CekFakta #31 Gara-gara Hoaks, Nyawa Melayang

Reporter:
Editor:

Angelina Anjar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Kantor Bupati Jayawijaya di Wamena saat aksi demonstrasi pada Senin, 23 September 2019. Aksi yang diduga dipicu isu rasisme itu berujung kericuhan dan menimbulkan kerusakan fasilitas publik. ANTARA/HO/Kodam XVII/Cenderawasih

    Suasana Kantor Bupati Jayawijaya di Wamena saat aksi demonstrasi pada Senin, 23 September 2019. Aksi yang diduga dipicu isu rasisme itu berujung kericuhan dan menimbulkan kerusakan fasilitas publik. ANTARA/HO/Kodam XVII/Cenderawasih

    • Hoaks ternyata bisa menelan korban jiwa. Karena berita bohong, kerusuhan meletus di Wamena, Papua, pada akhir September 2019 lalu dan menewaskan puluhan orang. Informasi palsu tentang sindikat penculikan anak pun membuat 20 warga India meninggal dunia hanya dalam kurun waktu dua bulan, yakni Juni-Juli 2018, karena diamuk massa.
    • Kerusuhan di Wamena meletus pada hari yang sama dengan kerusuhan di Taman Budaya Expo Waena, Jayapura. Karena waktu kejadiannya yang bersamaan, bahkan nama kedua daerah itu juga mirip, banyak yang mengira kedua peristiwa itu sebagai peristiwa yang sama. Padahal, penyebab kedua kejadian itu sama sekali berbeda. Apa saja itu?

    Halo pembaca nawala CekFakta Tempo! Pada 23 September 2019 lalu, kerusuhan meletus di dua wilayah Papua sekaligus, yakni di Wamena, Jayawijaya, dan di Waena, Jayapura. Pemberitaan terkait dua kerusuhan itu seakan tenggelam oleh masifnya pemberitaan tentang demonstrasi mahasiswa yang menolak revisi Undang-Undang Komisi Tindak Pemberantasan Korupsi (KPK) dan sejumlah undang-undang lain yang bermasalah. Padahal dua kerusuhan itu, terutama kerusuhan di Wamena, merenggut puluhan nyawa. Anda tahu apa pemicunya? Kabar hoaks tentang seorang guru SMA konon melontarkan kata “kera” kepada salah satu muridnya. Berita bohong itu dengan cepat menyebar dan menimbulkan aksi solidaritas dari pelajar SMA lainnya. Unjuk rasa berakhir ricuh dan menewaskan 33 orang.

    Apakah Anda menerima nawala edisi 4 Oktober 2019 ini dari teman dan bukan dari email Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    GARA-GARA HOAKS, NYAWA MELAYANG 

    “Hoaks membunuhmu”. Slogan semacam itu tak hanya cocok untuk mencegah anak muda jadi perokok, tapi sepertinya juga pas untuk didengungkan kepada seluruh rakyat Indonesia. Ya, hoaks ternyata bisa membuat nyawa melayang. Bahkan, di Wamena, Papua, kabar kibul bisa memicu kerusuhan yang menyebabkan 33 orang meninggal.

    Kerusuhan di Wamena bermula dari cekcok antara seorang guru pengganti di SMA PGRI Wamena, Riris Pangabean, dengan muridnya pada Selasa, 17 September 2019. Murid itu mengira Riris menyebut kata “kera”. Padahal, menurut Riris, dia mengucapkan kata “keras”, bukan “kera”. Sebenarnya, persoalan itu sudah selesai melalui mediasi. Namun, pada Senin, 23 September 2019, guru-guru mendapati banyak fasilitas di SMA PGRI yang rusak akibat diserang massa sehari sebelumnya.

    Pada hari itu, ratusan siswa SMA di Wamena pun mogok sekolah dan turun ke jalan untuk memprotes ucapan Riris. Massa kemudian berdemonstrasi di Kantor Bupati Jayawijaya dan menuntut agar Riris dipanggil untuk dimintai keterangan lebih detail. Namun, polisi malah menembakkan gas air mata. Bersamaan dengan itu, massa dari kelompok lain bergabung dan kerusuhan pun meletus.

    Mobil-mobil, beberapa truk, berbagai gedung dan kios, serta kantor-kantor pemerintah dibakar massa. Selain itu, perusuh juga menyerang beberapa rumah penduduk dan melempari gedung-gedung milik pemerintah dengan batu sembari membawa parang. Jalan-jalan pun diblokade.

    Kerusuhan itu membuat 7.278 warga Wamena mengungsi. Mereka sempat tersebar di 59 titik penampungan, di antaranya Komando Distrik Militer Jayawijaya, Polres Jayawijaya, Pangkalan TNI Angkatan Udara Wamena, serta beberapa gereja dan masjid. Kini tak sedikit pengungsi yang mulai terserang penyakit, seperti diare, batuk, gatal-gatal, dan demam. 

    Warga menunggu pesawat Hercules milik TNI AU di Pangkalan TNI AU Manuhua Wamena, Jayawijaya, Papua, Rabu 25 September 2019. Warga mengungsi meninggalkan Wamena menggunakan pesawat Hercules pascaaksi kerusuhan pada Senin (23/9/2019). ANTARA FOTO/Iwan Adisaputra

    Selain di Wamena, berita bohong tentang sindikat penculik anak juga pernah menewaskan seorang warga Pontianak, Kalimantan Barat, bernama Maman Budiman, 53 tahun, pada 26 Maret 2017. Saat itu, Maman tengah menanyakan sebuah alamat ketika bertandang ke Mempawah. Namun, warga mencurigainya sebagai penculik anak. Maman pun dikeroyok warga. Padahal, Maman hanya ingin mengantar beras ke rumah kerabatnya.

    Insiden serupa pernah terjadi di India. Kabar hoaks tentang sindikat penculik anak mulai muncul pada Juni 2018. Pada satu hari, empat wanita yang tengah berada dalam sebuah angkutan umum di Gujarat, India, tiba-tiba dikepung oleh warga. Mereka dipaksa keluar dari angkutan umum itu, lalu dipukuli habis-habisan. Satu dari empat wanita itu meregang nyawa sesampainya di rumah sakit. Menurut polisi, keempat wanita itu sebenarnya hanya sedang mengemis di area tersebut.

    Hanya berselang sebulan, seorang musisi di India, Nilotpal Das, 29 tahun, dan rekan bisnisnya, Abhijeet Nath, 30 tahun, juga tewas akibat diamuk warga yang mencurigai mereka sebagai penculik anak. Saat didatangi massa, Nilotpal dan Abhijeet tengah mengunjungi tempat wisata air terjun di Desa Panjuri Kachari, Distrik Karbi Anglong. Mereka sempat kabur dengan mobilnya. Namun, warga menghubungi desa tetangga dan meminta mereka mencegat mobil Nilotpal serta Abhijeet. Setelah ditangkap, keduanya pun meninggal dihajar massa.

    Menurut pemerintah India, kabar hoaks tentang sindikat penculik anak tersebar cepat melalui aplikasi pesan WhatsApp dan media sosial Facebook. Karena masifnya penyebaran berita bohong itu, sebagian warga India cepat menaruh curiga terhadap orang asing yang tidak pernah terlihat di lingkungan mereka. Kecurigaan ini pun kerap memicu aksi main hakim sendiri oleh warga. Selama Juni-Juli 2018, kabar kibul itu sudah menewaskan sekitar 20 orang di India.

    Pengamat media sosial, Nukman Luthfie, pernah mengatakan informasi yang termuat dalam sebuah kabar hoaks selalu membuat seseorang khawatir. Itulah mengapa berita bohong bisa memicu aksi main hakim sendiri dan akhirnya menelan korban jiwa. Saking parahnya informasi palsu yang beredar di India, WhatsApp pun sampai menerapkan aturan baru soal kuota jumlah pesan dari seorang pengguna yang bisa diteruskan atau di-forward ke pengguna lain.

    Hanya saja, menurut Menteri Teknologi dan Informasi India, Ravi Shankar Prasar, hal itu tidak cukup untuk membendung aliran kabar kibul di India. Ia ingin WhatsApp memberikan data lokasi dan identitas pengguna untuk memudahkan penelusuran para penyebar kabar hoaks. Namun, menurut WhatsApp, langkah itu akan melanggar fitur privasi enkripsi end-to-end yang tertanam dalam aplikasi mereka.

    Alasan privasi inilah yang membuat kita tidak bisa bergantung pada WhatsApp ataupun perusahaan-perusahaan media sosial untuk memerangi kabar hoaks. Kita harus bergantung pada diri kita sendiri untuk tidak mudah mempercayai berita bohong. Ada banyak cara untuk mendeteksi informasi palsu. Perhatikan sumber berita serta penulisnya, apakah kredibel atau tidak. Periksa tanggal beritanya, apakah berita lama atau baru. Jangan percaya judul. Jangan sungkan pula bertanya kepada ahli agar Anda tidak terjebak dengan kabar kibul itu.

    FAKTA KERUSUHAN WAMENA DAN WAENA

    Kerusuhan Wamena dan Waena sama-sama terjadi pada Senin, 23 September 2019. Itulah mengapa banyak yang mengira kedua kerusuhan itu sebagai kerusuhan yang sama. Lalu, apa yang membedakan keduanya? Apa yang sebenarnya terjadi di Wamena dan Waena?

    Pengendara melintasi Kantor Bupati Jayawijaya yang terbakar saat aksi unjuk rasa di Wamena, Jayawijaya, Papua, Senin, 23 September 2019. Suasana Wamena kembali memanas akibat aksi yang berujung ricuh. ANTARA

    Kerusuhan di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, Papua

    - 17 September 2019, seorang guru pengganti di SMA PGRI Wamena, Riris Pangabean, cekcok dengan salah satu muridnya. Murid itu mengira Riris menyebut kata “kera”. Padahal, menurut Riris, ia menyebut kata “keras”, bukan “kera”. Isu soal tudingan rasis sang guru dengan cepat menyebar ke sekolah-sekolah lain.

    - 23 September 2019, pukul 08.00 WIT, ratusan siswa SMA berdemonstrasi untuk memprotes ucapan Riris.

    - Pukul 08.30 WIT, para pelajar dikumpulkan di Kantor Bupati Jayawijaya. Mereka pun menuntut agar Riris dipanggil untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Namun, polisi malah menembakkan gas air mata. Bersamaan dengan itu, massa dari kelompok lain bergabung. Kerusuhan pun terjadi. Sejumlah kendaraan dan gedung-gedung dibakar massa.

    - Pukul 11.41 WIT, Tempo.co menerbitkan berita berisi wawancara dengan Ketua Majelis Rakyat Papua, Timotius Murib. Menurut Timotius, unjuk rasa pelajar yang semula damai disusupi provokator sehingga berakhir rusuh.

    - Pukul 12.30 WIT, Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan pembatasan layanan data di Wamena.

    - Akibat kerusuhan ini, 33 orang tewas dan 79 orang terluka. Ribuan warga Wamena juga terpaksa mengungsi. Hingga 2 Oktober lalu, sebanyak 7.278 warga Wamena masih berada di posko-posko pengungsian, seperti di Komando Distrik Militer Jayawijaya, Polres Jayawijaya, Pangkalan TNI Angkatan Udara Wamena, serta beberapa gereja dan masjid. Sebanyak 6.472 warga Wamena juga diungsikan ke kota lain.

    Kerusuhan di Taman Budaya Expo Waena, Kota Jayapura, Papua

    - Pada 23 September 2019, pukul 06.55 WIT, mahasiswa Papua mencetuskan  rencana untuk membuka posko eksodus bagi mahasiswa Papua yang kembali dari tempat studinya di halaman Auditorium Universitas Cendrawasih. Namun, saat itu, banyak polisi yang sudah berkumpul di sana. Polisi pun melarang mahasiswa membangun posko eksodus itu.

    - Pukul 10.15 WIT, mahasiswa eksodus dibawa ke posko umum di Expo Waena. Namun, sama seperti di halaman Auditorium Universitas Cenderawasih, banyak polisi dari satuan Brimob yang sudah memenuhi halaman dalam Expo Waena yang sebenarnya diperuntukkan bagi posko eksodus. Mahasiswa pun protes dan meminta anggota Brimob keluar. Namun, anggota Brimob tetap bertahan. Adu mulut tak terhindarkan. Bersamaan dengan itu, seseorang dari kelompok lain yang sebelumnya sudah berkumpul di sekitar Expo Waena memukul helm salah satu anggota Brimob.

    - Pukul 11.41 WIT, pasukan dari TNI dan Polri membubarkan paksa massa di Expo Waena serta mengeluarkan tembakan dan gas air mata. Tiga warga sipil dan satu anggota TNI tewas dalam insiden ini. Namun, polisi punya versi lain di mana mahasiswa yang sedang diangkut ke Expo Waena minta diturunkan di tengah perjalanan. Mereka kemudian menghajar empat prajurit TNI yang sedang makan di warung hingga mengakibatkan satu anggota TNI mengalami luka bacok di kepala dan meninggal.

    - Pukul 16.04 WIT, Jubi.co.id menerbitkan berita berisi wawancara dengan Kepala Dinas Kesehatan Papua yang mengkonfirmasi adanya empat korban tewas dalam kerusuhan di Expo Waena, yakni tiga mahasiswa yang merupakan warga Papua dan satu anggota TNI. Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, tiga mahasiswa itu tewas diduga karena terkena peluru karet.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut ini beberapa informasi sekilas yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    - Seorang fitness influencer sekaligus model bikini asal Florida, Amerika Serikat, Tammy Steffen, dihukum lima tahun penjara karena membuat 369 akun Instagram palsu untuk menyerang rivalnya di dunia fitness sekaligus bekas rekan bisnisnya. Dia dinyatakan bersalah atas tuduhan telah melakukan cyberstalking atau penguntitan di dunia maya serta mengancam seseorang dengan mengirimkan pesan-pesan online. Salah satu pesannya berbunyi, “Aku ingin mengiris-iris tubuhmu menjadi beberapa bagian.”

    - Dalam sebuah rekaman audio yang bocor yang diterima The Verge, bos Facebook, Mark Zuckerberg, menyerukan kepada karyawannya untuk melawan kritik, pesaing, maupun pemerintah Amerika Serikat. Rekaman itu diambil dalam pertemuan terbuka antara Zuckerberg dan karyawannya pada Juli 2019. Rekaman itu juga memuat jawaban Zuckerberg atas berbagai pertanyaan karyawannya, mulai dari ancaman pemerintah AS, kepercayaan publik yang turun, hingga pesaing Facebook, seperti Twitter dan TikTok.

    - Studi Global Disinformation Index menemukan perusahaan-perusahaan teknologi mengeluarkan sekitar US$ 235 juta per tahun untuk beriklan di situs-situs penyebar disinformasi. “Kami memprediksi bahwa mereka mendanai situs-situs itu tanpa sadar,” kata Direktur Eksekutif Global Disinformation Index, Clare Melford. Menurut studi itu, beberapa perusahaan teknologi yang beriklan di situs-situs penyebar disinformasi antara lain adalah Amazon, Office Max, Sprint, dan Google.

    - Twitter meluncurkan filter spam and abuse dalam fitur pesan langsung atau direct messages mereka. Filter ini memungkinkan pengguna mengirimkan pesan langsung kepada seseorang yang belum menjadi pengikut atau follower mereka. Filter spam and abuse akan menambahkan sebuah fitur dalam kotak masuk pesan langsung, yakni fitur additional messages. Dalam fitur ini, terdapat sebuah opsi untuk menghapus pesan tanpa membukanya terlebih dahulu.

    - YouTube memperbaharui sistem pemfilteran atas fitur komentar dalam platform mereka. Pembaharuan itu ditujukan untuk memudahkan pembuat video di YouTube mencari komentar yang berisi pertanyaan dari penonton. Pembuat video juga bisa memisahkan komentar yang berasal dari penonton dengan jumlah pelanggan tertentu. Opsi-opsi yang tersedia dalam sistem pemfilteran yang baru itu antara lain adalah response status, contains question, subscriber count, subscriber status, dan member status.

    - Aplikasi kencan Match.com dituntut karena diduga menghubungkan pengguna layanan gratis mereka kepada akun-akun palsu. Langkah itu diambil Match.com agar pengguna berlangganan layanan berbayar mereka. Dalam layanan gratis Match.com, pengguna tidak bisa melihat ataupun membalas pesan yang mereka terima. Ketika ada pesan yang masuk, Match.com akan mengirim e-mail yang meminta pengguna layanan gratis untuk berlangganan layanan berbayar.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI 

    Jurnalis, aktivis, dan pendiri Watchdoc, Dandhy Dwi Laksono, ditangkap atas cuitannya tentang kerusuhan di Wamena dan Waena. Twit yang dianggap sebagai pemicu kerusuhan itu diunggah oleh Dandhy pada 23 September 2019, hari di mana Wamena dan Waena membara karena aksi massa. Walaupun akhirnya dibebaskan, Dandhy ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya.

    Tak hanya itu, Dandhy juga diserang di media sosial. Banyak yang menuduh cuitannya sebagai hoaks sehingga memicu kerusuhan di Wamena dan Waena. Tudingan itu bermula dari tulisan yang diunggah akun Fritz Hariyadi di Facebook yang berjudul “Debunk Twit Hoax Aktivis DDL tentang Jayapura dan Wamena”. Tulisan ini pun dipakai oleh akun-akun lain untuk menyerang Dandhy.

    Berdasarkan pemeriksaan Tim CekFakta Tempo, cuitan Dandhy dibuat beberapa jam setelah kerusuhan di Wamena dan Waena meletus. Karena itu, twit Dandhy tidak mungkin menjadi pemicu kerusuhan di dua wilayah itu. Lalu, apakah cuitan Dandhy hoaks? Baca penelusuran fakta selengkapnya di tautan ini.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta atas beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.