CekFakta #84 Trump Kalah, Tapi Disinformasi Tetap Merajalela

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pendukung Donald Trump menggelar aksi unjuk rasa terkait hasil Pemilu AS, di Washington, AS, 14 November 2020. Dalam askinya, para pendukung Donald Trump meneriakkan slogan Stop the Steal. REUTERS

    Sejumlah pendukung Donald Trump menggelar aksi unjuk rasa terkait hasil Pemilu AS, di Washington, AS, 14 November 2020. Dalam askinya, para pendukung Donald Trump meneriakkan slogan Stop the Steal. REUTERS

    - Selama pemungutan dan penghitungan suara Pilpres AS, misinformasi dan disinformasi merajalela di berbagai platform media sosial. Kebanyakan, klaim palsu yang menyebar terkait dengan kecurangan pemilih atau Partai Demokrat yang “mencuri” pemilu. Donald Trump memang kalah dari Joe Biden dalam pertarungan ini. Tapi, Trumpisme dan disinformasi yang mengelilinginya diyakini bakal bertahan lama.

    - Di tengah pandemi Covid-19, jumlah kasus flu di beberapa negara menurun. Salah satunya adalah Australia. Di akhir musim panas, terdapat hampir 7 ribu kasus flu di Australia. Biasanya, jumlah ini akan naik hingga musim dingin. Namun, hingga April, Australia hanya mencatatkan 229 kasus flu. Tren serupa juga terjadi Afrika Selatan dan Selandia Baru. Mengapa jumlah kasus flu menurun di tengah pandemi ini?

    Halo pembaca nawala CekFakta Tempo! Sejak hari pemungutan suara Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020 hingga saat ini, hoaks yang menuduh adanya kecurangan pemilu bertebaran di berbagai media sosial. Ironisnya, klaim-klaim palsu itu juga dilontarkan oleh calon presiden petahana Donald Trump, yang akhirnya kalah dari Joe Biden. Kampanye misinformasi dan disinformasi yang mendelegitimasi pemilu ini diramalkan berdampak dalam jangka waktu yang cukup lama.

    Apakah Anda menerima nawala edisi 13 November 2020 ini dari teman dan bukan dari email Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    TRUMP KALAH, TAPI DISINFORMASI TETAP MERAJALELA

    Tak hanya di masa kampanye, misinformasi dan disinformasi juga membanjiri pekan pemungutan dan penghitungan suara Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020. Kebanyakan narasi yang beredar berfokus pada klaim yang tidak berdasar bahwa ada kecurangan dalam pemilihan atau bahwa Partai Demokrat “mencuri” kemenangan Trump. Zignal Labs, sebuah perusahaan riset media, mengidentifikasi 10 topik yang menjadi narasi utama misinformasi terkait Pilpres AS selama 3-9 November 2020.

    Topik-topik itu antara lain soal penipuan pemilih, salah satunya menyinggung gangguan perangkat lunak pada mesin pemungutan suara di Georgia; seruan untuk menghitung semua “suara sah”; seruan untuk menghentikan “pencurian pemilu”; seruan untuk menghentikan penghitungan suara; dan Sharpiegate, tentang penggunaan spidol yang membatalkan suara warga di Arizona.

    Terdapat pula topik soal: surat suara tidak memenuhi syarat atau ilegal; surat suara hilang atau ditemukan secara ajaib; keterlibatan The Deep State, yang juga disebut sebagai komplotan rahasia elit, dalam manipulasi pemilu; Biden yang “mengakui” penipuan pemilih; serta tuduhan penggunaan identitas orang yang audah meninggal pada pemilihan di Pennsylvania dan Michigan.

    Beberapa tuduhan palsu itu juga dilontarkan berulang kali oleh calon presiden petahana Donald Trump. Dalam nawala pekan lalu, saya menulis bahwa menurut laporan Berkman-Klein Center for Internet and Society Harvard University, misinformasi dan disinformasi lebih banyak digerakkan oleh Trump serta partainya, Partai Republik.

    Menurut data The New York Times, pada akhir Agustus lalu, sekitar lima pekan sebelum pemungutan suara, jangkauan media konservatif AS di Facebook sangat mencengangkan. Unggahan halaman milik situs berita sayap kanan Breitbart dibagikan tiga kali lebih banyak dari gambungan unggahan halaman milik semua anggota Partai Demokrat di Senat AS selama 30 hari. Halaman milik tokoh konservatif Ben Shapiro mencatatkan lebih dari 56 juta interaksi.

    Open Democracy, sebuah situs politik di Inggris melaporkan, media sosial seperti Facebook walaupun tidak memberikan kemenangan kepada Trump turut “membantu” Presiden ke-45 AS itu merusak demokrasi AS secara sistematis. Florida salah satu contohnya. Banyak jajak pendapat memprediksi Biden unggul tipis di negara bagian ini. Nyatanya Trump mampu unggil berkat dukungan pemilih Latin yang pada Pilpres 2016 memilih calon dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.

    Mengapa mereka bergeser? Salah satunya karena video-video di YouTube dan unggahan-unggahan di Facebook yang membuat banyak warga Latin di sana percaya bahwa Biden adalah “kuda pengintai untuk sosialisme” —mimpi buruk bagi mereka yang mantan penduduk Kuba. Teori konspirasi ini disebarkan dan terus-menerus diulang di radio berbahasa Spanyol. Kampanye disinformasi online ini mengeksploitasi ketakutan dan kekhawatiran pemilih, yang sudah ada sebelumnya, lewat kebohongan.

    Raksasa media sosial memang telah berupaya sedemikian rupa meredam misinformasi dan disinformasi terkait Pilpres AS di platformnya. Facebook dan Twitter misalnya, memberikan label peringatan terhadap unggahan yang berisi klaim kemenangan prematur atau kecurangan pemilu. Meskipun begitu, menurut kolumnis teknologi The Washington Post, Geoffrey Fowler, label-label itu sangat sedikit dan sangat terlambat. “Hanya sedikit bukti bahwa label itu membuat perubahan. Apalagi, mereka tidak menghentikan aliran konten beracun soal pemilu,” katanya.

    Label-label itu pun, menurut laporan CNN, tidak akan meyakinkan para pendukung Trump yang telah percaya pada teori-teori konspirasi seputar pemilu. Bahkan, beberapa di antaranya memandang bahwa label dan pemeriksaan fakta merupakan bukti mereka benar dan raksasa-raksasa teknologi mencoba untuk menyensor kebebasan berpendapat.

    Ditambah, mereka memiliki alternatif media sosial lain untuk tetap menyebarkan hoaks. Salah satu yang naik daun sejak hari pemungutan suara Pilpres AS pada 3 November adalah Parler. Jejaring sosial konservatif ini telah diunduh hampir 1 juta kali selama 3-8 November. Menurut laporan The Verge, Parler telah menjadi pusat bagi berbagai protes terhadap hasil Pilpres AS, termasuk kampanye “hentikan pencurian pemilu”. Para konservatif terkemuka pun mendesak pengikutnya bergabung dengan Parler karena frustasi dengan moderasi Twitter dan Facebook.

    Kampanye misinformasi dan disinformasi di dunia maya ini juga mendorong gerakan di dunia nyata. Para pendukung Trump turun ke jalan untuk memprotes hasil pemilu, pada 8 November kemarin. Di antaranya pendukung Trump di Harrisburg, sebuah kota di Pennsylvania, negara bagian yang dimenangkan oleh Biden. Mereka membawa spanduk yang bertuliskan “Setop Pencurian”, karena meyakini pemilu telah “dicuri”. Padahal, apa yang mereka sodorkan sebagai “bukti” kecurangan dalam pemilu tidaklah nyata.

    Trump memang kalah dalam pertarungan untuk memperebutkan kursi Presiden AS tahun ini. Tapi, menurut editor investigasi Open Democracy, Peter Geoghegan, Trumpisme dan disinformasi yang berputar di sekitarnya kemungkinan besar bakal bertahan lama. “Dampak jangka panjang dari kampanye untuk mendelegitimasi pemilu bisa sangat parah,” katanya.

    MENGAPA KASUS FLU TURUN DI MASA PANDEMI?

    Di akhir musim panas, pada Januari 2020, Australia mencatat terdapat 6.962 kasus flu. Biasanya, setelah itu, jumlah kasus flu bakal meningkat dan mencapai puncaknya pada musim dingin. Tapi hal yang tak terduga terjadi. Menurut BBC, hingga April, Australia hanya mencatatkan 229 kasus flu, turun drastis dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 18.705 kasus. Bahkan, pada Agustus, Australia mengalami musim flu yang paling ringan sepanjang sejarah. Pola seripa terjadi di tempat lain, seperti Afrika Selatan dan Selandia Baru. Mengapa hal ini bisa terjadi?

    - Menurut Ian Barr, Wakil Direktur Pusat Kolaborasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Referensi dan Penelitian Influenza di Melbourne, hampir tidak ada kasus influenza sejak akhir Maret hingga saat ini di Australia. Afrika Selatan, Argentina, Chili, dan Selandia Baru juga mencatatkan tren yang sama. Di sisi lain, dalam beberapa kasus, vaksinasi flu meningkat secara signifikan. Australia melaporkan peningkatan hampir 150 persen dalam penggunaan vaksin flu, yang merupakan rekor tertinggi selama ini.

    - WHO menyatakan bahwa data pengawasan influenza saat ini harus ditafsirkan secara lebih hati-hati karena pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung telah mempengaruhi perilaku masyarakat sehari-hari. Berbagai tindakan dalam meningkatkan kebersihan dan menjaga jarak fisik dalam rangka mengurangi penularan virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, kemungkinan besar berperan dalam mengurangi penyebaran virus influenza.

    - Menurut laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) yang terbit pada 18 September 2020, aktivitas influenza di AS maupun dunia saat ini berada dalam posisi rendah. Dengan adanya tindakan mitigasi komunitas secara luas untuk mengurangi penularan Covid-19, persentase hasil positif dalam pengujian influenza terhadap spesimen pernapasan warga AS menurun dari sekitar 20 persen menjadi 2,3 persen. Data dari negara-negara di belahan bumi selatan pun menunjukkan rendahnya aktivitas influenza.

    - Secara substansial, intervensi yang ditujukan untuk melawan penularan SARS-CoV-2, ditambah dengan dorongan vaksinasi flu, dapat mengurangi kejadian dan dampak influenza di belahan bumi utara selama periode 2020-2021. Penyebaran virus influenza musiman di AS, dalam periode 17 Mei-8 Agustus, berada di posisi terendah. Median mingguan hanya sebesar 0,2 persen dari sampel yang terkonfirmasi positif pada 2020, dibandingkan dengan 2,35 persen pada 2019, 1,04 persen pada 2018, dan 2,36 persen pada 2017.

    - Dilansir dari The New York Times, para pejabat kesehatan masyarakat telah memperingatkan adanya “twindemic, yaitu terjadinya wabah influenza dan pandemi Covid-19 secara bersamaan yang memiliki gejala serupa. Flu musiman, walaupun ringan, dapat meningkatkan beban rumah sakit yang sedang menangani kasus-kasus Covid-19. Meskipun belum mengetahui tingkat keparahan yang harus diantisipasi tahun ini, para pejabat kesehatan masyarakat khawatir sebagian besar masyarakat akan melupakan vaksin flu.

    - Menurut mereka, terlupakannya vaksin flu dapat meningkatkan risiko penyebaran virus influenza. Kekhawatiran tentang twindemic yang begitu besar ini memicu para pejabat kesehatan masyarakat di seluruh dunia mendorong vaksinasi flu. Anthony Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, telah mengimbau masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi flu, sehingga dapat menahan efek dari salah satu infeksi saluran pernapasan tersebut.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    - YouTube memutuskan untuk tidak menghapus video-video yang berisi teori konspirasi soal kecurangan dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020. Salah satu video itu telah ditonton lebih dari 400 ribu kali. Seorang pimpinan YouTube mengatakan video itu memamerkan “konten palsu yang terbukti merusak kepercayaan dalam proses demokrasi”, dan mereka melakukan demonetisasi terhadap video tersebut. Tapi YouTube membiarkan video ini tetap bisa ditonton, dan hanya melampirkan peringatan yang berbunyi “hasil mungkin belum final”.

    - Facebook bakal mewajibkan moderator dari grup yang berulang kali membagikan misinformasi untuk secara manual menyetujui setiap unggahan. Hal ini ditujukan untuk memperlambat penyebaran hoaks, termasuk teori konspirasi yang ingin merusak legitimasi Pilpres AS 2020. Kewajiban itu akan berlaku selama 60 hari. Facebook pun bakal memantau bagaimana moderator menangani unggahan selama dua bulan tersebut, dan bisa memutuskan untuk menutup grup secara permanen jika berulang kali mengizinkan unggahan yang melanggar kebijakan platform.

    - Twitter tengah berupaya untuk memperluas penggunaan label misinformasi pada cuitan yang menyesatkan. Perusahaan telah mengembangkan fitur baru yang akan memunculkan peringatan “informasi menyesatkan” saat pengguna menyentuh “Like” dalam cuitan yang diberi label misinformasi. Fitur ini memang tidak mencegah pengguna untuk menyukai cuitan terkait, namun bakal memperlambat mereka. Saat ini, peringatan tersebut telah diterapkan dalam Retweet. Ketika pengguna menyentuh “Retweet” dalam cuitan yang diberi label misinformasi, peringatan bakal muncul.

    - Pinterest dan LinkedIn adalah dua di antara berbagai jejaring sosial kecil yang mengalami lonjakan misinformasi selama Pilpres AS 2020. Berbeda dengan raksasa media sosial seperti Facebook dan Twitter, platform yang lebih kecil tentunya memiliki moderator yang lebih sedikit untuk menangani klaim palsu. Meskipun begitu, dalam beberapa kasus, mereka mengambil langkah yang jauh lebih luas untuk menghentikan kebohongan tentang pemilu. Dalam kasus Pinterest, mereka menghapus unggahan tentang pencurian surat suara, yang melanggar kebijakannya.

    - Pemerintah Iran dilaporkan memperbanyak investasi sumber daya untuk mengawasi Instagram. Mereka memaksa pengguna untuk menghapus foto yang memperlihatkan wanita yang tidak berjilbab dan menulis janji setia kepada Republik Islam dalam profil mereka. Instagram memiliki lebih dari 24 juta pengguna di Iran, termasuk para politikus. Pengawasan Iran terhadap Instagram mulai meningkat pada Desember 2018, di mana 42 ribu sukarelawan direkrut untuk memata-matai pengguna asal Iran. Pengawasan semakin ketat setelah, pada Mei 2020, Iran memberlakukan hukum hijab.

    - Zoom sepakat untuk meningkatkan praktik keamanannya dalam rangka menyelesaikan kasus yang dituduhkan oleh Komisi Perdagangan Federal AS atau FTC. Menurut FTC, Zoom menyesatkan pengguna dengan mengklaim bahwa platformnya menawarkan enkripsi ujung ke ujung padahal mereka juga memiliki akses ke konten rapat. “Praktik keamanan Zoom tidak sesuai dengan janjinya, dan tindakan kami akan membantu memastikan bahwa rapat Zoom dan data tentang pengguna Zoom dilindungi,” kata Andrew Smith, direktur Biro Perlindungan Konsumen FTC.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Sebuah video pendek yang diklaim sebagai video jenazah pasien Covid-19 yang hilang kedua bola matanya viral dalam sepekan terakhir. Video berdurasi 13 detik ini memperlihatkan jenazah yang bagian wajahnya tertutup oleh darah. Menurut klaim yang menyertai video ini, pasien Covid-19 yang telah meninggal ini merupakan warga Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

    Berdasarkan verifikasi Tempo, klaim bahwa “jenazah pasien Covid-19 asal Probolinggo tersebut hilang kedua bola matanya” keliru. Pasien yang berinisial M yang telah meninggal tersebut memang terkonfirmasi positif Covid-19. Namun, karena pembuluh darah M pecah sebelum meninggal, pendarahan terjadi lewat mata, hidung, dan telinga. Meskipun begitu, kedua bola mata M masih utuh. Hal ini pun telah dikonfirmasi oleh pihak keluarga M yang ikut membongkar peti jenazah.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta terhadap beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    - Benarkah ini foto Terawan yang dapat penghargaan WHO karena berhasil tangani Covid-19?

    - Benarkah ini video saat Trump mengamuk usai kalah dari Biden di Pilpres AS?

    - Benarkah ini foto Erdogan yang tolak jabat tangan Macron usai polemik kartun Nabi Muhammad?

    - Benarkah muncul notifikasi Pornhub dalam siaran berita Pilpres AS di CNN?

    - Benarkah ini video penyambutan jenazah pemuda Chechnya yang bunuh guru Prancis Samuel Paty?

    - Benarkah ini video-video penyerangan muslim berhijab di Prancis?

    - Benarkah foto bocah dalam sangkar ini dibuat saat Prancis jajah Kongo?

    - Benarkah ini video perlakuan polisi Prancis ke muslim yang tak mau lepas jilbab?

    - Benarkah klaim soal museum di Prancis yang simpan tengkorak dari kaum muslim ini?

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.