CekFakta #38 Satire Ala Agan Harahap, Antara Seni & Misinformasi

Reporter:
Editor:

Angelina Anjar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gambar Basuki Tjahaja Purnama berjabat tangan Pimpinan FPI, Rizieq Shihab hasil suntingan Agan Harahap. Berkat kemampuan menyunting foto dengan rapih, sekilas peristiwa tersebut seperti benar terjadi. Instagram/@Aganharahap

    Gambar Basuki Tjahaja Purnama berjabat tangan Pimpinan FPI, Rizieq Shihab hasil suntingan Agan Harahap. Berkat kemampuan menyunting foto dengan rapih, sekilas peristiwa tersebut seperti benar terjadi. Instagram/@Aganharahap

    • Foto Ahok yang mengenakan seragam petugas SPBU Pertamina beredar di media sosial pada pertengahan November 2019 lalu. Foto itu merupakan hasil editan seorang ahli olah gambar digital (digital imaging artist), Agan Harahap. Banyak orang percaya bahwa foto bergaya satire tersebut benar adanya. Walaupun dibuat untuk menyindir, satire ternyata bisa memicu misinformasi.
    • Beberapa raksasa teknologi mengambil langkah yang berseberangan dengan Facebook dalam hal kebijakan iklan politik. Ketika Facebook mengizinkan iklan politik yang berpotensi memuat hoaks beredar di platformnya, Twitter, Snapchat, dan Google sebaliknya memperketat kebijakan iklan politiknya.

    Halo pembaca Nawala CekFakta Tempo! Pada November lalu, muncul dua foto bergaya satire yang sama-sama menampilkan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Foto pertama memperlihatkan Ahok yang memakai seragam petugas SPBU Pertamina. Pada foto kedua, Ahok tampak dipeluk oleh dua wanita. Kedua foto itu merupakan hasil editan seorang ahli olah gambar digital, Agan Harahap. Mirisnya, banyak orang mengira kedua foto itu asli. Bagaimana sebuah karya satire bisa mengelabui seseorang? Apakah satire termasuk hoaks?

    Apakah Anda menerima nawala edisi 22 November 2019 ini dari teman dan bukan dari email Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    SATIRE ALA AGAN HARAHAP, ANTARA SENI & MISINFORMASI

    Bagaimana reaksi Anda ketika melihat foto di atas untuk pertama kalinya? Mungkin, dalam beberapa detik pertama, Anda akan percaya bahwa foto itu asli. Anda akan menganggap Ahok, atau Basuki Tjahaja Purnama, benar-benar memakai seragam yang biasa dipakai oleh petugas SPBU Pertamina itu. Ditambah lagi, sebelumnya, ramai pemberitaan bahwa Ahok akan ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi salah satu bos Pertamina.

    Namun, jika mencermati foto itu lebih lama, beberapa beberapa pertanyaan yang mengganjal mungkin akan muncul di benak Anda. Kok tangannya kurus banget? Kok bos Pertamina pakai seragam petugas SPBU? Keraguan itu akan terjawab ketika Anda tahu siapa pengunggah pertama foto itu. Dia adalah Agan Harahap, seorang ahli digital imaging yang karya-karya foto manipulatifnya selalu viral. Yang terviral mungkin adalah foto Ahok berjabat tangan dengan Rizieq Shihab sambil tersenyum lebar.

    Bagaimana jika Anda tidak tahu siapa Agan? Bisa saja Anda terkecoh. Apalagi, Agan menulis keterangan foto yang bernada meyakinkan, “Mendapat foto ini dari salah satu grup WhatsApp dengan kalimat: Sumber A1: Beliau tadi siang baru fitting seragam. INFO VALID! Jangan berhenti di Anda! Jadikan jari Anda sebagai ladang amal.” Melalui karyanya Agan ingin menyentil kebiasaan netizen Indonesia yang mudah percaya kepada media sosial agar lebih berhati-hati menilai pernyataan dari seseorang yang tidak dikenal.

    Pria lulusan Fakultas Desain Komunikasi Visual dari salah satu universitas di Bandung itu, kepada  Kompas.com menyatakan bahwa keterangan untuk foto Ahok di atas merupakan sebuah sarkasme. Keterangan foto itu sengaja dibuat serupa dengan yang biasa dipakai netizen, sebagai respons Agan terhadap kebiasaan netizen Indonesia dalam menggunakan media sosial. “Bangsa kita itu paling cepat kalau urusan-urusan beginian. Sedikit-sedikit sebar hoaks, fitnah, dan sebagainya tanpa yakin akan kebenaran dan akibatnya,” ujarnya.

    Dalam wawancara khusus dengan White Board Journal pada 2017 lalu, Agan mengatakan perkembangan teknologi saat ini sangat memungkinkan untuk memunculkan hoaks dan konten post-truth. Karena itu, setiap pengguna media sosial seharusnya lebih awas terhadap berbagai informasi yang beredar di jagat maya. “Eranya seperti ini, ya hadapilah. Kalau orang gampang termakan, berarti tidak siap. Mending tinggalkan media sosial saja,” katanya.

    Saat ditanya apakah karyanya bisa dikategorikan sebagai hoaks, Agan mengatakan:

    Bisa-bisa saja. Tergantung bagaimana cara pandangnya. Ketika ada foto Habib dan Ahok bersalaman, banyak yang bilang, ‘Hoaks nih! Fitnah nih!’ Ya saya kan bikin damai, kalian tidak capek berantem terus? Saya selalu mencampurkan air dan api di karya-karya saya. Ketika ada foto Ahok dipeluk Miley Cyrus dan dicium Megan Fox, wah, Ahokers marah-marah, ‘Fitnah nih!’ Sementara kubu satunya, ‘Nih kan buktinya!’ Saya selalu bermain di wilayah itu. Kadang-kadang saya memberi harapan supaya benar-benar terjadi, tapi kadang memancing supaya jadi perang. Tergantung saya memang mau mengarahkan ke mana.”

    Potensi Misinformasi dalam Satire

    Di dunia cek fakta, masih menjadi perdebatan apakah konten yang berbau satire termasuk hoaks atau bukan. Pada awal September 2019, Dewan Literasi Media Singapura diserang netizen karena mengunggah infografis yang menyebut satire masuk kategori berita palsu. Dewan itu akhirnya meminta maaf secara resmi. Menurut undang-undang Singapura terkait berita palsu di Internet, opini, kritik, satire dan parodi memang tidak termasuk berita bohong.

    Meskipun begitu, Dewan Literasi Media Singapura menyatakan tujuannya mengunggah infografis tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran publik atas berbagai saluran misinformasi. Banyak cara bisa dipakai untuk menyebarkan berita palsu, salah satunya satire. Saat ini, banyak situs berita palsu yang berlindung di balik kata satire untuk menebar propaganda.

    First Draft, lembaga nonprofit yang fokus memerangi misinformasi, memasukkan satire dan parodi dalam kategori hoaks. Alasannya, meskipun diciptakan tanpa ada niat jahat, satire dan parodi bisa mengecoh mereka yang terbiasa menelan mentah-mentah sebuah informasi.

    Dalam forum bertajuk “Realisme Sumir” pada Kongres Kebudayaan Indonesia 2018, Agan mengungkapkan bahwa karyanya memang sering disalahgunakan untuk menyebarkan misinformasi. Hal itu terjadi karena, menurut dia, kecanggihan teknologi tidak serta-merta membuat penggunanya memiliki literasi digital yang baik. Padahal, literasi digital sangat berguna bagi seseorang untuk memilah dan memahami informasi yang diterima, termasuk satire.

    Agan mengimbau para pengguna media sosial untuk meningkatkan literasi digitalnya agar bisa membedakan antara konten asli dan konten palsu. “Tidak usah terlalu grasa-grusu, tidak usah terlalu terdepan atau teraktual dalam menyebarkan berita. Santai saja,” katanya.

    MENJADI OPOSISI FACEBOOK

    Ketika Facebook membiarkan iklan politik yang berpotensi mengandung informasi palsu berseliweran di platformnya, raksasa teknologi lainnya ramai-ramai mengambil langkah yang berlawanan. Mulai dari Twitter, Snapchat, hingga Google mengubah kebijakan iklan politik mereka menjadi lebih ketat. Perubahan itu diambil setelah berbagai kritik muncul atas kebijakan iklan politik yang diterapkan Facebook.

    - Pada 20 November 2019, Google mengumumkan perubahan kebijakan iklan politik di platformnya. Mereka akan membatasi iklan yang secara spesifik menyasar umur, jenis kelamin dan lokasi tertentu. Selain itu, Google akan memperjelas konten-konten yang dilarang dalam iklan politik. Kebijakan baru ini mulai dijalankan pekan depan di Inggris, menjelang pemilu Desember mendatang. Sementara secara global, kebijakan ini akan diterapkan pada 6 Januari 2020.

    - Bos Snapchat, Evan Spiegel, menyatakan telah membentuk sebuah tim khusus untuk mengecek fakta seluruh iklan politik di platformnya. Menurut Spiegel, iklan politik masih perlu ditampilkan di Snapchat karena platform tersebut menjangkau begitu banyak pemilih pemula. “Kami ingin pemilih pemula dapat terlibat dalam diskusi politik. Namun, kami tidak akan membiarkan misinformasi muncul dalam iklan politik di platform kami.”

    - Twitter mengumumkan perubahan kebijakan iklan di platformnya pada 15 November lalu. Mereka akan membatasi iklan yang secara spesifik menyasar lokasi, kata kunci dan minat tertentu. Kata kunci yang dilarang dalam penargetan iklan di Twitter adalah yang terkait dengan politik. Selain itu, Twitter tidak akan menerima iklan dari peserta pemilu, partai politik, serta pejabat pemerintahan.

    - Berbeda dengan raksasa-raksasa teknologi di atas, Pinterest, TikTok, dan LinkedIn tidak menjual ruang iklan politik di platformnya dalam setahun terakhir. Meski memiliki kebijakan yang berbeda-beda, mereka bertiga sama-sama ingin menghindari drama seputar iklan politik yang melibatkan Facebook, Twitter, Snapchat, dan Google.

    - Kepada reporter Axios, Vice President of Marketing Solutions Facebook, Carolyn Everson, menyatakan perusahaannya sedang mempertimbangkan untuk mengubah kebijakan menyangkut iklan politik. Namun, Facebook tidak akan membuat perubahan yang terlalu besar pada kebijakan iklan politiknyayang diyakini merupakan bentuk dukungan kepada kebebasan berbicara— meskipun mereka mendapatkan banyak kritik dari berbagai pihak.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang disinformasi dan upaya menangkalnya pekan ini yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    - Seniman Inggris, Bill Posters, berkolaborasi dengan Think Tank Future Advocacy untuk membuat video deepfake yang menampilkan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson dan lawan politiknya, Jeremy Corbyn. Video itu dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Inggris atas bahaya deepfake menjelang pemilu pada Desember mendatang. Dalam video itu, Johnson dan Corbyn saling memuji sebagai calon pemenang pemilu. Di akhir video dimunculkan peringatan mengenai deepfake.

    - Twitter tengah menyusun kebijakan baru untuk memberikan label pada deepfake dan konten manipulatif. Label akan diletakkan di sebelah tweet yang memuat konten-konten tersebut. Terdapat pula tautan ke artikel yang menjelaskan alasan konten-konten itu disebut deepfake atau telah dimanipulasi. Twitter pun akan memberikan peringatan kepada pengguna yang menyukai dan meneruskan (retweet) unggahan-unggahan yang berisi deepfake ataupun konten manipulatif. Selanjutnya Twitter akan menghapus deepfake atau konten manipulatif yang mengancam keselamatan seseorang.

    - Sejak Januari hingga September 2019, Facebook telah menghapus 5,4 miliar akun palsu di platformnya. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun lalu yakni 3,3 miliar akun palsu. Selain menutup akun-akun palsu, sepanjang April-September, Facebook juga menghapus 11,4 miliar konten berisi ujaran kebencian, 18,5 juta konten terkait eksploitasi seksual anak, 4,4 juta konten terkait penjualan obat terlarang, serta 2,5 juta konten yang memperlihatkan upaya bunuh diri atau mencederai diri sendiri.

    - Selain di Amerika Serikat, Instagram akan menguji penyembunyian jumlah like secara global. Pada April 2019, penyembunyian jumlah like telah diimplementasikan di Kanada. Kemudian, Instagram melakukan pengujian di Irlandia, Italia, Jepang, Brasil, Australia, dan Selandia Baru. Penyembunyian jumlah like itu diharapkan bisa membuat pengguna lebih nyaman dalam mengunggah foto tanpa perlu takut menerima jumlah like yang sedikit. Beberapa influencer mengatakan, penyembunyian jumlah like itu membuat mereka lebih cuek dalam mengunggah foto. 

    - Untuk menguji aturan iklan di Google, Facebook, Instagram, YouTube, Twitter, dan Snapchat, media Amerika Serikat, The Daily Beast, mengirimkan permintaan pemasangan iklan—yang berisi kampanye anti-vaksin—ke seluruh platform tersebut.Sebagian besar iklan yang penuh dengan klaim palsu ditolak. Tapi Google dan Twitter sama-sama menerima iklan yang berisi kebohongan yang pernah beredar sebelumnya, serta iklan yang ditautkan dengan situs teori konspirasi. Google bahkan menerima iklan yang terang-terangan menyebut “jangan divaksin” dan “vaksin tidak aman”.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Dalam sepekan terakhir, media massa ramai memberitakan rencana Presiden Jokowi mengangkat mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sebagai bos Pertamina. Seiring berita tersebut, beredar sebuah foto yang memperlihatkan Ahok dipeluk dan dicium oleh dua wanita. Dalam foto itu, terdapat pula tulisan, “Ini alasannya knp Alexis dipertahankan. Klo foto ini editan potong telinga saya!!!”

    Faktanya, berdasarkan penelusuran Tempo, foto itu memang editan. Foto itu dibuat oleh seorang ahli olah gambar digital atau digital imaging, Agan Harahap, dengan menggabungkan foto Ahok, foto penyanyi Miley Cyrus (wanita di kanan Ahok), dan foto aktris Megan Fox (wanita di kiri Ahok). Pria lulusan Desain Komunikasi Visual ini memang kerap membuat karya digital imaging yang viral di media sosial.

    Selain foto di atas, Agan pernah membuat foto yang menampilkan dirinya bersama dua personal band Metallica. Ada pula foto yang memperlihatkan Agan tengah ditahan di kantor polisi bersama penyanyi Rihanna. Yang terbaru adalah foto Ahok mengenakan seragam petugas SPBU Pertamina. Agan menyatakan unggahannya itu merupakan sindiran bagi kecenderungan warganet Indonesia dalam bermedia sosial.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta atas beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.