CekFakta #26 Siapa yang Tersering Sebarkan Hoaks?

Reporter:
Editor:

Angelina Anjar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi fake news. shutterstock.com

    Ilustrasi fake news. shutterstock.com

    • Riset para peneliti Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, menyimpulkan bahwa orang yang cenderung menyebarkan berita hoaks adalah orang yang lebih sering dan lama durasi penggunaan internetnya. Setiap kenaikan pengeluaran Rp 50.000 per bulan untuk internet, membuat seseorang semakin rentan menyebarkan misinformasi.
    • Para ahli keamanan siber internasional menyatakan banyak perangkat Internet of Things (IoT) yang tidak memiliki sistem perlindungan khusus yang aman. Televisi pintar, jam pintar, bahkan mesin kopi pintar menjadi sasaran empuk bagi para peretas. Lalu, bagaimana cara mencegahnya? Kami merangkumnya untuk Anda.

    Halo pembaca nawala CekFakta Tempo. Pekan lalu, kita masih disibukkan dengan berbagai kabar hoaks tentang Papua. Rencana pemindahan ibu kota pun tak luput menjadi sasaran pemberitaan palsu. Sebuah survei di Jawa Barat menunjukkan orang yang cenderung menyebarkan misinformasi adalah orang yang lebih sering dan lebih lama durasi penggunaan internetnya. Apakah Anda termasuk orang yang sangat sering menggunakan internet? Waspadalah! Jangan sampai Anda menjadi salah satu penyebar misinformasi, seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika yang keliru soal berita hoaks penculikan mahasiswa Papua di Surabaya, dan yang terbaru, Pusat Penerangan TNI, soal video perpisahan tentara dengan warga yang diklaim sebagai orang Papua.

    Apakah Anda menerima nawala edisi 3 September 2019 ini dari teman dan bukan dari email Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    PARA PENGEDAR KABAR KIBUL

    Pemindahan ibu kota menjadi topik yang hangat dibicarakan dalam sepekan terakhir. Kerusuhan di Papua juga masih mendominasi pemberitaan media massa. Sejalan dengan itu, kabar hoaks tentang kedua topik tersebut semakin berseliweran. Tim CekFakta Tempo mendapatkan banyak informasi palsu mengenai kedua topik itu. Kebanyakan, kabar kibul itu berserakan di media sosial.

    Kita semua tahu bahwa informasi hoaks memang paling sering dibagikan lewat media sosial. Menurut riset DailySocial dan Jakpat Mobile Survey Platform terhadap sekitar 2 ribu pengguna smartphone di Indonesia pada 2018, kabar kibul paling banyak ditemukan di Facebook (82,25 persen). Di urutan kedua ada aplikasi pesan WhatsApp (56,55 persen). Adapun urutan ketiga kembali ditempati media sosial, yakni Instagram (29,48 persen).

    Tapi siapa yang sebenarnya paling berperan dalam penyebaran kabar kibul itu?

    Sebelumnya, Nawala CekFakta Tempo pernah mengulas survei yang menunjukkan bahwa orang-orang yang berusia lebih tua ternyata lebih banyak menyebarkan misinformasi alias kabar hoaks. Dalam riset oleh Universitas New York dan Universitas Princeton di Amerika Serikat pada Januari 2019 itu, sebanyak 11 persen pengguna Facebook berusia di atas 65 tahun rajin membagikan berita palsu. Temuan itu dua kali lebih banyak dibandingkan kelompok umur 45-65 tahun dan tujuh kali lebih banyak dibandingkan kelompok umur termuda, yakni 18-29 tahun.

    Survei yang dilakukan Tirto.id pun memperlihatkan temuan yang serupa. Survei yang digelar pada Februari 2019 itu menunjukkan adanya korelasi positif antara peningkatan usia dengan peningkatan kepercayaan terhadap informasi dari WhatsApp. Selain itu, terlihat pula bahwa peningkatan usia membuat seseorang semakin mudah membagikan informasi dari satu grup ke grup lainnya.

    Namun, hasil yang berbeda diperoleh Tirto.id dalam survei pada April 2019 yang dilakukan secara daring. Menurut survei pasca Pemilu 2019 itu, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara satu kelompok umur dengan kelompok umur lainnya dalam membagikan berita dari satu grup ke grup lainnya.

    Hasil survei itu mirip dengan temuan para peneliti Universitas Padjajaran, Bandung, Kunto Adi Wibowo, Detta Rahmawan, dan Eni Maryani. Dalam penelitian yang digelar di Jawa Barat tersebut, usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap kecenderungan seseorang menyebarkan kabar hoaks.

    Penelitian itu menunjukkan orang yang cenderung menyebarkan berita palsu adalah orang yang lebih sering dan lebih lama durasi penggunaan internetnya. Hal itu terlihat dari tingginya pengeluaran mereka untuk internet. Penelitian ini mencatat, setiap kenaikan Rp 50.000 per bulan untuk internet, seseorang semakin rentan menyebarkan kabar hoaks.

    Adakah faktor lainnya? Ada. Semakin tinggi tingkat kepercayaan seseorang terhadap konspirasi, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk menyebarkan informasi palsu. Adapun yang dimaksud konspirasi, misalnya, kepercayaan seseorang terhadap isu bahwa Presiden Joko Widodo adalah antek Cina yang ingin menjajah Indonesia dengan membawa tenaga kerja asing Cina. Tentu faktanya jauh dari tudingan itu.

    Selain itu, survei Unpad juga mencatat bahwa seseorang yang tidak percaya diri dengan kecakapannya bermedia sosial mempunyai kecenderungan lebih tinggi dalam menyebarkan hoaks. Seseorang dianggap cakap bermedia sosial ketika dirinya bukan hanya bertindak sebagai konsumen konten, tapi juga terampil dalam memproduksi konten.

    Menjadi Pembasmi Hoaks

    Dengan semakin maraknya berita hoaks, inilah saatnya kita semua meningkatkan peran untuk membendung aliran kebohongan itu. Cara yang termudah (atau malah tersulit?) adalah membuang smartphone Anda. Kalau itu mustahil dilakukan, cobalah untuk melepaskan diri dari media sosial alias puasa medsos. Kalau masih tidak bisa? Silahkan baca kabar-kabar itu, tapi tahan nafsu Anda untuk menyebarkannya kepada orang lain.

    Di era media sosial ini, kita memang akan mudah terkecoh dengan berita-berita palsu, apalagi yang kelihatannya memberikan informasi yang bermanfaat. Tapi cobalah untuk tidak mem-forward kabar apapun, kecuali Anda sudah mengeceknya ke berbagai sumber yang kredibel, salah satunya media massa.

    Saat ini, ada pula beberapa organisasi di Indonesia yang secara resmi terverifikasi dalam Jaringan Internasional Penguji Fakta atau IFCN. Selain Tempo.co, ada Kompas.com, Tirto.id, Liputan6.com, dan Turnbackhoax.id (milik Masyarakat Anti Fitnah Indonesia atau Mafindo). Biasanya, organisasi-organisasi ini memiliki kanal khusus pengecekan fakta di situsnya. Lewat situs itu, Anda bisa mengecek informasi yang Anda terima itu hoaks atau bukan.

    Bagaimana dengan mereka yang percaya terhadap konspirasi? Menurut para peneliti Universitas Padjajaran, kepercayaan terhadap konspirasi bisa ditanggulangi dengan meningkatkan kepercayaan diri individu untuk mengontrol keadaan dan memperkuat kemampuan analisis mereka. Hal itu diperlukan agar mereka tidak terjerumus pada solusi yang ditawarkan dalam sebuah konspirasi.

    Selain itu, agar lebih percaya diri dengan kecakapannya bermedia sosial, seseorang harus mengetahui bagaimana sebuah konten diproduksi. Dengan pengetahuan terkait hal itu, mereka akan memiliki keahlian untuk menafsirkan sebuah informasi. Seseorang dengan kemampuan memproduksi sebuah konten, tidak akan bergantung pada hasil karya orang lain --yang mungkin saja merupakan kabar hoaks-- untuk disebarkan.

    Jadi, selamat menjadi pembasmi hoaks!

    AWAS, PERANGKAT IOT PALING RAWAN DIRETAS

    Apakah Anda memiliki peralatan elektronik di rumah yang terkoneksi dengan internet? Ataukah Anda malah punya rumah pintar yang segala fungsi di dalamnya dapat dikontrol melalui internet? Kalau iya, Anda harus waspada dengan kemungkinan dibobolnya perangkat yang kerap disebut internet of things (IoT) itu dan dicurinya data-data pribadi Anda yang tersimpan di sana.

    - Menurut perusahaan keamanan siber multinasional asal Amerika Serikat, Palo Alto Networks, perangkat IoT merupakan salah satu teknologi yang paling rawan disusupi hacker. Country Director Palo Alto Networks Indonesia, Surung Sinamo, mengatakan banyak perangkat IoT yang beredar di pasaran yang tidak memiliki sistem perlindungan khusus yang aman.

    - Berdasarkan survei Aruba, anak perusahaan teknologi Hewlett Packard Enterprise, terhadap 1.150 responden di wilayah Asia Pasifik pada 2017, terdapat 88 persen responden yang mengalami pembobolan keamanan terkait IoT. Aruba juga menemukan, pada 2016, hampir 6 ribu video bayi baru lahir yang sakit di sebuah rumah sakit di Cina bocor ke publik karena perangkatnya yang berbasis IoT dibobol hacker.

    - Pakar keamanan siber, Eugene Kaspersky, menyebut bahwa televisi pintar merupakan salah satu sasaran paling empuk terhadap pembobolan hacker yang ingin memata-matai seseorang. Dengan serangan yang bernama cryptolocker, peretas dapat membajak televisi pintar seseorang, menampilkan sebuah pesan di layar televisi itu, dan menodong si pemilik televisi untuk membayarkan sejumlah uang agar peretas menghentikan aksinya.

    - Menurut Kaspersky, perangkat lainnya yang juga rawan disusupi hacker adalah jam pintar. Biasanya, jam pintar dapat digunakan untuk menyimpan data kesehatan penggunanya. Data kesehatan itu berpotensi dicuri dan disalahgunakan oleh peretas demi kepentingannya sendiri.

    - Perusahaan keamanan siber Avast menemukan bahwa mesin kopi pintar pun rentan diserang peretas. Kepala Eksekutif Keamanan Avast, Vince Steckler, berujar mesin kopi pintar pasti terkoneksi dengan smartphone pemiliknya. Lewat koneksi antar perangkat itu, hacker dapat mengakses smartphone seseorang dan mencuri data pribadi serta informasi bank orang tersebut.

    Lalu, apa yang harus kita lakukan jika sudah memiliki perangkat-perangkat itu? Menurut peneliti perusahaan keamanan siber Fortinet, Aamir Lakhani, pengguna harus sesering mungkin mengubah password perangkat-perangkat IoT yang mereka gunakan. Selain itu, pengguna juga harus mengatur perangkat IoT-nya agar hanya bisa diakses dari rumah.

    Sementara untuk Anda yang berencana membeli perangkat IoT, peneliti Avast, Martin Hron, memberikan beberapa tips agar potensi masalah keamanan yang bisa Anda alami bisa terminimalisir, yakni:

    - Bandingkan harga suatu perangkat dengan perangkat lainnya yang sebanding. Jika harganya hampir sama, itu pertanda baik. Tapi, jika harganya jauh lebih rendah, Anda wajib waspada.

    - Lihat mereknya. Jika bukan merek terkenal, cari tahu vendor apa yang menjual perangkat itu. Kemudian, di situs vendor, periksalah kelengkapan informasi tentang perangkat tersebut, termasuk spesifikasi teknis, jadwal pembaruan perangkat lunak, dan tingkat dukungan perangkat yang disediakan oleh manufaktur.

    - Cek desain situsnya. Apakah perusahaan perangkat itu menggunakan HTTP atau HTTPS dalam URL mereka? Perusahaan yang telah sadar akan pentingnya keamanan pasti menggunakan HTTPS yang merupakan protokol internet untuk mengenkripsi koneksi antara pengguna terakhir dengan situsnya. Ini bisa menjadi indikator tentang seberapa penting nilai keamanan bagi perusahaan tersebut.

    - Tinjau kemampuannya. Apa saja informasi yang dapat dikumpulkan oleh perangkat tersebut? Apakah perangkat ini akan menggunakan mikrofon atau kamera? Pertimbangkan data yang bisa terkumpul dan risiko yang mungkin muncul. Tanyakan ke diri Anda, apakah masalah jika perangkat ini memiliki akses ke data pribadi Anda? Jika jawabannya "ya", ada baiknya Anda berpikir dua kali untuk membeli produk tersebut.

    - Cari ulasan dari pengguna lain, apakah memuji atau malah mengalami masalah saat menggunakan produk tersebut. Lihatlah apakah ulasan itu asli dengan detail pernyataan yang masuk akal ataukah hanya ulasan satu kata serta pemberian nilai 4 atau 5 bintang yang bisa saja dipalsukan.

    - Teliti proses pengaturan awal produk, apakah pengaturan tersebut mengharuskan pengguna mengubah kata sandi default menjadi sandi yang lebih rumit. Jika proses pengaturan awal ini hanya untuk menyalakan perangkat, tanpa menyatakan perihal keamanan, bisa saja hal ini menjadi alarm tanda bahaya bagi pengguna.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut ini beberapa informasi sekilas yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    - Pemerintah Cina menggunakan media sosial, terutama LinkedIn, untuk merekrut mata-mata di luar negeri. Salah satu yang diincar adalah mantan pejabat pemerintahan Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama, serta mantan pejabat Kementerian Luar Negeri Denmark. Agen intelijen Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis telah mengeluarkan sebuah peringatan untuk mewaspadai cara yang dilakukan oleh Cina tersebut.

    - Meedan, perusahaan rintisan dalam bidang jurnalisme dan teknologi di Amerika Serikat, meluncurkan sebuah tools baru yang dapat membantu para pemeriksa fakta. Alat itu memungkinkan para pengguna meneruskan konten yang ingin dicek kebenarannya kepada organisasi pemeriksa fakta. Jika konten itu sudah diverifikasi, pengguna akan menerima jawabannya secara otomatis.

    - Pasangan suami-istri di India menciptakan aplikasi portal berita pintar bernama Unfound News. Aplikasi ini dibuat sebagai terobosan baru untuk membatasi penyebaran misinformasi. Menurut penciptanya, Unfound News memiliki sebuah algoritma yang dapat menghilangkan narasi bias dalam berita apapun dengan memberikan pembaca beragam perspektif yang terkandung dalam sebuah berita. Algoritma itu juga akan membuat aplikasi bisa menawarkan informasi latar belakang sebuah berita ketika diperlukan.

    - Saat ini, di YouTube Kids, para orangtua bisa memilih kategori tayangan dalam tiga kelompok umur yang berbeda, yakni kelompok umur di bawah 4 tahun, kelompok umur 5-7 tahun, dan kelompok umur 8-12 tahun. Pengkategorian baru itu merupakan upaya YouTube untuk membuat platformnya lebih aman bagi anak-anak.

    - Facebook sedang mengembangkan aplikasi pesan baru yang bernama Threads. Aplikasi itu ditujukan untuk meningkatkan keintiman pengguna dengan teman-teman terdekatnya. Salah satu fitur yang dimiliki oleh aplikasi pendamping Instagram ini adalah memungkinkan pengguna membagikan lokasinya, kecepatannya saat berada di jalan, hingga ketahanan baterainya. Saat ini, aplikasi itu sedang diuji secara internal di Facebook.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI 

    Setelah Kementerian Komunikasi dan Informatika, kini giliran Pusat Penerangan TNI yang menyebarkan informasi hoaks. Pada 30 Agustus 2019, kanal Puspen TNI di YouTube mengunggah video berjudul “We Love Papua”. Video itu berisi momen perpisahan antara pasukan TNI dengan warga yang mereka klaim sebagai penduduk Papua. Sehari kemudian, Puspen TNI lagi-lagi mengunggah video itu, tapi di akun Twitter-nya. Tak lama setelah diunggah, video itu pun dihapus. Ternyata, banyak warganet yang menyadari klaim TNI bahwa video itu terjadi di Papua adalah keliru.

    Berdasarkan penelusuran Tempo, video itu merupakan video perpisahan anggota Batalyon Infanteri 715 Mutuliato dengan warga di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Satu menit pertama dalam video yang diunggah Puspen TNI merupakan cuplikan dari video yang pernah diunggah di YouTube pada 28 November 2018 yang berisi momen haru ketika anggota Batalyon Infanteri 715 Mutuliato meninggalkan perbatasan Indonesia-Timor Leste.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta atas beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang Anda rasa tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Animal Crossing dan 9 Aplikasi Makin Dicari Saat Wabah Covid-19

    Situs Glimpse melansir peningkatan minat terkait aplikasi selama wabah Covid-19. Salah satu peningkatan pesat terjadi pada pencarian Animal Crossing.