agar tidak mempercayai otoritas. Mereka menggunakan teori mereka-- yang tentu saja telah--dibantah berulang kali oleh para pemeriksa fakta, untuk menjauhkan publik dari pengobatan umum dan berganti menggunakan produk mereka.“Begitu berhasil memikat seseorang, mereka akan berjualan kepada orang itu seumur hidup,” ujar Ahmad.

    AMPUHKAH VAKSIN COVID-19 TANGKAL VARIAN DELTA?

    Bagian ini ditulis oleh Siti Aisah, peserta Health Fellowship Tempo yang didukung oleh Facebook.

    Penularan virus Corona varian Delta mulai mendominasi di Indonesia. Virus Corona varian Delta telah ditemukan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dan Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dan di Jakarta. Sebanyak 47 dari 145 total kasus varian baru ini berasal dari luar negeri. Beberapa riset meneliti risiko masuk rumah sakit akibat Covid-19 varian Delta yang dianggap lebih menular dibandingkan varian lainnya, serta memperkirakan bagaimana efektivitas vaksin Covid-19 yang sudah ada terhadap varian tersebut.

    Seorang pasien Covid-19 mendapat perawatan di klinik terbuka di Desa Mewla Gopalgarh, Uttar Pradesh, India, 16 Mei 2021. REUTERS/Danish Siddiqui

    • Menurut Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), gejala umum dari varian klasik Covid-19 adalah batuk, demam, dan kehilangan penciuman atau rasa. Namun, menurut Tim Spector, yang menjalankan studi Zoe Covid Symptom, terdapat gejala baru ketika terinfeksi virus Corona varian Delta. Gejala itu lebih terasa seperti flu berat pada kelompok usia muda. "Kami pikir ini bisa memicu masalah. Orang-orang mungkin mengira mereka terkena flu musiman, dan mereka masih pergi ke pesta, dengan kemungkinan bisa menyebarkan kepada enam orang lainnya,” kata Spector.
    • Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menunda rencana untuk mencabut pembatasan di tengah pandemi Covid-19. Dalam beberapa minggu terakhir, pertumbuhan kasus baru yang disebabkan oleh varian Delta meningkat. Pejabat kesehatan Inggris percaya varian tersebut 60 persen lebih mudah menular daripada varian yang dominan sebelumnya, dan para ilmuwan telah memperingatkan bahwa hal ini dapat memicu pandemi gelombang ketiga. Per 15 Juni 2021, Inggris mencatat 7.742 kasus Covid-19 baru dengan tiga kematian.
    • Menurut Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio, varian Delta lebih cepat menular. Data Kementerian Kesehatan per 13 Juni menunjukkan adanya 104 kasus varian Delta di lima provinsi, yaitu Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam juga menuturkan bahwa penyebaran varian Delta di Indonesia semakin meningkat. “Dalam empat minggu terakhir. terjadi peningkatan 51,4 persen,” kata Ari.
    • Studi di Skotlandia menunjukkan virus Corona varian Delta ditemukan terutama pada kelompok usia muda. Risiko masuk rumah sakit diperkirakan sekitar dua kali lipat pada mereka yang terinfeksi varian Delta dibandingkan varian Alpha. Risiko masuk rumah sakit juga meningkat pada mereka yang memiliki lima atau lebih komorbid. Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Pfizer efektif dalam mengurangi risiko infeksi dan rawat inap akibat Covid-19 pada orang dengan varian Delta. Tapi mengingat sifat pengamatan data pada studi ini, perkiraan efektivitas vaksin perlu ditafsirkan dengan hati-hati.
    • Kantor Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE) merilis analisis yang menunjukkan bahwa dua dosis vaksin Covid-19 sangat efektif menurunkan rawat inap akibat virus Corona varian Delta. Analisis tersebut mencakup 14.019 kasus varian Delta. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa vaksin Pfizer 96 persen efektif dalam mengurangi rawat inap akibat virus Corona varian Delta setelah pemberian dua dosis. Sementara dua dosis vaksin AstraZeneca 92 persen efektif dalam mengurangi rawat inap akibat virus Corona varian Delta.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    Kondisi pemain Timnas Denmark, Christian Eriksen setelah pingsan di tengah laga penyisihan Grup B Piala Eropa antara Denmark melawan Finlandia di Kopenhagen, Denmark, 12 Juni 2021. Gelandang berusia 29 tahun itu dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan dalam keadaan sadar serta kondisi yang berangsur stabil meski tim dokter menyatakan bahwa detak jantung Eriksen sempat berhenti. Pool via REUTERS/Friedemann Vogel

    • Serangan jantung yang menimpa pesepakbola Denmark, Christian Eriksen, dalam laga Piala Eropa pada 12 Juni 2021 lalu memicu misinformasi tentang status vaksinasi Covid-19 pria berusia 29 tahun tersebut. Beredar spekulasi tak berdasar bahwa Eriksen telah divaksinasi Covid-19 dan mengalami miokarditis. Otoritas kesehatan memang tengah menyelidiki kemungkinan adanya hubungan kasus miokarditis yang dilaporkan dengan vaksin berbasis mRNA. Namun, klaim itu dibantah oleh Inter Milan, klub Eriksen. Eriksen belum mendapatkan vaksin Covid-19.
    • Biro investigasi Amerika Serikat, FBI, mengeluarkan peringatan bahwa pengikut teori konspirasi QAnon dapat kembali terlibat dalam kekerasan terhadap lawan politiknya, karena frustasi bahwa prediksi mereka tidak menjadi kenyataan. Pengikut teori ini, yang menyebut Donald Trump sebagai tokoh penyelamat, memainkan peran penting dalam serangan US Capitol pada 6 Januari 2021 lalu.
    • Pada 11 Juni 2021 lalu, senator AS, Ron Johnson, diblokir oleh YouTube untuk mengunggah video selama satu pekan. Langkah itu diambil karena Johnson melanggar “kebijakan misinfomasi medis” Covid-19 platform. Dalam sebuah video, Johnson mengkritik pemerintahan mantan Presiden Donald Trump dan Presiden Joe Biden karena,  “Tidak hanya mengabaikan, tapi bekerja melawan penelitian untuk penggunaan kembali obat generik yang murah pada tahap awal pengobatan Covid-19.”
    • YouTube akan berhenti menerima iklan untuk unit iklan masthead-nya dari iklan-iklan minuman beralkohol, perjudian termasuk taruhan olahraga dan permainan kasino, obat resep, serta pemilu dan politik per 14 Juni 2021. Masthead YouTube, bagian berbentuk persegi panjang di bagian atas beranda, sering kali merupakan unit iklan yang paling mahal dan paling dicari di platform.
    • Restoran makanan siap saji McDonald’s di Korea Selatan dan Taiwan menjadi target baru serangan siber oleh para peretas. Serangan terjadi pada 11 Juni 2021 lalu, yang membuat data karyawan dan pelanggan bocor. Para hacker dapat mengakses email, nomor telepon, dan alamat pengiriman. Perusahaan menyatakan serangan ini tidak termasuk informasi pembayaran pelanggan. Meski perusahaan dapat menutup akses dengan cepat setelah identifikasi, penyelidikan menetapkan bahwa sejumlah kecil file diakses, beberapa di antaranya berisi data pribadi.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Sepekan terakhir, beredar klaim bahwa badak putih utara resmi dinyatakan punah. Klaim itu dilengkapi dengan foto karya fotografer National Geographic, Ami Vitale, yang memperlihatkan seorang pria sedang menyandarkan kepalanya ke kepala seekor badak yang sedang tergeletak. Pria berkulit hitam ini juga menumpangkan tanggannya ke cula badak tersebut.

    Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi klaim menyesatkan terkait badak putih utara.

    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim itu menyesatkan. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources atau IUCN masih mengkategorikan badak putih utara sebagai satwa yang sangat terancam punah (critically endangered), bukan punah (extinct). Hingga 12 Juni 2021, spesies ini tercatat masih tersisa dua ekor. Badak putih utara memang sempat dideklarasikan “punah secara fungsional”, namun pada 2018, bukan baru-baru ini. Punah secara fungsional pun berarti jumlah hewan itu sangat kecil, sehingga tidak lagi memainkan peran yang signifikan dalam fungsi ekosistem.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta terhadap beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.