CekFakta #11 Seberapa Mengancam Deepfake bagi Indonesia?

Reporter:
Editor:

Angelina Anjar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gambar tangkapan layar video yang memperlihatkan perbedaan antara rekaman asli dengan deepfake. Credit: Kanal YouTube WatchMojo

    Gambar tangkapan layar video yang memperlihatkan perbedaan antara rekaman asli dengan deepfake. Credit: Kanal YouTube WatchMojo

    • Sampai setidaknya 22 Mei nanti, kami memperkirakan perdebatan tentang siapa yang memenangi kursi RI-1 dan RI-2 masih akan terus berlanjut, demikian juga misinformasi seputar topik ini.
    • “Deepfake” sepertinya belum bakal jadi ancaman besar bagi pemeriksa fakta di Indonesia, tak seperti disinformasi yang dibuat dengan kombinasi foto asli dan narasi bohong. Tapi ada baiknya fact-checker Tanah Air mulai menggali pemanfaatan teknologi informasi (IT) untuk keperluan pemeriksaan fakta, seperti yang telah dilakukan para pemeriksa fakta dari belahan dunia lain.

    Apa kabar, pembaca nawala CekFakta Tempo? Pemilu memang sudah selesai, namun Anda dan saya tahu kontestasi menuju kursi pimpinan negara ini masih jauh dari usai. Mari membahas beberapa hal menarik yang menjadi headline sepekan ini. Apakah Anda menerima nawala edisi 22 April 2019 ini dari teman, dan bukan dari email Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

    Edisi ini ditulis oleh Astudestra Ajengrastri dalam kerangka program TruthBuzz untuk tempo.co. Ketahui lebih lanjut tentang program ini dan misi saya di bagian bawah surel.

    MARI BERTAHAN DEMI DEMOKRASI HINGGA 22 MEI

    Hari-hari ini Indonesia memiliki “dua presiden” periode 2019-2024 versi hitung cepat. Pertama, Jokowi, berdasarkan hasil hitung cepat semua lembaga survei. Kedua, Prabowo, berdasarkan hitungan “ahli statistika” yang tidak dipublikasikan namanya—tulis Toriq Hadad dalam kolom Cari Angin, Koran Tempo edisi 20 April 2019.

    Pemilu serentak ini menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia untuk meningkatkan mutu demokrasi. The Economist Intelligence Unit pada tahun lalu merilis indeks demokrasi, di mana Indonesia berada pada peringkat ke-65 dari 167 negara yang diriset.

    - Lembaga yang sama juga merilis laporan khusus tentang pemilu kemarin. Laporan berjudul “Frustrated Reform? What lies beyond the April elections in Indonesia” ini memuat analisis dan prediksi The Economist soal lanskap politik dan ekonomi Indonesia setelah 2019, dengan kondisi bila Joko Widodo atau Prabowo Subianto menjadi presiden. Unduh laporan ini secara gratis setelah registrasi.

    - Apapun, Indonesia berhasil menamatkan pemilihan umum terumit di dunia dalam satu hari, walau diwarnai dengan isu-isu logistik dan maladministrasi yang berdampak pada diadakannya pemungutan suara ulang.

    - Sebagai pembanding, tahun ini Nigeria dan Afghanistan terpaksa menunda pemilu karena masalah logistik. Fakta ini saja sudah layak menasbihkan pemilu lalu sebagai bukti keberhasilan demokrasi, tulis Ben Bland dari Lowy Institute untuk The Atlantic.

    Sepekan sebelum hari pencoblosan, Facebook menghapus 234 halaman, akun, dan grup pro-Prabowo Subianto karena, mengutip rilis resmi Facebook, “Mereka menggunakan akun palsu dan sering membuat postingan berita lokal dan politik, termasuk topik-topik seperti pemilu, dugaan kecurangan pemilu, pandangan para kandidat, dan tuduhan curang kepada para tokoh politik. Seperti biasa, kami mengambil tindakan berdasarkan perilaku akun-akun ini, bukan isi konten mereka.”

    - Jejaring pro-Prabowo yang dihapus Facebook ini setidaknya mengikuti pola seperti ini: Membuat konten campuran politik dan apolitik sebagai cara membangun audiens, mengunggah konten yang sama di beberapa halaman pada waktu nyaris bebarengan, memberikan tautan kepada sejumlah situs sama (lagi-lagi di saat hampir bersamaan), dan menjadi admin untuk beberapa halaman atau grup Facebook dengan perilaku daring serupa. (via Rappler)

    MENGENAL MEREKA YANG PANTAS DIKENAL SEBAGAI #PAHLAWANPEMILU

    Foto-foto para petugas mengantarkan logistik ke seluruh pelosok Indonesia yang tersebar di sosial media pantas diberi highlight. Kompilasi sejumlah foto bertema Pemilu 2019 dikumpulkan oleh situs Quartz di tautan ini

    - Jangan lupakan juga #pahlawanpemilu lain seperti anggota polisi dan TNI yang mengantar surat suara dan menjaga situasi tetap aman; petugas KPPS yang rela begadang untuk rekapitulasi surat suara; usaha keras para periset merilis data yang sahih; dan pemeriksa fakta yang melakukan maraton cek fakta selama dua hari, sembilan jam nonstop per harinya, menyisir dan men-debunk misinformasi di sosial media.

    - Takzim dan duka kami untuk mereka yang sakit dan meninggal dunia karena kelelahan akibat bekerja keras mewujudkan pesta demokrasi. Bawaslu pada Ahad, 21 April 2019, menyatakan ada 325 pengawas pemilu yang mengalami sakit, kekerasan, dan meninggal dunia di pemilu kali ini. 

    Siapa pemenang Pemilu 2019? Yang pasti bukan kaum marjinal.

    - Masyarakat adat Dayak Meratus, misalnya, mengaku sangat bersemangat menggunakan hak pilih. Namun ada begitu banyak kendala mewujudkannya, dari buta aksara hingga kepemilikan e-KTP. (Abraham Utama dan Anindita Pradana via BBC News Indonesia)

    - Kelompok LGBT, di sisi lain, menunjukkan protes dengan memilih untuk golput. Mereka menjadi salah satu kelompok masyarakat yang kecewa dengan rekam jejak HAM kedua kandidat. (Stanley Widianto via Foreign Policy)

    - Sementara itu, bila pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin mendapatkan suara unggul dalam berbagai survei hitung cepat, bisa jadi ini berkat para pendukung senyap yang muak dengan hoaks dan serangan agresif dari pendukung oposisi. (Iffah Nur Arifah via ABC Indonesia)

    Apakah Anda, seperti saya, bosan mendapati diagram lingkaran atau pie chart setiap kali me-refresh laman Situng milik KPU? Haries Ramdhani membuat laman urun daya dari data unggahan C1 di situs Kawal Pemilu dengan visualisasi penuh warna—klik di sini untuk melihatnya

    KONTEN MENYESATKAN YANG LEBIH LAKU KETIMBANG “DEEPFAKE”

    Teknologi yang maju semakin pesat melahirkan deepfake, konten bohong yang dibuat dari nol dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) sehingga tak terlacak tools yang biasa dipakai pemeriksa fakta untuk menelusuri konten palsu. Selain video, deepfake juga mulai merambah bentuk lain, salah satunya teks dan suara.

    - Pindrop, sebuah perusahaan biometriks audio di AS, mengembangkan suara sintetis untuk melatih mesin mereka mendeteksi audio palsu. Kepada Axios, perusahaan ini membagikan beberapa contoh suara sintetis yang sedang mereka kembangkan.

    - Mesin pintar mereka dicekoki ratusan jam suara komedian Ellen DeGeneres dan mengembangkan AI yang kemudian bisa menirukan suara DeGeneres. Siapa saja nantinya bisa mengetik kalimat apapun, yang kemudian akan disuarakan oleh DeGeneres. Contoh hasilnya bisa Anda dengarkan di sini.

    Perang melawan deepfake sepertinya masih jauh panggang dari api di Indonesia.

    - Para pembuat hoaks di tanah air bahkan sepertinya tak butuh kemampuan Photoshop sekalipun untuk menciptakan kabar bohong yang bisa mendulang ribuan share di Facebook.

    - Daniel Funke dari Poynter Institute mengambil contoh foto bohong yang di-debunk pemeriksa fakta Liputan6.com dan AFP soal jumlah pendukung Prabowo Subianto dan Joko Widodo dalam kampanye di Pilpres lalu. Foto lama dengan konteks dan narasi keliru ini telah disebarkan ribuan kali di Facebook. Ini menunjukkan bahwa taktik pembuatan disinformasi di berbagai tempat sesungguhnya masih “primitif”.

    LANGKAH SELANJUTNYA: METADATA DAN OTOMATISASI 

    Para pemeriksa fakta sudah terlalu sering menemui apa yang disebut dengan “zombie claim” atau “hoaks daur ulang”,  yakni ketika sebuah klaim atau gambar bohong yang sudah pernah diverifikasi muncul dan muncul lagi sebagai sebaran baru.

    - The Guardian mengambil langkah jitu untuk mengurangi sebaran misinformasi akibat artikel lama muncul kembali, tentu saja dengan konteks yang sama sekali berbeda, di media sosial. Mereka menggunakan metadata, sebuah fitur simpel yang sudah banyak dipakai situs berita, untuk memberi cap waktu di foto-foto dan artikel dari situs The Guardian. (via Niemanlab)

    Di Brasil, Aos Fatos dan Volta Data Lab mengembangkan dua tools otomatisasi untuk pemeriksaan fakta.

    - Fátima adalah sebuah bot yang beroperasi di Twitter. Ia meramban cuitan yang berisi konten misinformasi lalu secara otomatis me-reply cuitan tersebut bersama tautan ke artikel pemeriksaan fakta.

    - Tim yang sama, didukung oleh International Center for Journalists dalam kerangka program TruthBuzz juga mengembangkan Tweets de Bolso. Tools ini mempermudah pencarian cuitan-cuitan lama Presiden Jair Bolsonaro untuk keperluan verifikasi klaim, yang mampu mengais tweet yang sudah dihapus sekalipun.

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI

    Seminggu ini, Tim CekFakta Tempo menelusuri kebenaran beberapa hoaks yang terunggah di dunia maya. Sebagian dari hasil kerja kami sepekan ini ditulis pada 16-17 April lalu, sebagai bagian dari inisiatif bersama koalisi Cekfakta. Anda bisa membaca seluruh pemeriksaan fakta di acara maraton pemeriksaan fakta tersebut di situs Cekfakta.com.

    Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

    TENTANG TRUTHBUZZ 

    TruthBuzz adalah program fellowship dari International Center for Journalists (ICFJ) yang bertujuan untuk memperluas literasi dan mengatasi permasalahan disinformasi di lima negara yakni Indonesia, India, Nigeria, Brazil, dan Amerika Serikat. Saya adalah penerima fellowship ini di Indonesia. Salah satu misi saya bersama Tempo.co adalah untuk menyebarkan hasil kerja tim pemeriksa fakta yang menangkis berbagai hoaks.

    Kenal seseorang yang Anda rasa tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.