CekFakta #120 Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Fitra Moerat Ramadhan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Badut dari Komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) membagikan masker saat melakukan edukasi tentang protokol kesehatan pada siswa di SDN 03 Citayam, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 6 September 2021. Aku Badut Indonesia (ABI) melakukan aksi kampanye edukasi tentang protokol kesehatan dengan menyanyikan lagu 3 M, membagikan masker dan mengingatkan protokol kesehatan selama Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Sekolah. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Badut dari Komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) membagikan masker saat melakukan edukasi tentang protokol kesehatan pada siswa di SDN 03 Citayam, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 6 September 2021. Aku Badut Indonesia (ABI) melakukan aksi kampanye edukasi tentang protokol kesehatan dengan menyanyikan lagu 3 M, membagikan masker dan mengingatkan protokol kesehatan selama Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Sekolah. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Apa kabar pembaca Nawa Cek Fakta Tempo?

    Pekan ini, klaim-klaim seputar Afghanistan mulai mereda seiring dengan kemunculan kembali misinformasi mengenai Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Dua di antaranya adalah soal penggunaan thermogun sebagai alat pemindai barcode di dahi dan klaim-klaim seputar Vaksin Nusantara.

    Masih berhubungan dengan dunia kesehatan tersiar kabar dari jagat siber, bahwa terjadi kebocoran data yang berasal dari electronic Health Alert Card. Sebuah situs keamanan siber menyatakan bahwa data kartu elektronik yang kerap disebut sebagai e-HAC itu ditemukan pada sebuah lokasi yang dapat diakses tanpa batasan.

    Beralih ke dunia pendidikan, pemerintah mulai menyalakan lampu hijau untuk pelaksanaan kebijakan pelajaran tatap muka. Kebijakan yang dibuat pemerintah itu senada dengan kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan sejumlah sekolah mancanegara. Sejumlah penelitian menunjukkan berbagai dampak penerapan pembelajaran tatap muka di tengah berkecamuknya varian Delta. Sejumlah pihak bahkan menyiratkan ketidaksetujuannya.

    Apakah Anda menerima nawala ini dari teman dan bukan dari e-mail Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Bagian ini ditulis oleh Siti Aisah, peserta Health Fellowship Tempo yang didukung oleh Facebook.

    Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi Covid-19 

    Selama masa pandemi, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilaksanakan untuk mengurangi penyebaran Covid-19 di klaster pendidikan. Namun, pada pekan ketiga September 2021, Dinas Pendidikan DKI Jakarta berencana membuka sekolah tatap muka selama lima hari dalam satu pekan. Sejauh ini, baru 610 sekolah yang melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas. Di tengah kemunculan varian Delta yang sangat menular, sebagian pihak masih menyimpan kekhawatiran bahwa rencana tersebut dapat memicu peningkatan kasus Covid-19. Apa saja yang harus diperhatikan agar tetap aman dalam melaksanakan sekolah tatap muka di masa pandemi Covid-19? 

    Federasi Serikat Guru Indonesia Retno Listyarti. Tempo/Tony hartawan

     

    • Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendukung kebijakan pemerintah untuk membolehkan sekolah tatap muka di masa pandemi bagi wilayah zona level tiga ke bawah. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti memaparkan empat syarat, di antaranya sekolah sudah memenuhi segala kebutuhan penyelenggaraan sekolah tatap muka, 70 persen warga sekolah harus sudah divaksin Covid-19, pemerintah daerah jujur dengan syarat positivity rate di bawah 5 persen untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka, dan pemetaan materi tiap mata pelajaran. KPAI mendorong agar pemerintah pusat harus memastikan percepatan dan penyediaan vaksinasi anak merata di seluruh Indonesia. “Kalau hanya guru yang divaksin, maka kekebalan komunitas belum terbentuk, karena jumlah guru hanya sekitar 10 persen dari jumlah siswa,” ujar Retno.
    • Sementara itu, tim advokasi Laporan Warga Lapor Covid-19, Diah Dwi Putri, mengatakan Indonesia belum siap menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) di tengah pandemi. Berdasarkan laporan yang diterima, selain pelanggaran protokol kesehatan dalam pelaksanaan PTM, Diah menilai positivity rate selama 2 pekan terakhir ini masih berada di angka 30 persen. Kemudian cakupan vaksinasi dosis kedua untuk usia 12-17 tahun belum sampai 10 persen, dan vaksinasi untuk anak usia di bawah 12 tahun belum tersedia. LaporCovid-19 juga mendesak pemerintah mempercepat pelaksanaan vaksinasi untuk guru, tenaga pendidik, dan siswa.
    • Siswa sekolah di Inggris kembali melakukan pembelajaran tatap muka dengan ketentuan baru. Yvonne Doyle, direktur medis Kesehatan Masyarakat Inggris, mengatakan, “Sekolah bukanlah pendorong dan bukan pusat infeksi”. Tetapi Sage, sekelompok ilmuwan yang menjadi penasehat pemerintah Inggris, telah memperingatkan bahwa peningkatan tinggi virus corona akan sangat mungkin terlihat di sekolah-sekolah di Inggris pada akhir September. Dalam banyak hal, tanggung jawab telah diserahkan kepada pihak sekolah untuk memutuskan langkah-langkah yang diperlukan. Misalnya, ketentuan menjaga jarak telah dilonggarkan pada sekolah-sekolah di Inggris, Wales dan Irlandia Utara. Sedangkan di Skotlandia, masih mempertahankan lebih banyak pembatasan hingga akhir September. 
    • Studi tentang Covid-19 di sekolah-sekolah di Carolina Utara, Amerika Serikat mengamati lebih dari 90.000 murid dan staf sekolah yang melaksanakan pembelajaran tatap muka selama 9 minggu di musim gugur lalu. Studi yang diterbitkan pada Januari 2021 tersebut menemukan penularan SARS-CoV-2 sekunder di dalam sekolah sangat terbatas, yaitu hanya 32 kasus penularan yang teridentifikasi di sekolah. Sebagian besar kasus penularan sekunder terkait ketiadaan penggunaan masker yang terjadi pada anak kecil saat makan siang, atau di antara anak berkebutuhan khusus yang berusia lebih besar. Studi kohort ini mengungkapkan bahwa penegakan kebijakan mitigasi SARS-CoV-2—seperti pemakaian masker, jarak fisik, dan kebersihan tangan—menghasilkan kelompok infeksi SARS-CoV-2 yang minimal, tingkat penularan sekunder yang rendah di sekolah dan tidak menyebabkan beban infeksi komunitas yang lebih besar. 
    • Studi preprint terbaru menunjukkan beberapa hasil intervensi yang efektif terhadap transmisi aerosol SARS-CoV-2 di sekolah. Ventilasi alami atau membuka jendela sepanjang hari mampu menurunkan risiko paparan Covid-19 sebanyak 2-14 kali lipat. Penggunaan masker bedah menyebabkan penurunan risiko paparan sebesar 8 kali lipat. Sedangkan penggunaan filter HEPA  (high efficiency particulate air) mampu menurunkan risiko paparan Covid-19 sebanyak 2,5-4 kali lipat. Intervensi gabungan meliputi ventilasi alami, penggunaan masker, dan filter HEPA merupakan intervensi yang paling efektif dengan penurunan risiko paparan Covid-19 hingga 30 kali lipat atau lebih.
    • Sebuah penelitian di Amerika Serikat yang diterbitkan pada bulan Agustus menunjukkan bahwa tanpa penggunaan masker dan tes Covid-19 di sekolah, lebih dari 75 persen siswa berisiko terinfeksi dalam waktu tiga bulan setelah kembali ke sekolah. Penggunaan masker dapat mengurangi infeksi siswa hingga 26-78 persen. Pelaksanaan testing Covid-19 setiap dua minggu sekali bersamaan dengan penggunaan masker dapat mengurangi infeksi hingga 50 persen. Untuk mencegah infeksi baru di masyarakat, membatasi ketidakhadiran di sekolah, dan mempertahankan pembelajaran langsung, intervensi seperti menggunakan masker dan testing harus diterapkan secara luas, terutama di lingkungan sekolah dasar di mana anak-anak pada usia tersebut belum memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin Covid-19. 

    Bagian ini ditulis oleh Inge Klara Safitri dari Tempo Media Lab

    Waktunya Trivia!

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    WhatsApp baru saja didenda sebesar 225 juta Euro (Rp 3,8 triliun) di Irlandia karena melanggar aturan perlindungan data di negara itu. Menurut Komisi Perlindungan Data Irlandia (DPC), aplikasi pesan itu tidak memberikan informasi perlindungan data yang diperlukan kepada penggunanya dan gagal memenuhi kewajiban transparansi. Denda tersebut menjadi yang terbesar yang pernah dijatuhi DPC, dan terbesar kedua yang pernah dikenakan pada sebuah organisasi di bawah undang-undang perlindungan data pribadi Uni Eropa. Dalam dokumen putusannya, tertulis bahwa aplikasi besutan Facebook itu dianggap gagal memproses data pengguna dengan cara yang sah, adil dan transparan.

    Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui akun Instagram resmi mereka memberi tips untuk mencegah penyalahgunaan KTP ketika hendak dikirimkan ke orang lain. Caranya cukup dengan memberikan watermark atau tanda air yang dibuat dengan cara diedit secara digital maupun ditulis tangan. Watermark ini nantinya harus berisi setidaknya keterangan tanggal dan kepada siapa foto/scan KTP (atau berkas penting lainnya) diberikan. Tujuannya yaitu jika data tersebut disalahgunakan, pemilik KTP bisa mengetahui pihak mana yang melakukan penyalahgunaan tersebut.

    Ilustrasi data internet bocor. Foto: Pixabay

    Sebanyak 1,3 juta data pengguna electronic Health Alert Card (eHAC) dilaporkan bocor. Kebocoran data melibatkan aplikasi milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tersebut pertama kali ditemukan perusahaan keamanan siber, vpnMentor. Dilansir dari laman resminya, vpnmentor.com, data pengguna aplikasi pelacakan Covid-19 untuk kepentingan penerbangan tersebut ditemukan di sebuah server yang bebas diakses siapapun.

    Reddit mengambil tindakan terhadap kelompok yang menyebarkan misinformasi Covid. Setelah berhari-hari menjadi kontroversi atas keputusannya untuk tidak menindak informasi yang salah tentang Covid-19, Reddit akhirnya mengambil tindakan terhadap lusinan kelompoknya yang dikenal sebagai “subreddits”. Pada hari Rabu, media sosial itu melarang satu subreddit terkemuka yang disebut r/NoNewNormal. Subreddit itu menggambarkan dirinya sebagai tuan rumah “diskusi [skeptis] tentang ‘normal baru’ yang telah bermanifestasi sebagai hasil dari pandemi virus corona (Covid-19)”. Tempat diskusi itupun telah ditandai oleh beberapa subreddit terkemuka sebagai sumber signifikan kesalahan informasi Covid-19 dan vaksin.

     

    Periksa Fakta Sepekan Ini

    Dalam sepekan terakhir, klaim seputar Vaksin Covid-19 mendominasi kanal CekFakta Tempo. Klaim-klaim tersebut tak hanya terkait dengan program vaksinasi di dalam negeri, tetapi klaim seputar konspirasi chip dan barcode pengintai dalam vaksin kembali beredar di media sosial.

    Selain itu, klaim seputar peristiwa di Afghanistan juga masih ditemukan. Klaim-klaim ini beredar setelah Taliban menguasai kembali Ibu Kota Kabul, tiga pekan terakhir. Buka tautannya ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Afghanistan

    Kesehatan

    Lain-lain

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.


    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.