CekFakta #82 Para Penentang Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Demonstran berkumpul untuk memprotes putusan pemerintah untuk memperpanjang waktu Lockdown guna memutus penyebaran wabah Virus Corona atau COVID-19 di Harrisburg, Pennsylvania, AS, 20 April 2020. REUTERS/Rachel Wisniewski

    Demonstran berkumpul untuk memprotes putusan pemerintah untuk memperpanjang waktu Lockdown guna memutus penyebaran wabah Virus Corona atau COVID-19 di Harrisburg, Pennsylvania, AS, 20 April 2020. REUTERS/Rachel Wisniewski

    • Pengguna media sosial di Indonesia dihebohkan dengan munculnya video yang berisi klaim-klaim sesat dan keliru seputar Covid-19 yang berasal dari World Doctors Alliance dalam sepekan terakhir. Beberapa waktu sebelumnya, juga muncul pula video dari kelompok yang menamakan dirinya America’s Frontline Doctors dengan narasi serupa. Siapa mereka?
    • Di awal kemunculan virus Corona penyebab Covid-19, banyak pihak yang menepis ancaman virus ini, bahkan menyamakannya dengan flu musiman. Belakangan ini, isu yang sama kembali beredar dibawa oleh World Doctors Alliance. Padahal, para dokter dan ilmuwan telah berulang kali menyatakan bahwa Covid-19 sangat berbeda dengan flu.

    Halo pembaca nawala CekFakta Tempo! Belakangan, di linimasa media sosial kita, viral video yang berjudul “Suara Kebenaran dari Aliansi Dokter Dunia”. Dalam video itu, sejumlah dokter dan ahli kesehatan melontarkan sejumlah klaim yang keliru terkait Covid-19, mulai dari “Covid-19 adalah flu biasa”, “tidak ada pandemi Covid-19”, dan “virus Corona penyebab Covid-19 adalah virus musiman”. Siapa sebenarnya para dokter itu?

    Apakah Anda menerima nawala ini dari teman dan bukan dari email Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    PARA PENENTANG PANDEMI COVID-19

    Sepekan terakhir, linimasa pengguna media sosial di Indonesia diramaikan dengan video berjudul Suara Kebenaran dari Aliansi Dokter Dunia”. Banyak warganet menyatakan omongan para dokter dalam video itu mengkonfirmasi keyakinan mereka tentang Covid-19, bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus Corona baru tersebut hanyalah konspirasi. Banyak yang menyebut para dokter itu sebagai pahlawan.

    Pada intinya, aliansi bernama World Doctors Alliance yang berbasis di Eropa ini menyebut Covid-19 sebagai flu biasa. Mereka juga mengklaim tidak ada pandemi Covid-19. Menurut mereka, tes polymerase chain reaction (PCR) memunculkan hasil positif palsu pada 89-94 persen kasus Covid-19. Terdapat pula klaim bahwa virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, adalah virus musiman dan bisa disembuhkan dengan steroid, hidroksiklorokuin, dan zink. Semua klaim itu telah dibantah oleh sejumlah organisasi pemeriksa fakta, termasuk Tempo.

    Sebenarnya, siapa mereka? Menurut laporan Boom Live, World Doctors Alliance berisikan 17 individu yang merupakan politikus, aktivis, pengacara, ahli naturopati, psikolog, dan dokter. Aliansi ini membentuk komite investigasi Corona ekstra parlementer ACU 2020. Mereka bertemu di Berlin, Jerman, pada 10 Oktober 2020 dan mengumumkan aliansi tersebut ke publik.

    Beberapa nama yang tergabung dalam World Doctors Alliance adalah Elke De Klerk, dokter umum dari Belanda sekaligus pendiri kelompok Doctors for Truth; David Kurten, calon wali kota London, Inggris; Dolores Cahil, profesor di Fakultas Kedokteran University College Dublin, Irlandia; Mohammad Adil, dokter asal Pakistan yang bekerja di Inggris; dan Heiko Schöning, dokter dari Jerman.

    Pada Juni lalu, Cahil sempat melontarkan klaim yang tidak berdasar bahwa Covid-19 adalah alat propaganda ketakutan yang memaksa vaksinasi. Klaim itu dikecam oleh kampus Cahil, University College Dublin, yang kemudian menyatakan pendapat Cahil tidak ada hubungannya dengan mereka. Cahil pun diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai anggota panel medis Uni Eropa, Scientific Committee of the Innovative Medicines Initiative.

    Anggota World Doctors Alliance lainnya, Adil, mengklaim sudah berkarier selama 30 tahun sebagai ahli bedah yang tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, menurut dokter sekaligus kandidat PhD di Kobe University, Jepang, Adam Prabata, Adil kini tengah menjalani hukuman berupa pembekuan izin praktik sementara selama 12 bulan karena mengunggah video hoaks tentang Covid-19 di media sosial. Adapun Schöning pernah ditangkap polisi karena menentang pandemi di London pada September lalu.

    Bukan kali ini saja klaim keliru tentang Covid-19 dilontarkan oleh segerombolan dokter. Sebelum munculnya video World Doctors Alliance, viral pula video sekelompok dokter yang melontarkan klaim-klaim menyesatkan tentang Covid-19. Mereka menyebut dirinya sebagai America’s Frontline Doctors (AFD). Mirisnya, video AFD itu dibagikan juga oleh sejumlah tokoh, seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan penyanyi internasional Madonna, di akun media sosial mereka.

    Laporan Politifact menyebut video AFD viral karena banyak dibagikan di grup Facebook anti vaksin dan anti masker. Kelompok lain yang percaya teori konspirasi, seperti QAnon, ikut menyebarkan video itu. Menurut Snopes, AFD juga dipromosikan oleh organisasi politik konservatif Tea Party Patriots. Tea Party Patriots didukung oleh pendonor Republikan. Jejak digital AFD tidak banyak ditemukan dan, menurut Whois, basis data yang melacak domain, situs Americasfrontlinedoctors.com baru dibuat pada 16 Juli 2020.

    Tak lama setelah viral, video-video yang berisi pernyataan dari AFD tersebut, yang diunggah di Facebook, Twitter, dan YouTube, dihapus oleh platform. “Kami menghapus video ini karena berisi informasi palsu tentang penyembuhan dan perawatan Covid-19,” ujar juru bicara Facebook kepada CNN. Adapun juru biaca Twitter mengatakan, “Kami mengambil tindakan yang sejalan dengan kebijakan kami terkait misinformasi Covid-19.”

    Meskipun begitu, menurut laporan The New York Times pada awal Oktober lalu, anggota grup Facebook anti masker meningkat tajam dalam delapan minggu terakhir. Jumlah anggota yang bergabung dengan grup-grup itu tumbuh 1.800 persen sejak awal Agustus, menjadi lebih dari 43 ribu pengguna. Banyak unggahan di grup-grup tersebut yang berisi misinformasi atau klaim yang menyesatkan seputar Covid-19, salah satunya klaim-klaim yang dilontarkan oleh AFD. Artikel dari situs media konservatif, seperti The Daily Wire, The Blaze, dan Fox News, juga termasuk di antara artikel berita yang paling banyak dibagikan di grup-grup itu.

    Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban mengakui bahwa ada sebagian kecil dokter yang meragukan Covid-19. Tapi, pada umumnya tanpa data ilmiah yang jelas. “Total yang meninggal saja sudah sejuta lebih. Di Indonesia, kita sudah melihat langsung dokter-dokter yang meninggal,” katanya. “Pada prinsipnya, kalau ngomong , dokter harus berbasis bukti ilmiah, dan itu (pernyataan World Doctors Alliance) tidak didukung oleh bukti ilmiah.”

    Sejumlah dokter menyayangkan pernyataan menyesatkan yang justru datang dari ahli kesehatan. Salah satu dokter, Thomas Ken Lew, yang menulis di USA Today, mengatakan video AFD menebar ketidakpercayaan terhadap tenaga kesehatan. “Bayangkan betapa terkejutnya saya, yang selama empat bulan terakhir merawat para pasien Covid-19 yang berjuang untuk bernapas, ketika melihat video dari sekelompok orang yang menamakan diri mereka America’s Frontline Doctors, mempertanyakan keahlian dan integritas kami. Ini memalukan dan berbahaya, informasi yang salah seperti ini menyebar luas di seluruh dunia.”

    BAHAYA HOAKS CORONA SAMA DENGAN FLU

    Bagian ini ditulis oleh Siti Aisah, peserta Health Fellowship Tempo yang didukung oleh Facebook.

    Ketika virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, baru menyebar ke seluruh dunia, banyak pihak menepis ancaman virus tersebut. Beberapa di antaranya bahkan menyamakan virus tersebut dengan virus flu musiman. Belakangan ini, isu tersebut kembali beredar, meskipun telah berulang kali dibantah oleh para dokter dan ilmuwan. Aliansi Dokter Dunia atau World Doctors Alliance-lah yang membawa kembali narasi tersebut. Padahal, seperti yang kita tahu, rumor itu malah akan menurunkan kewaspadaan kita terhadap Covid-19.

    - Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga sempat menyatakan klaim serupa. Dalam cuitannya pada 6 Oktober 2020, Trump berkata, “Musim flu akan datang! Banyak orang meninggal setiap tahunnya karena flu, terkadang lebih dari 100 ribu, meskipun ada vaksin. Apakah kita akan menutup negara kita? Tidak, kita telah belajar untuk hidup dengan flu, sama seperti kita belajar untuk hidup dengan Covid-19, yang mana di sebagian besar populasi tidak lebih mematikan!” Twitter telah menyembunyikan cuitan itu karena menyebarkan informasi yang menyesatkan terkait Covid-19.

    - Menurut data, tingkat reproduksi flu musiman sekitar 1,19-1,37 dengan median 1,28. Artinya, setiap 100 orang yang terserang flu bakal menularkannya ke 128 orang. Untuk Covid-19, memang banyak yang belum diketahui. Namun, hasil 12 studi awal di berbagai negara, termasuk Cina, menunjukkan tingkat reproduksi Covid-19 sekitar 1,4-6,49, dengan median 2,79. Ini bisa bervariasi, tergantung lokasi, karena banyak faktor, termasuk kepadatan penduduk, demografi, suhu udara, tindakan kesehatan masyarakat, dan ketersediaan alat tes.

    - Menurut artikel yang ditulis oleh peneliti Universitas Bristol Tabitha Stanmore di The Conversation, sama seperti sekarang, saat wabah melanda Jenewa, Swiss, pada abad ke-16, beredar berbagai rumor. Satu di antaranya adalah bahwa para penjaga rumah mencoba menyebarkan wabah dengan mengoleskan lemak korban wabah ke gagang pintu, berharap si pemilik rumah akan terinfeksi saat keluar-masuk rumah. Salah satu teori dibalik rumor ini adalah paranoid, bahwa penjaga rumah akan mengambil untung dengan menggerebek rumah setelah tuannya meninggal akibat infeksi.

    - Pada 1665, selain mendokumentasikan serangan wabah, surat kabar Inggris The Lord Have Mercies menerbitkan artikel tentang pengobatan rumahan untuk membantu melindungi diri dari infeksi. Pengobatan tersebut berupa mengkonsumsi campuran susu dan bawang putih setiap pagi. Berkaca dari dua peristiwa di Swiss dan Inggris tersebut, bukanlah suatu hal yang mengejutkan bahwa, saat dunia menghadapi Covid-19, beberapa tindakan kita sangat mirip dengan tindakan nenek moyang kita pada abad-abad sebelumnya.

    - Untuk menghadapi pandemi Covid-19, komunikasi dan pengambilan keputusan harus dilakukan secara tepat dan optimal, seiring dengan berkembangnya data. Tantangan lain adalah beredarnya misinformasi secara masif. Salah satu yang perlu disoroti adalah adanya jurnal publikasi pracetak yang mengklaim protein paku virus Corona memiliki kemiripan luar biasa dengan protein HIV-1. Makalah ini mendapat kritikan yang luas, dan penulis akhirnya menarik tulisannya dalam beberapa hari. Ini adalah contoh bagaimana sensasionalisme juga dapat mempengaruhi bidang ilmiah.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    - Beberapa hari terakhir, grup-grup WhatsApp ramai dengan pesan berantai yang berisi highlight video berjudul “India is doing it. Dalam pesan berantai itu, terdapat pula imbauan untuk tidak memutar video tersebut karena ponsel bakal terkena peretasan. Pesan berantai ini telah diverifikasi oleh organisasi cek fakta India Boom Live, yang menyatakannya sebagai hoaks. Menurut mereka, pesan serupa sempat beredar pada awal 2020, dengan menyebut nama Argentina. Tapi mereka tidak menemukan bukti bahwa pesan itu benar-benar nyata maupun korban peretasan.

    - YouTube digugat oleh sekelompok pemilik kanal yang menyatakan haknya dilanggar karena moderasi platform baru-baru ini terhadap konten QAnon —teori konspirasi yang berkembang secara luas di Amerika Serikat bahwa ada kelompok yang diam-diam menyerang Presiden Donald Trump. Menanggapi gugatan ini, perusahaan induk YouTube, Google, menyatakan, “Kami tidak bisa berkomentar tentang proses peradilan. Tapi kebijakan kami diperbarui secara berkala untuk menghadapi tantangan baru, seperti teori konspirasi berbahaya yang digunakan sebagai pembenaran kekerasan.”

    - Departemen Kehakiman AS menggugat Google dengan tuduhan telah melakukan praktik monopoli, karena membayar Apple sekitar 8-12 miliar dolar AS agar mesin pencarinya menjadi pilihan default di iPhone dan gawai Apple lainnya. Menurut Departemen Kehakiman, perangkat Apple merupakan salah satu pasar terbesar Google. Diperkirakan hampir setengah dari trafik mesin pencari Google berasal dari perangkat Apple. Namun, kepala kebijakan Google Kent Walker menampik tudingan Departemen Kehakiman tersebut.

    - Pada 26 Oktober 2020, Twitter mengumumkan akan mulai menempatkan pesan di bagian atas feed pengguna untuk menyanggah informasi palsu tentang pemungutan suara Pemilihan Presiden AS. Twitter menyebut pesan itu sebagai “pre-bunk, sesuatu yang menurut mereka tidak pernah dilakukan, karena pesan ini bukanlah tanggapan terhadap cuitan yang berisi misinformasi. Pesan itu bakal memiliki tautan yang mengarahkan pengguna ke informasi lebih lanjut.

    - Peneliti keamanan Victor Gevers mengklaim telah meretas akun Twitter Presiden AS Donald Trump pada awal Oktober 2020 dengan menebak sandinya. Dia juga diduga mencuitkan hal yang menunjukkan bahwa Trump menganggap serius artikel satir. Tapi baik Twitter maupun Gedung Putih membantah klaim itu. Di sisi lain, pada 27 Oktober, situs kampanye Trump diretas. Kejadian ini berlangsung kurang dari 30 menit. Dalam pesannya, peretas mengklaim telah menyusupi beberapa perangkat yang memberi mereka akses ke percakapan paling rahasia dari Trump serta kerabatnya.

    - Baru-baru ini, sejumlah gamer mengeluhkan pengalaman yang kurang mengenakkan saat bermain game yang sedang naik daun, Among Us, karena kelakuan seorang hacker bernama Eris Loris. Dia menyebarkan pesan spam di kolom chat yang berisi promosi agar Trump dipilih kembali sebagai Presiden AS. Semua pemain game Among Us di server publik akan terus mengulang pesan “subscribe to eris loris | TRUMP2020” secara otomatis di kolom chat.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Video yang berjudul “Suara Kebenaran dari Aliansi Dokter Dunia” viral dalam beberapa hari terakhir. Video ini berisi klaim-klaim seputar Covid-19 yang dilontarkan oleh sebuah kelompok yang menamakan dirinya sebagai World Doctors Alliance atau Aliansi Dokter Dunia. Dalam video itu, mereka menyebut Covid-19 adalah flu biasa. Ada pula klaim bahwa tidak ada pandemi Covid-19, tes polymerase chain reaction (PCR) memunculkan hasil positif palsu pada 89-94 persen kasus, serta penderita Covid-19 bisa dirawat dengan steroid, hydroxychloroquine, dan zinc.

    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim-klaim itu keliru. Empat klaim, mulai dari “tidak ada pandemi Covid-19”, “tes PCR memunculkan hasil positif palsu pada 89-94 persen kasus Covid-19”, “Covid-19 adalah flu biasa”, hingga “virus Corona penyebab Covid-19 adalah virus musiman dan bisa dirawat dengan steroid, hydroxychloroquine, dan zinc”, tidak akurat. Selain itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam menyebut Aliansi Dokter Dunia itu sebagai organisasi “jadi-jadian”. Ia menyatakan tidak pernah mengenal organisasi tersebut. Dia juga tidak pernah mengetahui para dokter dalam aliansi itu tergabung dalam organisasi kedokteran, baik organisasi dokter dunia maupun organisasi dokter penyakit dalam dunia.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta terhadap beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penyebab Lemak Perut Sulit Dihilangkan setelah Usia 40 Tahun

    Untuk mengatasi sulitnya menghilangkan lemak perut untuk pria yang berumur di atas 40 tahun, perlu melakukan upaya ekstra. Apa saja?