CekFakta #55 Ramai-ramai Melacak Penderita Corona

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pada 31 Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mendeklarasikan flu di Wuhan sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional (PHEIC)

    Pada 31 Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mendeklarasikan flu di Wuhan sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional (PHEIC)

    • Sejak Covid-19 menjadi pandemi, berbagai negara di dunia menerapkan kebijakan pembatasan sosial atau social distancing untuk menahan penyebaran virus. Hanya saja, banyak warga yang tidak mematuhi kebijakan itu. Di sisi lain, pelacakan orang-orang yang mungkin terpapar virus tidak gampang. Hal ini mendorong beberapa negara menggunakan data lokasi ponsel penduduknya untuk memantau ketaatan warga atas kebijakan yang mereka buat.
    • Munculnya berbagai inovasi teknologi di tengah mewabahnya virus Corona bagaikan angin segar bagi kita semua. Inovasi-inovasi ini hadir dalam bermacam bentuk, mulai dari superkomputer untuk mencari obat dan vaksin Covid-19, robot untuk melakukan tes Covid-19, hingga aplikasi untuk melakukan pemeriksaan atau screening awal Covid-19.

    Halo, pembaca Nawala CekFakta Tempo! Dalam edisi kali ini, saya ingin mengajak Anda semua melihat kebijakan di negara-negara lain yang menggunakan data lokasi ponsel warganya untuk menekan penyebaran wabah virus Corona. Ada negara yang hanya memakai data lokasi ponsel untuk melihat tren pergerakan orang. Namun, ada juga negara yang memanfaatkan data lokasi ponsel untuk memaksa warganya tetap berada di dalam rumah. Saat ini, pemerintah Indonesia sedang mengkaji opsi untuk melacak rekam jejak mobilitas penderita Covid-19 melalui nomor ponsel. Setujukah Anda dengan kebijakan itu?

    Apakah Anda menerima nawala edisi 27 Maret 2020 ini dari teman dan bukan dari email Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    RAMAI-RAMAI MELACAK PENDERITA CORONA  

    Sejak virus Corona Covid-19 mewabah, negara-negara di dunia beramai-ramai menerapkan kebijakan pembatasan sosial atau social distancing. Sayangnya, tidak semua warga patuh dengan kebijakan itu. Di sisi lain, pelacakan orang-orang yang mungkin terpapar virus ini tidak semudah yang dibayangkan. Faktor-faktor itulah yang membuat beberapa negara mencoba memanfaatkan data lokasi dari ponsel penduduknya untuk memerangi pandemi ini.

    Salah satu negara yang paling awal memulai penggunaan cara itu adalah Israel. Sejak 16 Maret 2020 lalu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah mengizinkan agen keamanan dalam negerinya untuk memanfaatkan data lokasi ponsel warga Israel untuk melacak pergerakan penderita Covid-19. Data itu juga memungkinkan pemerintah mengidentifikasi penduduk yang harus dikarantina karena melewati jarak aman dengan penderita Covid-19. Sebelumnya, data lokasi ini digunakan pemerintah Israel hanya untuk operasi kontra-terorisme.

    Menurut laporan The Washington Post, ketika data menunjukkan bahwa ada warga yang berada di dekat seseorang positif mengidap Covid-19, warga tersebut bakal mendapatkan pesan peringatan dari Kementerian Kesehatan Israel. Pesan itu berisi perintah agar dia segera melakukan karantina. “Anda harus segera mengisolasi diri Anda (selama 14 hari) untuk melindungi kerabat Anda dan masyarakat,” demikian isi pesannya.

    Inggris, sejak 19 Maret 2020, menerapkan kebijakan serupa. Mereka bekerja sama dengan operator seluler O2 untuk menganalisis data lokasi ponsel warga. Pemerintah Inggris meyakini cara itu dapat membantu mereka memantau apakah penduduk mematuhi pedoman social distancing yang dibuat, termasuk apakah perlu diberlakukan kebijakan tambahan ataupun penegakan hukum.

    Menurut juru bicara O2, perusahaannya hanya menyediakan data secara agregat yang bersifat anonim kepada pemerintah Inggris. Lewat data ini, pemerintah dapat mengamati tren pergerakan penduduk, khususnya di London. Juru bicara O2 menegaskan bahwa kerja sama dengan pemerintah Inggris itu tidak akan melacak data secara individu. Penggunaan data agregat dari operator seluler ini juga ditempuh oleh pemerintah Italia, dalam rangka memantau pergerakan warganya.

    Dalam hal memantau ketaatan warga terhadap kebijakan social distancing pemerintah Taiwan termasuk yang paling ekstrim. Mereka memonitor sinyal ponsel penduduk dan memberi tahu polisi serta pejabat setempat, jika warga yang seharusnya menjalani karantina mandiri pergi dari rumahnya atau mematikan ponselnya. Warga tersebut bakal diperingatkan. Pihak berwenang bakal menghubungi atau mendatangi warga yang mengabaikan peringatan selama 15 menit. Selain itu, warga ditelpon dua kali sehari untuk memastikan mereka tidak menghindari pelacakan dengan meninggalkan ponselnya di rumah.

    Bagaimana dengan Indonesia? Kementerian Komunikasi dan Informatika membuka opsi untuk melacak mobilitas orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan pasien positif Covid-19 melalui nomor ponsel. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo, Ahmad Ramli, mengatakan sudah melakukan koordinasi dengan seluruh operator seluler terkait opsi pelacakan tersebut.

    Menurut Wakil Direktur Utama PT Hutchison 3 Indonesia, Danny Buldansyah, Kominfo telah meminta rekam jejak mobilitas para pasien yang terinfeksi virus Corona selama 30 hari ke belakang kepada operator-operator seluler. “Kami sedang menyiapkan semacam aplikasi bersama. Pertama, kami akan mendapat nomor-nomor ponsel semua orang yang masuk kasus Corona. Kemudian, yang diminta adalah bagaimana melihat orang-orang tersebut selama 14 hari ke belakang,” ujar Danny kepada CNN Indonesia.

    Meskipun sangat membantu pemerintah di berbagai negara, penggunaan data lokasi ponsel ini mendapatkan banyak kritik karena dipandang melanggar privasi. Menurut sejumlah pakar kebebasan sipil yang diwawancarai oleh The New York Times, peningkatan pengawasan untuk memerangi pandemi yang terjadi saat ini membuka gerbang bagi pengintaian yang lebih luas secara permanen.

    Sementara Jim Killock, Direktur Open Rights Group, mengatakan bahwa, jika pemerintah ingin menggunakan data lokasi ponsel warganya, mereka perlu menjaga kepercayaan publik dengan menunjukkan undang-undang yang menjadi dasar mereka memberlakukan kebijakan tersebut. “Transparansi benar-benar penting. Diskusi rahasia dengan pihak swasta, yang dikombinasikan dengan narasi tentang mengorbankan kebebasan, berisiko memicu ketidakpercayaan,” ujarnya.

    Pendapat yang berbeda disampaikan oleh Mila Romanoff, kepala data dan tata kelola untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Global Pulse. Menurut dia, dalam keadaan darurat seperti pandemi, privasi dapat dikesampingkan demi menyelamatkan nyawa manusia. Agar upaya pengawasan ini tidak melanggar privasi warga, pemerintah mesti membatasi jenis data yang dikumpulkan, cukup data yang dibutuhkan saja. Tapi Romanoff menambahkan, “Tantangannya, berapa banyak data yang dianggap cukup?”

    TEKNOLOGI PENAWAR PANDEMI  

    Di tengah pandemi Covid-19, muncul berbagai inovasi teknologi untuk memerangi penyakit yang disebabkan oleh virus Corona baru bernama SARS-CoV-2 ini. Inovasi-inovasi itu muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari superkomputer untuk mencari obat dan vaksin Covid-19, robot untuk melakukan tes Covid-19, hingga aplikasi untuk melakukan pemeriksaan atau screening awal Covid-19. Apa saja inovasi itu?

    - Sejumlah raksasa teknologi bersama komunitas ilmiah serta pemerintah Amerika Serikat berurun kemampuan 16 superkomputer untuk mempersingkat waktu riset guna menemukan obat atau vaksin Covid-19. Kemampuan 16 superkomputer ini setara dengan lebih dari 82 ribu laptop Apple Macbook Pro terbaru yang bekerja secara maksimum. Konsorsium ini beranggotakan antara lain IBM, Amazon, Google, Microsoft, Massachusetts Institute Technology (MIT), Rensselaer Polytechnic Institute (RPI), Departemen Energi AS, serta Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA).

    - Direktur IBM Research, Dario Gill, mengatakan bahwa superkomputer tersebut memungkinkan para peneliti menjalankan kalkulasi dalam jumlah yang sangat besar pada berbagai riset di bidang epidemiologi, bioinformatika, dan modeling molekul. “Eksperimen-eksperimen itu akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama apabila dilakukan dengan sistem komputer biasa,” ujarnya.

    - Raksasa teknologi Cina, Alibaba, mengembangkan algoritma kecerdasan buatan baru yang dapat menganalisis hasil CT-Scan seseorang. Alibaba mengklaim bahwa teknologinya itu dapat mengidentifikasi perbedaan foto pneumonia yang dicurigai, yang sedikit dicurigai, dan yang tidak terinfeksi virus Corona. Identifikasi ini pun disebut bisa dilakukan hanya dalam waktu 20 detik dengan tingkat akurasi hingga 96 persen.

    - Pemerintah Spanyol berencana menggunakan robot untuk mendeteksi pasien Covid-19. Robot dengan sistem kecerdasan buatan ini diklaim mampu melakukan pengujian terhadap 80 ribu orang dalam satu hari. Sejauh ini, pemerintah Spanyol hanya mampu menggelar uji Covid-19 terhadap 15-20 ribu orang per hari. Nantinya, pemerintah Spanyol bakal menggunakan empat robot uji Covid-19 yang ditempatkan di beberapa wilayah di sana.

    - Di Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sedang mengembangkan sejumlah inovasi untuk mendeteksi virus Corona. Beberapa di antaranya adalah Non-PCR Diagnostic Test Covid-19 dalam bentuk Dip Stick dan Micro-chip, pengembangan PCR Diagnostic Test yang sesuai dengan mutasi terbaru Covid-19, serta pengembangan aplikasi teknologi informasi dan kecerdasan buatan untuk mendukung diagnosis Covid-19.

    - Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan riset-riset itu dilakukan agar Indonesia memiliki kit deteksi virus Corona buatan sendiri. Kit deteksi tersebut dibuat dengan strain virus dari warga Indonesia yang terinfeksi Covid-19 akibat transmisi lokal. BPPT bakal menggunakan pembelajaran mesin dan deep learning untuk membangun model deteksinya. “Berdasarkan data X-ray dan CT Scan dari pasien yang positif dan negatif Covid-19, akan dibangun model yang selanjutnya dapat digunakan untuk membantu deteksi dini pasien,” ujar Hammam.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut beberapa kabar tentang misinformasi dan disinformasi, keamanan siber, serta privasi data pekan ini, yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan chatbot WhatsApp Covid-19 untuk memberikan perkembangan informasi seputar pandemi yang disebabkan oleh virus Corona itu. Masyarakat bisa mengakses chatbot tersebut dengan menyimpan nomor +41798931892 dan mengirim pesan “hi” atau mengklik tautan ini. Chatbot ini mencakup informasi seperti data terakhir jumlah kasus positif Corona, cara melindungi diri dari Corona, penjelasan mengenai berbagai hoaks seputar Corona, berita-berita terbaru mengenai Corona, dan sebagainya.

    - Para peretas elite diketahui mencoba membobol sistem WHO dengan serangan siber yang bernama sama dengan virus yang tengah mewabah saat ini, virus Corona. Menurut Kepala Pejabat Keamanan Informasi WHO, Flavio Aggio, serangan siber meningkat dua kali lipat belakangan ini. Upaya pembobolan itu pertama kali diketahui oleh pakar keamanan siber Alexander Urbelis yang melacak aktivitas pendaftaran domain internet yang mencurigakan. Urbelis mendapati bahwa sekelompok peretas yang dia ikuti mengaktifkan situs jahat yang meniru sistem email internal WHO.

    - Seorang peretas dilaporkan telah mencuri lebih dari 538 juta data pribadi pengguna platform media sosial terbesar di Cina, Weibo, yang kemudian dijual secara online di dark web. Awalnya, ZDNet menemukan iklan penjualan data pribadi itu di internet, yang terkonfirmasi oleh laporan dari media-media Cina. Dalam iklan tersebut, si peretas mengaku bahwa dirinya menembus sistem keamanan Weibo pada pertengahan 2019. Adapun data pribadi pengguna yang dicuri mencakup nama asli pengguna, username di Weibo, jenis kelamin, lokasi, dan nomor telepon.

    - Untuk meminimalisir informasi palsu terkait Covid-19, Twitter bakal lebih banyak memberikan centang biru alias verifikasi pada akun para ahli kesehatan. Twitter menyatakan bahwa kini mereka tengah bekerja sama dengan sejumlah otoritas kesehatan global, salah satunya WHO, untuk mengidentifikasi akun mana saja yang layak diverifikasi. Twitter pun menyatakan, saat ini, mereka telah memberikan centang biru pada ratusan akun milik ahli kesehatan. Tapi Twitter tidak menjelaskan apakah kebijakan ini berlaku secara global atau hanya untuk wilayah tertentu.

    - Pada 23 Maret 2020 lalu, bos Facebook, Mark Zuckerberg, menyatakan bahwa perusahaannya telah menyumbangkan masker darurat mereka yang jumlahnya mencapai 720 ribu unit. Menurut Zuckerberg, masker itu adalah persediaan Facebook untuk kondisi darurat, seperti kebakaran. Tak hanya Facebook, Apple pun menyumbangkan jutaan masker untuk tenaga kesehatan yang berada di Amerika Serikat dan Eropa. Namun, bos Apple, Tim Cook, tidak menyebut jumlah pasti masker yang disumbangkan oleh perusahaannya itu.

    - YouTube meluncurkan sebuah situs baru bernama Learn@Home untuk memudahkan anak-anak belajar dari rumah di tengah pandemi Covid-19. Situs ini berisi berbagai konten terkait pelajaran sekolah serta konten ramah keluarga. Dalam situs ini, tersedia pula tautan ke berbagai kanal YouTube yang dibagi ke dalam beberapa kategori sesuai usia, mulai dari preschool hingga remaja yang berumur di atas 13 tahun. Selain itu, terdapat halaman #StudyWithMe yang memungkinkan anak-anak mengunggah rekaman videonya ketika belajar untuk saling memotivasi.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Pada awal pekan ini, beredar sebuah pesan berantai yang berisi cerita tentang momen terakhir Hadio Ali Khazatsin, dokter spesialis saraf Rumah Sakit Premier Bintaro, sebelum meninggal pada 22 Maret 2020 karena terinfeksi virus Corona Covid-19. Kisah yang diberi judul “The Last Moment Dokter Hadio” ini dilengkapi dengan sebuah foto yang memperlihatkan seorang pria yang berdiri di depan pagar rumah dan memperhatikan dua anak yang berada di teras dari kejauhan.

    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, foto itu nyatanya bukan foto Hadio, melainkan foto seorang dokter di Malaysia. Tempo menemukan bahwa orang yang pertama kali mengunggah foto itu adalah Ahmad Effendy Zailanudin, warga Petaling Jaya, Malaysia, di Facebook. Tempo menghubungi Ahmad melalui Facebook Messenger pada 23 Maret 2020, yang kemudian membenarkan bahwa foto tersebut adalah foto yang ia unggah pada 21 Maret 2020 pukul 20.34 waktu Malaysia. Ahmad juga mengirimkan gambar tangkapan layar unggahannya itu kepada Tempo. Dalam unggahannya, Ahmad menulis bahwa pria dalam foto tersebut adalah saudara sepupunya, seorang dokter yang ikut menangani pasien Covid-19 di Malaysia.

    Kepada Tempo, Ahmad menegaskan bahwa kini saudaranya tersebut dalam kondisi sehat, tidak terinfeksi virus Corona, dan masih bertugas sebagai dokter. “Saya sahkan bahawa gambar itu memang saudara saya. Dia bukan dokter Hadio yang baru meninggal itu. Saya mohon kepada netizen di sana supaya tidak mudah untuk ambil gambar orang lain dan dijadikan kesempatan untuk mengait like, komen, dan kongsi,” ujar Ahmad.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta terhadap beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.