CekFakta #57 Hoaks Corona Banjiri WhatsApp

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo WhatsApp. Kredit: Time

    Logo WhatsApp. Kredit: Time

    • Hoaks seputar virus Corona Covid-19 terus membanjiri grup-grup WhatsApp. Untuk menangkal penyebaran hoaks tersebut, WhatsApp meluncurkan fitur baru di mana sebuah pesan hanya bisa diteruskan (forward) ke satu percakapan. Tapi, seberapa efektif fitur ini dalam mengerem peredaran misinformasi di WhatsApp?
    • Dalam beberapa pekan terakhir, platform konferensi video Zoom menuai banyak kritik, terutama soal privasi. Zoom pun berjanji akan menyelesaikan masalah-masalah di platformnya itu dalam waktu tiga bulan ke depan. Namun, beberapa pihak memilih untuk membatasi pemakaian Zoom. Bahkan, ada perusahaan-perusahaan yang melarang penggunaannya.

    Halo, pembaca Nawala CekFakta Tempo! Dalam edisi kali ini, saya ingin kembali mengulas soal banjir misinformasi seputar virus Corona Covid-19 di platform percakapan sejuta umat, WhatsApp. Baru-baru ini, WhatsApp meluncurkan sebuah fitur yang diklaim bisa menekan penyebaran hoaks. Pertanyaan besarnya, apakah fitur itu bakal efektif? Dan bagaimana bisa WhatsApp mengawasi konten-konten yang berseliweran di platformnya selama enkripsi ujung-ke-ujung diterapkan?

    Apakah Anda menerima nawala edisi 17 April 2020 ini dari teman dan bukan dari email Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    HOAKS CORONA BANJIRI WHATSAPP   

    Sudah berapa banyak hoaks soal virus Corona Covid-19 yang Anda terima dari grup-grup WhatsApp dalam beberapa pekan terakhir ini? Sebut saja hoaks soal pencegahan Covid-19 dengan konsumsi makanan alkali yang punya derajat keasaman (pH) lebih tinggi ketimbang virus, padahal virus tidak memiliki pH. Atau hoaks soal pengobatan Covid-19 dengan berendam di air laut. Atau, satu lagi, hoaks soal bawang merah yang dikupas yang bisa menyerap virus Corona.

    Ya, semua informasi palsu itu menyebar dari satu orang ke orang lain lewat WhatsApp, platform percakapan yang dipakai lebih dari 2 miliar pengguna di seluruh dunia. 

    Peneliti Universitas Oxford, Lisa-Maria Neudert, mengatakan misinformasi dapat menghambat berbagai upaya untuk mengendalikan penyebaran virus. “Saya menjumpai orang-orang berpendidikan yang mempercayai saran medis yang tidak akurat di media sosial dan pesan pribadi,” katanya.

    Para pemimpin dunia pun mendesak masyarakat untuk berhenti berbagi informasi yang belum terverifikasi yang beredar di WhatsApp. Satu di antaranya adalah Perdana Menteri Irlandia, Leo Varadkar. Lewat akun Twitter miliknya pada 16 Maret 2020, Varadkar mengatakan, “Pesan-pesan ini menakut-nakuti dan membingungkan orang serta menyebabkan kerusakan yang nyata. Saya mohon untuk mencari informasi dari sumber-sumber resmi dan terpercaya.”

    Merespons masifnya penyebaran hoaks soal virus Corona Covid-19 di platformnya, WhatsApp meluncurkan fitur baru. Sejak 7 April 2020, sebuah pesan hanya bisa diteruskan ke satu percakapan dalam satu waktu. Sebelumnya, awal tahun lalu, sebuah pesan bisa diteruskan ke lima percakapan. Lewat fitur ini, pesan yang diteruskan diklaim turun hingga 25 persen secara global.

    Kebijakan tersebut diambil karena WhatsApp menerapkan enkripsi ujung-ke-ujung atau end-to-end encryption terhadap pesan-pesan di platformnya. Enkripsi ini memang membuat privasi pengguna terjaga. Namun, WhatsApp jadi tidak mengetahui isi pesan yang dikirim pengguna, dan tidak bisa mengawasi konten pengguna. Itu sebabnya mereka kemudian memutuskan untuk membatasi fasilitas meneruskan pesan (forward), apapun isinya.

    Apakah cara ini benar-benar ampuh untuk membendung aliran misinformasi di WhatsApp? Universitas Federal Minas Gerais (UFMG) Brasil pernah meneliti efektifitas pembatasan, di mana pesan hanya bisa diteruskanke lima percakapan. Mereka menemukan, cara ini tidak efektif untuk menangkal penyebaran hoaks. “Walaupun dalam beberapa kasus bisa memperlambat penyebaran, cara itu tidak bisa mencegah suatu konten menjadi sangat viral,” ujar profesor ilmu komputer UFMG, Fabricio Benevenuto.

    Kepada International Fact-Checking Network (IFCN), Benevenuto memaparkan sebuah contoh ketika pada awal 2019 lalu, Menteri Pendidikan Brasil Abraham Weintraub mengklaim bahwa terdapat kekacauan, serta “mahasiswa yang bugil”, di dalam kampus sehingga anggaran universitas harus dipotong. Organisasi pemeriksa fakta dengan cepat menunjukkan bukti-bukti bahwa klaim itu tidak berdasar. Tapi hanya dalam waktu 24 jam, foto-foto lama di luar konteks yang digunakan untuk mendukung klaim itu menyebar di WhatsApp. Bahkan, menurut Benevenuto, sirkulasinya meningkat sebesar 950 persen.

    Saat itu, WhatsApp telah melarang pengguna membagikan satu pesan lebih dari lima kali. Artinya, fitur tersebut tidak mampu mencegah banjirnya informasi yang salah ataupun menyesatkan di WhatsApp. Menurut Benevenuto, pengguna bisa saja menemukan cara lain untuk menyebarkan misinformasi di WhatsApp. Tebakan saya, memakai jurus copy-paste.

    Stephanie Hankey, bos Tactical Tech, organisasi independen yang fokus pada dampak teknologi terhadap masyarakat, mengatakan 90 persen pesan di WhatsApp memang dikirim dari orang ke orang, serta sebagian besar grup berisi kurang dari 10 orang. Namun, sebuah informasi tetap memiliki kapasitas untuk menyebar dengan sangat cepat. “Sama seperti diagram tentang bagaimana virus Corona menyebar, satu orang bisa meneruskannya ke 2-3 orang, begitu seterusnya, sehingga tidak butuh lama bagi informasi itu untuk beredar ke ribuan atau bahkan ratusan ribu orang,” ujar Hankey.

    Menurut Charlotte Jee, jurnalis senior MIT Technology Review, end-to-end encryption yang ada pada platformnya membuat WhatsApp maupun Facebook, induk perusahaannya, tidak bisa melakukan banyak hal untuk mengawasi pesan-pesan yang beredar. “Karena dienkripsi ujung-ke-ujung, benar-benar mustahil bagi mereka untuk memoderasi konten. Mereka tidak bisa melihat apa yang dibagikan oleh seseorang,” ujarnya.

    Pada akhirnya, cara terampuh untuk melawan misinformasi adalah meningkatkan literasi masyarakat. Secara umum, masyarakat mesti dididik untuk menjadi konsumen yang cerdas atas informasi. Dalam situasi seperti ini, tentu literasi mengenai virus Corona Covid-19.

    MENANTI JANJI ZOOM  

    Setelah dikritik oleh berbagai pihak terkait sejumlah masalah privasi di platformnya, Zoom mulai berbenah. Beberapa perubahan mereka lakukan agar pengguna lebih nyaman memakai platform konferensi video yang populer di tengah pemberlakuan social distancing untuk menekan penularan Covid-19 ini. Meskipun begitu, ada sejumlah pihak yang tetap memilih untuk menghindari penggunaan Zoom, bahkan melarangnya.

    - CEO Zoom Eric S. Yuan mengakui bahwa perusahaannya sempat salah langkah. Awalnya, Zoom ditujukan untuk perusahaan berskala besar. Di tengah pandemi Covid-19, muncul sejumlah pengguna baru yang memang belum menjadi fokus perusahaan. “Dalam krisis ini, kami bergerak terlalu cepat,” kata Yuan. Oleh karena itu, dia berjanji bakal mengidentifikasi dan mengatasi berbagai masalah di platformnya dalam tiga bulan ke depan. Sementara itu, Zoom tidak akan menggulirkan fitur baru. Mereka mengatakan bakal melibatkan pihak ketiga untuk melakukan peninjauan secara menyeluruh.

    - Terkait Zoom Bombing, di mana orang yang tidak diundang masuk ke dalam konferensi video untuk mengganggu bahkan membagikan konten yang tidak pantas, Zoom bakal mengaktifkan kata sandi dan ruang tunggu bagi seluruh pengguna. Kata sandi berlaku secara default untuk seluruh rapat. Setelah memasukkan kata sandi, pengguna harus menunggu di ruang tunggu untuk mendapatkan izin dari host agar dapat bergabung dalam rapat.

    - Fitur baru terkait kata sandi tersebut juga diklaim dapat mengatasi masalah keamanan lainnya. Beberapa waktu lalu, seorang peneliti keamanan mengembangkan sebuah alat otomatis yang dapat mengidentifikasi 100 ID rapat Zoom yang tidak dilindungi kata sandi dalam waktu satu jam serta mengorek informasi dalam rapat. Kebijakan kata sandi default diharapkan dapat mencegah alat pemindai serupa untuk menemukan ID rapat Zoom dan informasi pribadi lainnya.

    - Departemen Pendidikan Kota New York, Amerika Serikat, melarang penggunaan Zoom di sekolah-sekolah di wilayahnya. Sebagai alternatif, Departemen Pendidikan meminta sekolah menggunakan platform serupa, yakni Microsoft Team, untuk proses belajar-mengajar dari rumah. Meskipun begitu, beberapa kepala sekolah menilai cara kerja atau penggunaan Microsoft Team tidak seefisien Zoom. Karena itu, Departemen Pendidikan menyatakan bahwa Zoom mungkin bakal diizinkan kembali, asalkan platform tersebut sudah dianggap aman.

    - Selain di beberapa sekolah, penggunaan Zoom dibatasi serta dilarang di sejumlah lembaga pemerintahan dan perusahaan. Kementerian Luar Negeri Jerman misalnya, melarang penggunaan Zoom untuk rapat-rapat rahasia. Sementara itu, Google tidak mengizinkan karyawannya memasang dan memakai Zoom di komputer kantor. Jika karyawan masih ingin menggunakan Zoom, mereka bisa mengaksesnya lewat komputer atau ponsel pribadi.

    - Dalam kolomnya, ahli keamanan siber Alfons Tanujaya mengatakan bahwa pengguna mesti memberi kesempatan kepada Zoom untuk berbenah. Berdasarkan tes oleh operator Tri Indonesia, Zoom membutuhkan bandwidth dan kuota yang paling rendah dibandingkan platform serupa lainnya. “Hal ini menunjukkan keberhasilan Zoom melakukan kompresi yang lebih baik,” katanya. Selain itu, platform ini bisa digunakan oleh berbagai lapisan pengguna, khususnya orang awam. Karenanya, menurut Alfons, rapat yang tidak mengandung data sangat rahasia masih bisa dilakukan lewat Zoom.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan maraknya serangan phising atau email tipuan di tengah pandemi Covid-19. Email phising ini mencatut nama WHO dan meminta penerima untuk memberikan informasi sensitif, seperti nama dan kata sandi. Email itu juga meminta penerima untuk mengklik tautan serta lampiran “jahat”. WHO pun membagikan sejumlah tips untuk mengenali email phising tersebut. Satu di antaranya adalah pengirim tidak menggunakan email berdomain @who.int. WHO menegaskan tidak pernah mengirim email dari domain @who.com, @who.org, atau lainnya.

    - Google baru-baru ini meluncurkan sebuah fitur baru untuk Google Maps yang memungkinkan pengguna dapat melihat restoran apa saja di sekitarnya yang menawarkan layanan antar makanan. Namun, fitur ini tidak tersedia di seluruh dunia. Fitur ini hanya bisa digunakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis. Sebelumnya, Google juga memperkenalkan fitur baru yang bernama “temporary closed”. Lewat fitur ini, pengguna bisa melihat lokasi bisnis atau tempat usaha apa saja yang tutup di tengah pandemi Covid-19.

    - Sejak awal April 2020, beredar pesan berantai yang berisi penawaran langganan Netflix secara gratis dalam rangka work from home. Pesan ini juga menyertakan tautan ke sebuah situs yang menyajikan survei mengenai berapa kali kita mencuci tangan dalam sehari dan apakah kita memiliki gejala Covid-19. Juru bicara Netflix Indonesia, Kooswardini Wulandari, menegaskan bahwa informasi itu hoaks. Adapun menurut pakar keamanan siber Alfons Tanujaya, survei tersebut sejenis iklan pay per click. Terkadang, hal ini bisa mengarahkan pada instalasi malware ke perangkat kita.

    - Google meluncurkan sebuah halaman yang menayangkan informasi mobilitas pengguna Android di 131 negara, termasuk Indonesia. Hal ini ditujukan untuk mengetahui efek dari kebijakan lockdown yang diterapkan sejumlah negara dalam menekan penyebaran virus Corona Covid-19. Lewat halaman ini, diketahui bahwa aktivitas di pusat-pusat keramaian di Indonesia menurun hingga sekitar 50 persen saat kebijakan work from home diterapkan ketimbang saat hari biasa.

    - Facebook melakukan sebuah survei terhadap sejumlah penggunanya di Amerika Serikat terkait apakah mereka merasakan gejala Covid-19. Survei ini dilakukan untuk membantu proyek penelitian Universitas Carnegie Mellon dalam menghasilkan peta penyebaran virus Corona berdasarkan laporan mandiri pengguna. Jika dirasa perlu, Facebook bakal menghadirkan survei serupa untuk pengguna di negara lain. Perusahaan milik Mark Zuckerberg ini pun menegaskan bahwa mereka tidak akan membagikan informasi pribadi pengguna kepada para peneliti.

    - Apple memberikan US$ 75 ribu atau sekitar Rp 1,2 miliar kepada peneliti siber, Ryan Pickren, karena menemukan celah untuk membajak kamera iPhone dan Mac. Pemberian imbalan ini merupakan bagian dari program bug bounty, di mana peretas yang membantu menemukan kerentanan dalam perangkat lunak diberikan insentif. Pickren menemukan setidaknya tujuh kerentanan zero-day pada Safari milik Apple. Tiga dari tujuh kerentanan itu dapat digunakan untuk membajak kamera perangkat iOS dan macOS.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Video yang diklaim sebagai video uji coba oleh ilmuwan tentang virus Corona Covid-19 yang takut dengan suara azan beredar di media sosial. Video yang berasal dari YouTube ini terdiri dari tiga segmen. Dalam segmen pertama, terlihat software yang menunjukkan frekuensi audio saat azan dan lagu diperdengarkan. Segmen kedua memperlihatkan seorang pria yang tengah memasuki kafe. Dalam video tanpa suara ini, pria itu sempat berbicara dengan karyawan kafe. Adapun segmen ketiga merupakan video animasi bentuk dan struktur virus Corona Covid-19.

    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, video tersebut merupakan gabungan dari tiga video dengan konteks yang berbeda-beda. Video segmen pertama dan kedua tidak terkait dengan Covid-19. Video segmen pertama mengenai perbandingan getaran suara antara azan dan lagu pun telah beredar di YouTube sejak 2016, jauh sebelum munculnya virus Corona Covid-19 di Wuhan, Cina, pada Desember 2019.

    Video segmen pertama itu pernah diunggah oleh kanal YouTube Mehbooba pada 11 Oktober 2016. Mehbooba memberikan keterangan bahwa video itu menunjukkan perbandingan efek mendengarkan musik dengan mendengarkan azan terhadap tubuh. Menurut Mehbooba, intensitas getaran suara berefek pada apa yang tubuh rasakan. Intensitas getaran suara pun bisa divisualisasikan. Video tersebut menunjukkan instrumen bernama CymaScope yang bisa memproyeksi pola geometris fisik dari getaran suara tertentu.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta terhadap beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.