CekFakta #28 Menjamurnya Pendeteksi Hoaks

Reporter:
Editor:

Angelina Anjar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hoax Analyzer temuan mahasiswa ITB.

    Hoax Analyzer temuan mahasiswa ITB.

    • Penemuan berbagai pendeteksi hoaks semakin menjamur dalam beberapa tahun terakhir. Pada umumnya, alat-alat pendeteksi itu memanfaatkan teknologi machine learning dan kecerdasan buatan. Salah satunya adalah situs pencarian hoaks karya anak bangsa yang menjuarai kompetisi inovasi teknologi tingkat Asia Tenggara.
    • Belakangan ini, semakin banyak kasus yang melibatkan deepfake, konten manipulasi yang diciptakan dengan kecerdasan buatan. Seiring dengan itu, semakin terjangkau pula teknologi untuk memproduksi deepfake. Hal tersebut mendorong raksasa-raksasa teknologi, para peneliti, hingga pejabat negara untuk bersiaga menghadapi deepfake yang semakin merajalela.

    Halo pembaca nawala CekFakta Tempo. Pada 11 September 2019 lalu, bendera setengah tiang kita kibarkan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Presiden ke-3 Indonesia Baharuddin Jusuf Habibie yang tutup usia. Tepat sehari sebelumnya, beredar sebuah berita bohong yang menyebut Habibie meninggal dunia. Kabar itu tentu membuat kita geram. Saya sendiri tidak bisa membayangkan mengapa seseorang sampai hati membuat informasi palsu semacam itu. Yang sedikit melegakan, dalam beberapa tahun terakhir, banyak penemuan berbagai pendeteksi berita hoaks. Apa saja alat-alat pendeteksi itu? Apakah sudah bisa kita gunakan? Saya merangkumkannya untuk Anda.

    Apakah Anda menerima nawala edisi 13 September 2019 ini dari teman dan bukan dari email Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Nawala edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri dari Tempo Media Lab.

    MUSIM SEMI PENDETEKSI HOAKS 

    Bayangkan jika ada sebuah alat yang bisa mendeteksi berita hoaks secara otomatis dan hasilnya bisa didapatkan dalam sekejap mata. Tentu kita tidak perlu lagi repot-repot memilah berita mana yang asli dan mana yang palsu. Ujungnya tidak perlu lagi ada kesimpangsiuran informasi. 

    Akankah angan-angan itu menjadi kenyataan? Kita boleh optimistis dengan semakin menjamurnya penemuan berbagai pendeteksi hoaks dalam beberapa tahun terakhir. Temuan-temuan ini dibutuhkan mengingat, berdasarkan survei DailySocial terhadap 2.032 pengguna smartphone di Indonesia, sekitar 44 persen responden tidak yakin mereka  memiliki kepiawaian mendeteksi berita hoaks.

    Salah satu penelitian awal di Indonesia dalam rangka menemukan metode pendeteksi kabar bohong adalah riset yang dilakukan oleh peneliti Institut Teknologi Bandung, Errissya Rasywir dan Ayu Purwarianti, pada 2015. Mereka melakukan eksperimen dengan beberapa algoritma machine learning untuk mengklasifikasi berita hoaks berbahasa Indonesia.

    Hasilnya, algoritma terbaik yang bisa dipakai dalam sistem klasifikasi berita hoaks adalah algoritma naive bayes, algoritma pengklasifikasian teks yang berbasis probabilitas, dengan nilai akurasi sekitar 80-81 persen. Dalam eksperimen itu, Errissya dan Ayu menggunakan sebanyak 220 berita—89 berita hoaks dan 131 berita bukan hoaks—sebagai dataset.

    Sepanjang 2017-2019, riset yang hampir sama juga dilakukan oleh tiga peneliti dari Politeknik Negeri Malang, Faisal Rahutomo, Inggrid Yanuar, dan Diana Mayangsari. Bedanya, mereka menggunakan sebanyak 600 berita—228 berita hoaks dan 372 berita bukan hoaks—sebagai dataset, sehingga nilai akurasinya mencapai sekitar 82,3-83 persen.

    Ketiga peneliti ini pun membangun sebuah situs mesin pencarian untuk mengecek validitas sebuah berita. Dengan memasukkan berita yang ingin dicek dan menekan tombol “cek” di situs itu, pengguna akan mendapatkan hasil apakah berita itu termasuk hoaks atau bukan. Sayangnya, penelitian itu tidak menyebutkan alamat situsnya dan apakah situs itu sudah bisa diakses oleh publik atau belum.

    Mesin Pencarian Kabar Kibul

    Mesin pencarian yang dikembangkan oleh tiga peneliti dari Politeknik Negeri Malang ternyata serupa dengan temuan Tim Cimol ITB yang terdiri dari Feryandi Nurdiantoro, Tifani Warnita, dan Adinda Budi Kusuma Putra. Pada 2017, mesin pencarian yang bernama Hoax Analyzer itu menjuarai ajang Imagine Cup 2017 Asia Tenggara. Imagine Cup merupakan kompetisi yang diselenggarakan oleh Microsoft untuk mewadahi inovasi-inovasi di bidang teknologi.

    Menurut Tim Cimol ITB, Hoax Analyzer punya dua pekerjaan utama. Pertama, mesin itu akan mengubah teks yang dimasukkan pengguna menjadi query yang kemudian diteruskan ke dua mesin pencarian lainnya, yakni Bing dan Duckduckgo. Kedua, mesin itu akan mengambil sebanyak sepuluh artikel terkait dari Bing dan Duckduckgo yang kemudian digunakan sebagai referensi untuk mengklasifikasikan teks yang dimasukkan pengguna sebagai fakta atau hoaks.

    Meskipun begitu, Tim Cimol ITB mengakui masih ada kekurangan dalam mesin pencarian yang mereka buat itu. Pertama, kelemahan menangkap konteks dari informasi yang diuji. Kedua, ketergantungan terhadap media sebagai sumber rujukan. Saat ini, situs Hoax Analyzer masih dalam tahap pengembangan agar bisa diakses secara luas oleh publik.

    Satu lagi karya anak bangsa yang bisa digunakan untuk memeriksa kebenaran sebuah informasi adalah Hoax Buster Tools. Aplikasi yang tersedia di smartphone ini diluncurkan oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia pada Februari 2018. Aplikasi ini memiliki berbagai fitur untuk mengecek sebuah informasi. Menariknya, dengan fitur Anti-hoax Search Engine, pengguna hanya akan menerima hasil pencarian dari situs-situs terpercaya.

    Layanan Anti Hoaks Pemerintah

    Seakan tak ingin ketinggalan dengan para peneliti tadi, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mengembangkan layanan di aplikasi perpesanan Line serta Telegram bernama Chatbot Anti Hoaks. Layanan ini memanfaatkan teknologi kecerdasan untuk melakukan verifikasi atas sebuah isu. Informasi klarifikasi hoaks yang disajikan berasal dari database mesin crawling Kominfo serta situs-situs pemeriksa fakta, termasuk media.

    Untuk menggunakan layanan itu di Line, kita harus menambahkan akun resmi Kominfo, @kemkominfo, sebagai teman terlebih dahulu. Setelah itu, kita mesti mengirimkan pesan yang berisi judul, isi, atau tautan dari berita yang ingin divalidasi kebenarannya. Untuk di Telegram, prosesnya sama. Namun, pesan itu bukan dikirimkan ke akun resmi Kominfo, melainkan ke akun @chatbotantihoaks.

    Saya pun tertarik mencoba layanan itu, yakni yang tersedia di Line. Ketika saya mengirim pesan berisi salah satu kabar hoaks tentang asteroid yang akan menabrak bumi pada 9 September 2019, tak sampai satu menit akun Line Kominfo sudah memberikan balasan. Pesan itu berisi satu informasi klarifikasi yang berasal dari situs Turnbackhoax.id.

    Sayangnya, informasi yang direkomendasikan akun Kemkominfo itu tidak berisi klarifikasi atas berita yang saya maksud, melainkan kabar hoaks tentang gemuruh suara asteroid yang sedang melintas pada Februari 2018. Beruntung, layanan itu juga memberikan tautan ke mesin pencarian Bing. Di laman itulah saya baru menemukan klarifikasi atas kabar kibul yang saya maksud.

    Meskipun telah banyak pendeteksi berita hoaks yang tercipta, teknologi sebenarnya hanyalah sarana untuk memudahkan pekerjaan manusia. Malah terkadang teknologi bisa memberikan solusi yang salah. Itulah pentingnya bagi kita untuk tetap bersikap skeptis dan kritis terhadap segala informasi yang ada. Penting juga untuk meningkatkan literasi dan minat baca. 

    RAMAI-RAMAI MEMERANGI DEEPFAKE

    Belakangan ini, kasus yang melibatkan deepfake, konten manipulasi yang diciptakan dengan kecerdasan buatan, semakin menghiasi pemberitaan di media. Banyak tokoh-tokoh terkenal yang menjadi sasaran deepfake. Ada pula beberapa aktris Hollywood yang sosoknya dipakai dalam film dewasa rasa deepfake.

    - Pada April 2018, beredar sebuah video yang menampilkan sosok Barack Obama yang mencela Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Video tersebut nyatanya merupakan video yang diciptakan oleh komedian Jordan Peele. Video itu dibuat dengan kombinasi teknologi dalam perangkat lunak Adobe After Effects dan FakeApp.

    - Dua seniman Amerika Serikat, Bill Posters dan Daniel Howe, menciptakan sebuah video deepfake dengan memakai sosok Mark Zuckerberg. Video yang beredar pada Juni 2019 itu menampilkan Zuckerberg sedang berpidato tentang kekuasaan Facebook atas data miliaran orang. Selain Zuckerberg, dua seniman itu juga membuat video deepfake Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan aktris Kim Kardashian.

    - Nasib yang lebih sial dialami oleh beberapa aktris Hollywood, seperti Gal Gadot, Emma Watson, dan Jessica Alba. Wajah mereka ditempelkan pada wajah artis video porno. Video-video itu dibuat oleh para pemilik akun anonim di situs Reddit.com dengan perangkat lunak FakeApp.

    Saat ini, teknologi untuk memproduksi deepfake memang semakin mudah dijangkau. Akhir Agustus lalu, Zao, sebuah aplikasi yang bisa digunakan untuk mengubah gambar wajah seseorang dalam sebuah video klip film atau televisi dengan wajah orang lain, dirilis di Cina. Itulah kenapa banyak pihak yang mulai mewaspadai kehadiran deepfake.

    - Google bersama salah satu unit usahanya, Jigsaw, sedang mengembangkan sebuah proyek untuk mendeteksi deepfake. Mereka berkerjasama dengan profesor di bidang kecerdasan buatan dari Technical University of Munich, Jerman, dan asisten profesor di bidang informasi forensik dari University of Naples Federico II, Italia, untuk mendesain dataset yang bisa digunakan oleh untuk menciptakan pendeteksi deepfake berbasis kecerdasan buatan.

    - Tak mau ketinggalan dengan Google, Facebook bekerjasama dengan Microsoft dan para peneliti dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di dunia untuk mengembangkan teknologi pendeteksi deepfake. Facebook pun menggelar kompetisi bernama Deepfake Detection Challenge dengan total hadiah mencapai US$ 10 juta untuk memperluas partisipasi dalam pengembangan teknologi pendeteksi itu.

    - Tim peneliti University of Southern California, Amerika Serikat, menemukan metode yang lebih akurat untuk mendeteksi video deepfake—tingkat akurasinya mencapai 96 persen. Semua frame dari sebuah video deepfake diekstrak. Lalu, seluruh gambar yang berisi area wajah ditumpuk menjadi satu. Barulah kemudian area hidung, mata, dan mulut dari wajah itu diidentifikasi, apakah semuanya selaras di setiap frame.

    - Twitter menyatakan bahwa deepfake melanggar ketentuan layanan serta kebijakan mereka. Karena itu, akun-akun yang teridentifikasi menyebarkan deepfake akan ditangguhkan. Saat ini, Twitter juga sedang mencari cara untuk menangani kasus-kasus deepfake. Mereka pun tengah menginvestigasi video deepfake yang melibatkan Nancy Pelosi, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat.

    - Texas menjadi negara bagian Amerika Serikat pertama yang memiliki undang-undang terkait deepfake. Undang-undang itu melarang produksi serta distribusi deepfake, khususnya yang ditujukan untuk merusak citra peserta pemilu serta mempengaruhi hasil pemilu. Beberapa ahli berharap undang-undang ini bisa menjadi pemantik bagi negara bagian lainnya untuk mengesahkan aturan hukum yang sama.

    WAKTUNYA TRIVIA! 

    Berikut ini beberapa informasi sekilas yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

    - Tupi Saravia, travel influencer asal Argentina dengan 315 ribu pengikut di Instagram, baru saja dikontrak oleh perusahaan aplikasi penyunting foto, Enlight Quickshot, untuk menciptakan variasi gambar awan di aplikasi mereka. Uniknya, Saravia pernah tertangkap basah memakai gambar awan palsu dalam foto-foto perjalanannya. Namun, berkat itu, Saravia malah semakin dikenal dan akhirnya dipekerjakan oleh Enlight.

    - Pembawa acara Fox 29, Karen Hepp, menggugat Facebook, Reddit, dan perusahaan internet lainnya sebesar US$ 10 juta karena telah menggunakan fotonya dalam iklan aplikasi kencan serta konten-konten yang berbau pornografi. Gugatan itu diajukan pada 11 September 2019 di pengadilan federal Philadelphia, Amerika Serikat.

    - Setelah dikenai denda sebesar US$ 170 juta karena melanggar privasi data anak, YouTube berjanji akan menonaktifkan komentar serta notifikasi dan personalisasi iklan pada video yang ditujukan untuk anak-anak. Pada Februari 2019, YouTube pernah menjanjikan hal serupa setelah ditemukan banyaknya tautan dari predator anak dalam komentar di video-video anak. Namun, hingga kini, fitur komentar pada ratusan video YouTube yang berisi anak-anak masih tersedia.

    - Apple menyatakan permintaan maaf secara terbuka karena telah menggunakan manusia untuk mendengarkan rekaman pembicaraan pengguna dengan asisten digital Siri miliknya dalam rangka peningkatan layanan mereka. Saat ini, Apple telah menangguhkan penggunaan manusia dalam layanan tersebut.

    - Ahli keamanan siber Verizon Media, Mike Grover, menemukan bahwa kabel lightning atau kabel pengisi daya iPhone bisa dimodifikasi sebagai media untuk meretas komputer seseorang. Di dalam kabel itu ditanamkan sebuah perangkat lunak sehingga, ketika dicolokkan ke komputer, kabel itu bisa digunakan untuk mencuri data si pemilik komputer.

    - Perangkat lunak yang diklaim bisa membantu pemeriksa fakta memverifikasi file audio, Forensia, baru saja diluncurkan di Buenos Aires, Argentina, pada awal September lalu. Sayangnya, perangkat lunak yang diciptakan oleh Laboratorium Penelitian Sensori Dewan Riset Ilmiah dan Teknis Nasional Argentina ini tidak tersedia secara gratis alias berbayar.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI 

    Indonesia berkabung dalam dua hari terakhir ini. Pada Rabu petang, 11 September 2019, Presiden ke-3 Indonesia Baharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia. Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, ini menghembuskan napas terakhirnya di usia 83 tahun setelah dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Jakarta sejak 2 September lalu.

    Namun, tepat sehari sebelum Habibie  tutup usia, kita sempat diterpa kabar hoaks tentang kabar kematiannya. Informasi itu berasal dari sebuah halaman Facebook yang mengunggah ucapan duka atas meninggalnya Habibie dan melengkapinya dengan foto wakil presiden di era pemerintahan Presiden Soeharto ini.

    Kabar itu pun segera dibantah oleh asisten pribadi Habibie, Rubijanto. Dia mengatakan bahwa itu hanyalah berita bohong.

    Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi kesehatan Habibie memang kerap menurun. Pada 2014 dan 2018, Habibie mesti menjalani perawatan di rumah sakit karena kelelahan. Pada 2016, Habibie juga sempat dirawat di RSPAD karena terinfeksi bakteri. Habibie pun pernah mengalami kebocoran klep jantung dan mesti dirawat di salah satu rumah sakit di Jerman tahun lalu.

    Seiring dengan kerap dirawatnya Habibie di rumah sakit, kabar hoaks tentang meninggalnya mantan Menteri Riset dan Teknologi ini juga sering muncul. Sejak 2012, sudah enam kali Habibie disebut tutup usia. Kabar itu muncul pada Februari 2012, November 2016, Januari 2017, Maret 2017, April 2018, dan terakhir sehari sebelum berpulangnya pria yang semasa kecilnya lebih kerap disapa Rudy ini.

    Selain artikel di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta atas beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cegah Covid-19, Kenali Masker Kain, Bedah, N95, dan Respirator

    Seorang dokter spesialis paru RSUP Persahabatan membenarkan efektifitas masker untuk menangkal Covid-19. Tiap jenis masker memiliki karakter berbeda.