CekFakta #107 Perang Narasi di Balik Konflik Israel dan Palestina

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Demonstran pro-Palestina menghadiri protes menyusul maraknya kekerasan Israel-Palestina, di London, Inggris, 22 Mei 2021. [REUTERS / Toby Melville]

    Demonstran pro-Palestina menghadiri protes menyusul maraknya kekerasan Israel-Palestina, di London, Inggris, 22 Mei 2021. [REUTERS / Toby Melville]

    Halo pembaca nawala Cek Fakta Tempo! Seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Palestina dan Israel, saya ingin membahas perang narasi yang terjadi di Indonesia maupun di dunia terkait isu tersebut. Pada umumnya, narasi terbelah menjadi dua, yakni pro-Palestina dan pro-Israel. Termasuk kelompok yang manakah Anda?

    • Perang narasi di dunia maya mewarnai ketegangan antara Palestina dan Israel yang meningkat baru-baru ini. Di Indonesia, mereka terbelah menjadi dua kelompok, yakni yang mendukung Palestina dan yang membela Israel. Tersebar pula hoaks yang menambah panas suasana perang narasi ini. Seperti apa narasi yang bertebaran di media sosial mengenai konflik ini?
    • Setelah munculnya kasus penggumpalan darah dan polemik halal-haram, vaksin Covid-19 AstraZeneca kembali menarik perhatian. Baru-baru ini, terdapat laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) serius yang melibatkan vaksin tersebut. Saat ini, Kementerian Kesehatan sedang menggelar investigasi terkait meninggalnya seorang pemuda setelah menerima vaksin AstraZeneca batch CTMAV547.

    Apakah Anda menerima nawala ini dari teman dan bukan dari e-mail Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    PERANG NARASI DI BALIK KONFLIK ISRAEL-PALESTINA

    Warganet Indonesia lagi-lagi terbelah. Kali ini, perang narasi terjadi di tengah memanasnya konflik antara Palestina dan Israel beberapa pekan terakhir. Banyak warganet yang mendukung Palestina dan mencaci Israel. Tapi tak sedikit pula yang membela Israel dan mengecam Hamas, kelompok militan Palestina.

    Meningkatnya ketegangan antara Palestina dan Israel bermula dari rencana penggusuran warga di Sheikh Jarrah. Warga Palestina yang tinggal di sana menolak pindah karena meyakini Sheikh Jarrah sebagai bagian dari Palestina. Perlawanan warga direspons keras oleh Israel. Ketika warga memprotes rencana penggusuran itu di kompleks Masjid Al Aqsa pada 7 Mei 2021, aparat Israel menyerang mereka. Peristiwa yang sama kembali terulang pada 9-10 Mei.

    Merespons kerusuhan di kawasan Masjid Al Aqsa itu, Hamas menyerang Israel dengan roketnya. Israel membalas, meluncurkan serangan udara ke perbatasan Gaza. Korban tewas warga sipil jatuh di kedua pihak, tapi jauh lebih banyak warga Palestina termasuk puluhan anak-anak. Menurut militer Israel, serangan mereka arahkan langsung kepada Hamas yang memang beroperasi di sekitar Gaza.

    Lalu, seperti apa perang narasi yang terjadi di tengah eskalasi ketegangan antara Palestina dan Israel ini? Menurut sistem analisis media sosial Drone Emprit, percakapan warganet Indonesia yang mengandung kata kunci “Palestina” terus melonjak sejak 7 Mei hingga saat ini, dengan lebih dari 248 ribu mention. Akun-akun yang menyebut “Palestina” merupakan akun warganet umum atau netral dan pro-oposisi. “Klaster pro-pemerintah sangat kecil,” kata Ismail Fahmi, pencipta Drone Emprit, dalam cuitannya di Twitter pada 18 Mei 2021.

    Adapun narasi terbesar yang muncul adalah yang mendukung Palestina dan melawan Israel. Selain itu, mulai banyak warganet yang memandang konflik Palestina-Israel bukan soal agama, tapi tentang pendudukan dan perampasan. Di sisi lain, Hamas yang tak banyak dibahas oleh akun-akun warganet umum dan pro-oposisi justru kerap disinggung oleh akun-akun pro-pemerintah. Ketika membahas Hamas, narasi dari klaster pro-pemerintah cenderung bernada negatif. “Sebaliknya, klaster pro-oposisi cenderung positif tone-nya,” ujar Ismail.

    Top narasi bernada negatif terkait Hamas menyebut kelompok itu sebagai teroris, kaya raya dan hipokrit. Ada pula yang menyebut Hamas menumbalkan rakyat Palestina. Beberapa di antaranya bahkan secara terang-terangan menggunakan tagar #IstandwithIsrael. Sementara top narasi bernada positif mengenai Hamas mengklaim bahwa korban Israel jauh lebih banyak dari korban Hamas. Ada pula narasi yang mengglorifikasi strategi dan serangan roket Hamas ke Israel.

    Warga bersorak untuk merayakan gencatan senjata antara Israel dan Palestina, di Jalur Gaza, 21 Mei 2021. Pemerintah Israel dan kelompok Hamas di Palestina sepakat untuk melakukan genjatan senjata. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

    Di tengah perang narasi ini, berbagai hoaks pun muncul, yang semakin memanaskan suasana. Kantor berita BBC mengumpulkan klaim-klaim palsu yang viral terkait konflik Palestina-Israel, mulai dari video “Hamas menembakkan roket dari kawasan padat penduduk di Gaza”, yang disebarkan oleh juru bicara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, hingga video “Masjid Al Aqsa terbakar, dan Israel sengaja membiarkannya”, yang diedarkan oleh akun-akun pro-Palestina.

    Faktanya, video “Hamas menembakkan roket dari Gaza” diambil di Suriah. Video itu direkam saat militer Suriah menggelar operasi untuk menumpas kelompok pemberontak pada 2018. Adapun video “Masjid Al Aqsa terbakar” memang diambil di masjid yang berlokasi di Yerusalem tersebut. Tapi yang terbakar pohon di kompleks masjid itu, bukan masjidnya. Polisi Israel menyatakan api dipicu oleh petasan yang dilemparkan warga. Sementara pihak Palestina mengatakan api dipicu oleh granat kejut yang dilemparkan aparat Israel.

    Menurut pengamat Timur Tengah, Trias Kuncahyono, yang diwawancarai oleh BBC, perang narasi yang terjadi di dunia maya terkait konflik Palestina-Israel merupakan hal yang wajar. “Asal semua alasannya rasional, tidak berdasarkan emosi, atau malah tidak ada dasarnya,” ujar mantan jurnalis yang juga penulis berbagai buku terkait Timur Tengah ini. Dia pun mengingatkan bahwa semua narasi pro-kontra seputar konflik di Timur Tengah, termasuk soal isu Palestina-Israel, harus disampaikan secara dingin.

    Trias mengatakan bahwa ada tiga faktor yang meletupkan kembali konflik Palestina-Israel. Pertama, ancaman penggusuran warga Palestina di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, yang sudah tinggal selama puluhan tahun di sana, untuk pemukiman baru. Kedua, penutupan akses ke Gerbang Damaskus di Kota Lama Yerusalem yang mengarah ke Masjid Al Aqsa. Saat itu, sedang berlangsung kegiatan keagamaan yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Sementara ketiga, ulang tahun kelompok garis keras terkait perebutan Yerusalem Timur setelah 1967.

    Meskipun internet memunculkan narasi yang beraneka ragam terkait isu Palestina-Israel, internet terutama media sosial juga membuat warga Palestina memiliki kemampuan untuk menyiarkan kisah mereka tanpa filter. Selama ini, menurut Yousef Munayyer, peneliti di lembaga riset non-partisan Arab Center Washington DC, banyak media yang bias terhadap Palestina. “Kami melihat ini di banyak platform berbeda, termasuk Instagram, Facebook, dan TikTok, tempat generasi muda Palestina berbagi suara dan pengalaman mereka,” ujarnya.

    Yang paling berdampak adalah video amatir yang menunjukkan momen ketika pasukan Israel menyerbu kompleks Masjid Al Aqsa pada awal Mei lalu saat digelar salat Ramadan di sana. Serangan provokatif di tempat yang dianggap suci oleh miliaran orang di dunia tersebut memicu reaksi yang begitu besar. Sehari setelah insiden itu, anggota parlemen Amerika Serikat, para pemimpin Eropa, bahkan pemerintah negara-negara Arab yang memiliki hubungan baik dengan Israel secara terbuka mengutuk serangan itu dan menuntut de-eskalasi.

    Internet telah begitu dalam merasuki seluruh aspek kehidupan kita. Kemampuan merekam video resolusi tinggi dan secara instan mengirimkannya ke seluruh dunia membuat semua orang memiliki kekuatan yang sama dengan media. Perubahan ini, menurut Munayyer, menjadi variabel penting dalam konflik bersenjata. Negara kuat harus mengkhawatirkan remaja dengan ponselnya, yang hanya dengan sebuah konten bisa mempengaruhi wacana global. “Israel, dan negara lain, saat ini jauh lebih sulit menggunakan alat tradisional untuk mengontrol narasi peristiwa.”

    MENGHITUNG RISIKO VAKSIN ASTRAZENECA

    Bagian ini ditulis oleh Siti Aisah, peserta Health Fellowship Tempo yang didukung oleh Facebook.

    Vaksin Covid-19 AstraZeneca kembali menarik perhatian. Setelah munculnya kasus penggumpalan darah di beberapa negara dan polemik halal-haram yang sempat menimbulkan keraguan publik, mencuat laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) serius yang melibatkan vaksin tersebut. Saat ini, Kementerian Kesehatan sedang menggelar investigasi terkait meninggalnya seorang pemuda setelah menerima vaksin AstraZeneca batch atau kumpulan produksi CTMAV547. Berdasarkan data Komisi Nasional (Komnas) KIPI, hingga kini, belum ada kasus kematian akibat vaksinasi Covid-19 di Indonesia.

    Petugas kesehatan menunjukan vial vaksin COVID-19 AstraZeneca dosis pertama untuk prajurit TNI AU di Perawatan Umum Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 1 April 2021. TEMPO/Prima Mulia

    • Menyusul adanya laporan KIPI tersebut, Kemenkes memutuskan untuk menghentikan sementara distribusi dan penggunaan vaksin AstraZeneca batch CTMAV547 sebagai bentuk kehati-hatian untuk memastikan keamanan vaksin. Adapun batch AstraZeneca lainnya, menurut Kemenkes, aman untuk digunakan sehingga masyarakat tidak perlu ragu. Juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, juga mengimbau masyarakat untuk tenang dan tidak termakan oleh hoaks yang beredar.
    • Menanggapi hal ini, ahli epidemiologi dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, mengatakan keamanan vaksin harus dilihat dari hasil risetnya, mulai dari tahapan pra-klinis hingga uji klinis, yang dipublikasikan oleh produsen vaksin. Hasil ini pun harus ditinjau oleh banyak ahli di dunia serta mendapat rekomendasi WHO. Windhu menganggap penghentian penggunaan dan distribusi sementara satu batch vaksin yang dinilai bermasalah merupakan hal yang wajar. “Tetap tidak boleh menghentikan vaksinasi, batch tertentu saja yang dihentikan”, ujarnya.
    • Provinsi Alberta di Kanada melaporkan kasus kematian pertama pasien berusia sekitar 50 tahun karena kondisi pembekuan darah yang langka usai menerima vaksin AstraZeneca. Kepala petugas medis kesehatan Alberta mengatakan kasus ini terjadi setelah 253 ribu dosis vaksin AstraZeneca diberikan di provinsi itu. Beberapa negara sempat menghentikan pemakaian vaksin AstraZeneca pada Maret 2021, setelah adanya laporan pembekuan darah. Saat ini, sebagian dari negara-negara tersebut telah kembali menggunakan vaksin itu.
    • Sistem perawatan kesehatan Irlandia menyatakan vaksin AstraZeneca dapat melindungi semua kelompok usia dari Covid-19. Tapi, saat ini, vaksin itu tidak disarankan bagi mereka yang berusia di bawah 50 tahun karena risiko yang sangat jarang terjadi dari penggumpalan darah yang tidak biasa dengan trombosit yang rendah. Hal ini merupakan tindakan pencegahan karena orang yang berusia di bawah 50 tahun lebih kecil kemungkinannya terkena Covid-19 yang parah, dan ada pilihan vaksin lain yang tersedia.
    • Riset oleh Universitas Oxford menemukan pemberian dosis ketiga vaksin AstraZeneca terbukti meningkatkan antibodi terhadap protein spike virus Corona. Beberapa ilmuwan khawatir penggunaan dosis berulang dari vaksin ini, yang menggunakan vektor adenovirus, dianggap tidak efektif dalam mengenali protein spike virus. Studi ini memperkuat harapan terkait penggunaan vaksin AstraZeneca sebagai suntikan booster jika kekebalan mulai berkurang seiring waktu, atau untuk melawan varian baru virus.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    Pandangan udara menunjukkan pemukiman Ofra Israel di Tepi Barat yang terlihat pada tahun 1997. Komunitas internasional umumnya menganggap pembentukan permukiman Israel di wilayah Palestina yang didudukinya sebagai tindakan ilegal. Peace Now/Handout via REUTERS

    • Google menolak untuk menjawab pertanyaan apakah mereka berencana memperbarui peta wilayah Israel dan Gaza di Google Maps dengan citra resolusi tinggi. Selama bertahun-tahun, citra satelit atas wilayah ini kabur karena aturan Amerika Serikat yang membatasi kualitas dan ketersediaan citra semacam ini. Tahun lalu, undang-undang itu dicabut. Citra resolusi tinggi dianggap penting bagi peneliti yang memakai foto satelit untuk menguatkan apa yang sebenarnya terjadi selama masa konflik.
    • Departemen Kehakiman AS saat masih di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump diam-diam memperoleh izin untuk melakukan panggilan pengadilan dalam upaya mengidentifikasi orang di balik akun Twitter yang mengejek Devin Nunes, anggota dewan dari Partai Republik. Tapi Twitter melawan panggilan pengadilan itu. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa Departemen Kehakiman menyalahgunakan kekuatannya untuk membalas kritik terhadap Nunes, kawan dekat Trump, yang melanggar Amandemen Pertama.
    • Riset oleh perusahaan analisis jaringan Graphika menemukan pengusaha Cina yang tinggal dalam pengasingan di New York, AS, Guo Wengui, berada di balik jaringan online yang mendorong disinformasi seputar Pemilu AS dan Covid-19. Guo sempat menjadi sorotan pada 2020 lalu setelah mantan penasihat Gedung Putih di era Trump, Stephen Bannon, ditangkap di atas kapal pesiarnya atas tuduhan penipuan federal. Menurut Graphika, jaringan itu mencakup situs media seperti GTV serta ribuan akun media sosial.
    • Hingga kini, video konspirasi Covid-19 buatan Prancis berjudul “Hold-up” masih bisa diakses dengan mudah, setelah dirilis pada November 2020, termasuk di Google, YouTube, dan Facebook. “Hold-up”, yang menampilkan dirinya sebagai dokumenter yang telah melalui penelitian yang mumpuni, mengklaim bahwa pandemi Covid-19 adalah plot rahasia oleh elite global untuk menghilangkan sebagian dari populasi dunia dan mengendalikan sisanya.
    • Per 18 Mei 2021, Amazon memperpanjang larangannya atas penggunaan perangkat lunak pengenalan wajah oleh polisi hingga pemberitahuan lebih lanjut. Larangan terhadap teknologi pengawasan yang kontroversial karena adanya isu terkait bias rasial dan salah tangkap ini telah berlangsung sekitar satu tahun. Pada Juni 2020, Amazon mengeluarkan larangan satu tahun terhadap penggunaan perangkat lunaknya itu, Rekognition, untuk memberi kongres cukup waktu dalam menetapkan aturan yang sesuai.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Seiring dengan memanasnya konflik antara Palestina dan Israel dalam beberapa pekan terakhir, beredar berbagai hoaks seputar isu ini di media sosial. Di Twitter misalnya, pada 17 Mei 2021 lalu, muncul cuitan dari sebuah akun terverifikasi yang berisi foto-foto yang diklaim menunjukkan aksi bela Palestina oleh puluhan ribu warga Indonesia. Menurut klaim itu, demonstrasi ini digelar sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Sheikh Jarrah dan Jalur Gaza.

    Gambar tangkapan layar cuitan di Twitter yang berisi klaim keliru terkait foto-foto yang diunggahnya. Foto-foto ini adalah foto-foto lama, tidak terkait dengan memanasnya konflik antara Palestina dan Israel sejak awal Mei 2021 kemarin.

    Seperti diketahui, ketegangan antara Palestina dan Israel kembali meningkat sejak awal Mei. Hal ini bermula dari rencana penggusuran warga di Sheikh Jarrah, yang memicu protes di kompleks Masjid Al Aqsa yang kemudian dibubarkan oleh aparat Israel. Merespons hal itu, Hamas menyerang Israel dengan roketnya. Israel balas menyerang Gaza.

    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto-foto dalam cuitan akun terverifikasi tersebut adalah foto-foto aksi bela Palestina oleh puluhan ribu warga Indonesia yang digelar baru-baru ini, keliru. Foto-foto itu adalah foto-foto lama, yang memiliki konteks yang berbeda-beda. Foto pertama terkait dengan Aksi Bela Islam di Jakarta pada 2 Desember 2016. Sementara foto kedua dan ketiga terkait aksi solidaritas terhadap Palestina di Jakarta pada 17 Desember 2017 usai adanya pengakuan Amerika Serikat terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta terhadap beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.