CekFakta #118 Siapkah Indonesia Hidup Berdampingan dengan Covid-19?

Reporter:
Editor:

Fitra Moerat Ramadhan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis bersiap memberikan vaksin Covid-19 pada warga di SDN 05 Kembang Sepatu, Kramat, Jakarta, Selasa, 17 Agustus 2021. Sejumlah petugas juga tampak mengenakan masker merah putih. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Petugas medis bersiap memberikan vaksin Covid-19 pada warga di SDN 05 Kembang Sepatu, Kramat, Jakarta, Selasa, 17 Agustus 2021. Sejumlah petugas juga tampak mengenakan masker merah putih. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Halo pembaca nawala Cek Fakta Tempo!

    Beberapa hari terakhir, klaim-klaim seputar kondisi Afghanistan dan Tentara Taliban mendominasi. Klaim-klaim ini mulai beredar ketika kelompok tersebut mengambil alih kekuasaan Afghanistan setelah Amerika Serikat dan NATO menarik diri pada 15 Agustus 2021.

    Di samping itu, pesan berantai dan unggahan terkait pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wabah Coronavirus Disease 2019, kerap disebut Covid-19, masih bermunculan. Setelah diperiksa, Tim Cek Fakta menemukan berbagai fakta yang berbeda-beda.

    Kemudian, dunia sedang bersiap-siap untuk hidup berdampingan dengan Covid-19 dengan mempersiapkan berbagai penyesuaian dan pelonggaran. Bagaimana dengan Indonesia?

    Apakah Anda menerima nawala ini dari teman dan bukan dari e-mail Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Siapkah Indonesia Hidup Berdampingan dengan Covid-19?

    Bagian ini ditulis oleh Siti Aisah, peserta Health Fellowship Tempo yang didukung oleh Facebook.

    Berdasarkan analisis yang dirilis oleh Bloomberg dengan memperhitungkan jumlah vaksinasi yang dilakukan di masing-masing negara, pandemi Covid-19 di Indonesia diprediksi berakhir 10 tahun lagi. Sedangkan pandemi di dunia secara global diperkirakan berakhir tujuh tahun lagi. 

    Petugas medis bersiap memberikan vaksin Covid-19 pada warga di SDN 05 Kembang Sepatu, Kramat, Jakarta, Selasa, 17 Agustus 2021. Sejumlah petugas juga tampak mengenakan masker merah putih. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Seiring dengan perkembangan vaksinasi dan dinamika penanganan Covid-19, sejumlah negara tengah menyusun rencana untuk mengadopsi strategi hidup untuk berdampingan dengan Covid-19. Beberapa ahli telah menyampaikan bahwa ke depan, Covid-19 akan cukup lama berada di tengah-tengah populasi. James McCaw, ahli epidemiologi matematika Universitas Melbourne dan Doherty Institute mengatakan bahwa dinamika Covid-19 akan beredar di antara populasi selama beberapa dekade mendatang. “Vaksin akan menyebabkan lebih sedikit orang yang terinfeksi, namun yang lebih penting mereka yang terinfeksi akan memiliki risiko lebih kecil untuk mengalami sakit parah atau meninggal,” katanya. Di tengah tingginya kasus dan dinamika penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, seberapa siap Indonesia bisa hidup berdampingan dengan Covid-19?  

    • Singapura mengumumkan rencana untuk mengurangi pembatasan akibat Covid-19 pada kehidupan sehari-hari dan mulai sedikit melonggarkan kontrol perbatasan, hal tersebut tak lepas dari tingkat vaksinasi negara tersebut yang saat ini berada di antara yang terbaik di dunia. “Kami sekarang berada dalam posisi yang lebih kuat untuk melanjutkan perjalanan untuk pembukaan kembali, tetapi dengan berhati-hati dan terkalibrasi,” kata Menteri Perdagangan dan Industri Gan Kim Yong. Kuncinya, kata para pejabat, adalah vaksinasi massal dengan menargetkan 80 persen dari jumlah penduduk hampir 5,7 juta jiwa. Saat ini, jumlah kasus telah stabil, turun dari tingginya kasus pada akhir Juli, dan sistem rumah sakit belum kewalahan. Tingkat vaksin telah meningkat, dengan 67% populasi sudah divaksinasi lengkap. 
    • Seperti Singapura, Pemerintah Australia sedang menyiapkan empat langkah hidup berdampingan dengan virus Covid-19. Fase pertama yang diterapkan adalah menggenjot program vaksinasi. Fase kedua mengubah fokus penanganan Covid-19 dari mencegah dan menekan penularan menjadi mengurangi kematian, sakit parah dan perawatan orang yang terkena virus. Fase selanjutnya adalah tidak ada lagi kata lockdown. Fase terakhir kembali ke masa normal. Untuk mencapai tahap ini tergantung pada kesiapan warga untuk divaksinasi. 
    • Pakar medis lokal di Korea menyatakan pandangan yang beragam tentang apakah strategi hidup dengan Covid-19 dapat diadopsi di negara tersebut. Beberapa mengatakan bahwa pemerintah harus mulai bersiap untuk “new normal”, di mana virus Corona menjadi endemik, sementara yang lain memperingatkan agar tidak menerapkan langkah-langkah yang lebih santai, mengutip tingkat vaksinasi yang rendah di negara tersebut saat ini. Chon Eun-mi, profesor kedokteran pernapasan di Rumah Sakit Mokdong Universitas Wanita Ewha mengatakan, “Penetapan social distancing saat ini harus dipertahankan setidaknya hingga akhir tahun ini, mengingat fakta bahwa pengobatan untuk Covid-19 belum dikembangkan, dan sekitar 80 persen populasi belum sepenuhnya divaksinasi di Korea.” Kim Woo-joo, spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Guro Universitas Korea, juga mengatakan, “Situasi virus sangat berbeda di Singapura daripada di Korea. Singapura adalah negara kota kecil, dan tingkat vaksinasinya lebih tinggi dari 70 persen.”
    • Negara-negara di Eropa seperti Jerman, Italia, dan Prancis beralih dari upaya untuk mengakhiri pandemi menjadi bersiap untuk menghadapinya. Rata-rata kasus Covid-19 harian selama seminggu terakhir turun 14% dari puncak akhir Juli yang mencapai lebih dari 110.000, menurut analisis Wall Street Journal dari data Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa dan pemerintah Inggris. Tingkat rawat inap akibat Covid-19 di Eropa lebih rendah daripada gelombang pandemi sebelumnya, hal itu tak lepas dari efek vaksin. Masa depan yang lebih mungkin, kata Paul Hunter, profesor kedokteran di University of East Anglia Inggris, adalah keseimbangan yang mirip dengan apa yang dialami akibat virus Corona lain, di mana virus “kehilangan sengatannya” karena vaksin, tetapi masih menyebabkan penyakit berulang dan kematian
    • Selandia Baru dipuji atas penanganan terhadap Covid-19 dengan cara menutup perbatasan pada hampir semua warga negara asing lebih awal, dan memberlakukan karantina ketat yang dikelola negara pada turis yang datang. Selandia Baru telah melaporkan kurang dari 3.000 kasus Covid-19 dan hanya 26 kematian dalam populasi sekitar 5 juta. Tetapi Selandia Baru lambat dalam vaksinasi Covid-19. Menurut data yang dikumpulkan oleh CNN, Selandia Baru telah sepenuhnya mengimunisasi kurang dari 20 persen dari populasinya. Awal bulan ini, Selandia Baru mengumumkan rencana untuk mulai membuka kembali perbatasan bagi turis yang divaksinasi dari negara-negara berisiko rendah mulai awal tahun 2022, menandakan relaksasi tentatif dari kontrol perbatasan pandemi yang ketat.
    • Sementara itu di Indonesia, Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan angka penambahan kasus infeksi dan kematian pada 17 Agustus 2021 dibandingkan dengan tahun lalu. Menurutnya, data pada 17 Agustus 2020 menunjukkan total 141.370 kasus Covid-19. Data 17 Agustus 2021 menunjukkan sudah ada 3.803.479 kasus Covid-19. “Angka ini naik lebih dari 27 kali lipat, dengan penambahan kasus baru pada 17 Agustus 2021 sebanyak  20.741 orang,” ujar dia. Total yang wafat sudah 120.013 orang berdasarkan data 17 Agustus 2021, naik hampir 20 kali lipat. Jumlah yang meninggal per hari pada 17 Agustus 2021 juga amat tinggi bila dibanding dengan setahun sebelumnya, yaitu 1.180 orang.

    Bagian ini ditulis oleh Inge Klara Safitri dari Tempo Media Lab

    Waktunya Trivia!

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    Rencana WhatsApp menghadirkan pesan hilang setelah 90 hari memberikan tambahan pilihan dan fleksibilitas bagi pengguna. Saat ini opsi tersebut berhasil diterapkan ke WhatsApp Android beta (terlihat di versi terbaru, 2.21.9.6). Sebelumnya, WhatsApp juga telah merilis fitur lihat sekali untuk pengguna iPhone pekan lalu. Perubahan diluncurkan ke pengguna iPhone melalui  WhatsApp versi baru 2.21.150 yang tersedia untuk diunduh melalui App Store.

    Ilustrasi Media Sosial. Kredit: Forbes

    WiFi publik memang sangat praktis bagi pengguna dan membantu saat diperlukan. Tetapi sayangnya, fasilitas publik itu tidak selalu aman karena dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksi mereka. Pengguna WiFi publik memiliki kemungkinan menghadapi pencurian data pribadi yang sangat nyata. Jika pelaku kejahatan siber berhasil mendapatkan data finansial, kredensial login, dokumen, obrolan pribadi, dan sebagainya dari pengguna, mereka akan mampu merampok tabungan dan membajak akun pengguna tadi. Berikut lima tips aman menggunakan WiFi publik yang direkomendasikan oleh Kapresky

    Setelah bertahun-tahun dituduh membantu menyebarkan informasi yang salah, Twitter akhirnya memberi pengguna cara mudah untuk melaporkan cuitan yang menyesatkan. Pengguna Twitter (TWTR) di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, sekarang dapat melaporkan tweet yang berisi informasi yang salah kepada ke platform media sosial tersebut. Hal ini diumumkan perusahaan itu mengumumkan pada hari Selasa. 

    Facebook telah menghapus 18 juta posting yang berisi informasi yang salah tentang COVID-19, tetapi tidak mengatakan berapa kali posting tersebut telah dilihat atau dibagikan sebelum dihapus. Pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan, unggahan-unggahan yang dihapus merupakan unggahan yang bertentangan dengan kebijakan Facebook.

    Cina mengesahkan undang-undang perlindungan data utama. Undang-undang ini mengatur lebih ketat tentang bagaimana perusahaan mengumpulkan dan menangani informasi pengguna mereka. Aturan tersebut menambah pengetatan regulasi Beijing, terutama seputar data, yang dapat memengaruhi cara raksasa teknologi China beroperasi. Undang-Undang Perlindungan Informasi Pribadi (PIPL) untuk pertama kalinya menjabarkan seperangkat aturan komprehensif seputar pengumpulan, pemrosesan, dan perlindungan data, yang sebelumnya diatur oleh undang-undang sedikit demi sedikit.


    Periksa Fakta Sepekan Ini

    Beberapa hari terakhir, klaim-klaim seputar kondisi Afghanistan dan Tentara Taliban mendominasi. Klaim-klaim ini beredar di tengah hangatnya berita soal Kelompok Nasionalis Taliban yang mengambil alih kekuasaan Afghanistan setelah Amerika Serikat dan NATO menarik pasukannya pada 15 Agustus lalu.

    Di samping itu, pesan berantai dan unggahan sesat dan keliru terkait pemerintahan Jokowi dan Covid-19 juga masih bermunculan. Namun, setelah dicek faktanya, Tim Cek Fakta menemukan bahwa klaim-klaim tersebut tidak semuanya benar.

    Buka tautannya ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:


    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.