CekFakta #7 Yang Terjadi Saat Debat Ma'ruf Amin-Sandiaga Uno

Reporter:
Editor:

Angelina Anjar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cawapres nomor urut 01 K.H. Ma'ruf Amin (kiri) berbincang dengan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kanan) usai mengikuti Debat Capres Putaran Ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad, 17 Maret 2019. ANTARA/Wahyu Putro A

    Cawapres nomor urut 01 K.H. Ma'ruf Amin (kiri) berbincang dengan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kanan) usai mengikuti Debat Capres Putaran Ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad, 17 Maret 2019. ANTARA/Wahyu Putro A

    • Pemeriksa fakta juga manusia, yang mungkin sekali salah berkata-kata. Lepas debat pilpres ketiga lalu inisiatif pemeriksa fakta sebuah media daring Indonesia diserang karena kesalahan dalam produksi konten meme.
    • Debat antara Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno mungkin dianggap datar dan membosankan oleh banyak orang. Bahkan, Anda mungkin satu dari sekelompok orang yang lebih memilih menonton tanding Fulham vs Liverpool yang tayang hampir bersamaan. Tapi keseruan soal debat ini di dunia maya masih menarik untuk Anda baca.

    Apa kabar! Dua topik di atas menjadi pembahasan dalam edisi ketujuh nawala CekFakta Tempo pada 20 Maret 2019 ini. Terima kasih untuk apresiasi Anda kepada usaha periksa fakta kami, di situs maupun di media sosial. Punya usulan untuk menjadikan edisi-edisi mendatang kami lebih baik? Kirimkan surel ke sini.

    Edisi ini ditulis oleh Astudestra Ajengrastri dalam kerangka program TruthBuzz untuk tempo.co. Ketahui lebih lanjut tentang program ini dan misi saya di bagian bawah surel.

    SIAPA YANG MEMERIKSA FAKTA PARA PEMERIKSA FAKTA?

    Debat Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dengan Sandiaga Uno menjadi ramai karena media berlomba-lomba menyajikan konten secara langsung seiring debat berjalan, baik itu pemeriksaan fakta, petikan pernyataan kandidat yang asik dikutip, dan meme. Dalam sejarahnya, menayangkan materi langsung selalu mengandung risiko lebih besar, dan di sini lah Tirto.id tersandung.

    - Bekerja sama dengan Narasi TV dalam melakukan live fact-checking Debat Pilpres 2019, Tirto memproduksi konten visual berupa meme, kutipan, dan periksa fakta. Dua guyonan dalam meme di acara ini dianggap melewati batas, menciptakan kehebohan di Twitter dan mengakibatkan pengaduan ke Dewan Pers. (via Kabar24)

    - Sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber pada poin “Ralat, Koreksi, dan hak Jawab” dan “Pencabutan Berita”, Tirto pun segera mengunggah permintaan maaf di website dan sosial media.

    - Tagar #TirtoButuhDuit sempat menyebar, dibumbui dengan utas tentang sumber permodalan Tirto. Narasi pun berkembang liar, menuduh media ini partisan, dan kredibilitasnya dalam memeriksa fakta patut dipertanyakan.

    Tanpa bermaksud menafikkan kesalahan fatal yang dibuat Tirto, konten yang dipermasalahkan adalah meme, bukan hasil periksa fakta atau data.

    - Tirto adalah media pertama di Indonesia yang menerima verifikasi International Fact-Checking Network (IFCN), dewan periksa fakta independen, yang prosesnya tidak mudah. Salah satu proses yang harus dilakukan untuk mendapatkan penandatanganan ini adalah memberikan laporan keuangan yang transparan.

    - Hanya media yang menerima verifikasi IFCN yang bisa menjadi pemeriksa fakta pihak ketiga Facebook. Ada lima media (di luar Mafindo) Indonesia terlibat dalam proyek ini, termasuk Tempo.

    - Di belahan dunia lain, hasil periksa fakta dan para pemeriksa fakta juga kenyang diserang. Ini menimbulkan perdebatan yang sama sekali berbeda dengan kasus yang menimpa Tirto di atas: Siapa yang berhak memeriksa fakta para pemeriksa fakta?

    - Ini yang membuat pemeriksaan fakta di era Twitter begitu sulit, di mana pemeriksaan fakta dengan konteks rumit belum tentu bisa dijabarkan dengan satu utas. Ini pernah terjadi pada media sekaliber Associated Press.

    - Dalam kerja koalisi, seperti yang dilakukan Cekfakta.com, tanggung jawab isi konten periksa fakta berada di pundak masing-masing media anggotanya. Ini, menurut Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Abdul Manan, adalah kelemahan.

    - Bagaimana pun, riak-riak permasalahan ini tidak boleh merusak inisiatif dan pembudayaan pemeriksaan fakta yang sedang berkembang di Indonesia. Pada akhirnya, kita semua sedang berjuang untuk menyajikan fakta di atas kabar bohong sebagai wacana publik, karena fakta selalu penting dan patut dibela.

    PADAHAL DEBATNYA SENDIRI KURANG SERU, UNGKAP BEBERAPA ANALISIS

    Riuh rendah keseruan debat cawapres justru tak terasa di Hotel Sultan.

    - Kepada Tempo, Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, menilai debat putaran ketiga yang mempertemukan dua calon wakil presiden pada Ahad malam berjalan datar dan membosankan.

    - Sementara, kepada CNN Indonesia, pengamat komunikasi politik, Silvanus Alvin, menilai kandidat bermain aman dan telat panas. Mereka menyimpan keseruan di detik akhir.

    - Analisis di sejumlah media daring menuliskan vonis yang sama. Opini dari Dahlan Iskan ini, di sisi lain, menggelitik untuk dibaca.

    SIAPA MENANG DI UDARA: MA'RUF, SANDIAGA, ATAU IBU LIES?

    Saling serang dengan kabar bohong tetap berlanjut. Yang paling menarik perhatian saat debat mungkin ini, ketika akun @LiesSugiyarti tiba-tiba muncul di Twitter pada pukul 20.59 WIB.

    - Akun ini adalah akun bodong yang baru dibuat saat debat berlangsung, mengambil foto orang lain sebagai identitas. Menurut analisis peta sosial media dari Drone Emprit, akun ini langsung populer karena mendapat retweet dari top influencer.

    - Ismail Fahmi, pria di belakang Drone Emprit, juga memetakan percakapan media sosial Twitter saat debat berlangsung. Sandiaga Uno mendominasi percakapan di awal debat, dilangkahi oleh Ma'ruf Amin pada pertengahan debat, dan diakhiri dengan volume percakapan lebih tinggi untuk Ma'ruf Amin.

    - Menariknya, meski volume percakapan lebih tinggi, interaksi akun-akun Twitter yang memperbincangkan Ma'ruf Amin jauh lebih rendah ketimbang Sandiaga. “Rendahnya interaksi bisa disebabkan oleh spam,” tulis Ismail.

    Sepanjang masa kontestasi pilpres ini, sosial media menjadi tempat untuk gaet masa dan membentuk citra. Joko Widodo, Prabowo Subianto, dan Sandiaga Uno, memiliki akun pribadi yang terverifikasi dengan jutaan pengikut.

    - Tirto menulis analisis menarik tiga fanpage kandidat di Facebook. Prabowo memiliki fanpage dengan pengikut terbanyak, Sandiaga terlihat paling aktif, namun Jokowi memiliki jumlah interaksi tertinggi.

    - Di Twitter, masih dibedah oleh Tirto, ada pola unik dari Prabowo. Calon presiden ini super aktif nge-tweet saat periode mencalonkan diri sebagai presiden, baik di 2014 maupun 2019.

    - Instagram tak ketinggalan dipakai. Sebelum saling debat, Sandiaga mengunggah beberapa foto dan video. Mulai dari main basket bersama Agus Yudhoyono, berenang bersama putra bungsunya, makan malam bersama keluarga, hingga pamer kemesraan bersama istri.

    - Ma’ruf Amin, sayangnya, tidak memiliki akun pribadi dan terverifikasi. Beberapa akun yang mengatasnamakan dirinya, ini salah satunya, dikelola oleh tim. Isinya pun standar saja.

    MERAYAKAN PEMERIKSA FAKTA DI SELURUH DUNIA

    Bukan lagi rahasia, perang antara pemeriksa fakta dengan penyebaran misinformasi tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Pemilu, umumnya jadi garis awal terbentuknya.

    - Pemilihan umum menjadi garis mula beberapa Inisiatif periksa fakta, misalnya di Norwegia, Jerman, Korea Selatan, dan Brazil. Yang sekarang sedang sama-sama berjuang menghadapi pemilu di depan mata, sama seperti Indonesia, adalah India dan Afrika.

    - Ada 160 situs pemeriksa fakta aktif di seluruh dunia, menurut Duke Reporter’s Lab melalui peta interaktif ini.

    - Pada 2018, setidaknya ada 22 negara yang memiliki lebih dari satu media pemeriksa fakta. Bandingkan dengan data 2017, di mana hanya ada 11 negara yang punya lebih dari satu pemeriksa fakta aktif.

    - Di Amerika, Snopes diakui sebagai situs pemeriksa pertama. Lahir pada 1994, Snopes mulanya fokus pada melakukan debunk atas mitos-mitos dan legenda urban.

    - Pada 2005, Channel 4 di Inggris meluncurkan kanal FactCheck yang khusus meliput pemilihan parlemen Inggris. Usai pemilu, kanal ini dibuat permanen.

    - PolitiFact dibentuk oleh tim gabungan dari The St. Petersburg Times dan Congressional Quarterly pada 2007. Situs ini menggunakan rating bernama “truth-o-meter”, yang mengukur kebenaran klaim kandidat presiden AS pada Pemilu 2008, dengan skala ‘benar’, ‘setengah benar’, sampai ‘pants on fire’ yang artinya kira-kira ‘salah besar’.

    - Di tahun pemilu yang sama, Washington Post meluncurkan The Fact Checker, dan meluncurkannya ulang pada 2011 sebagai kanal permanen di situsnya. The Post menggunakan Pinokio, boneka kayu yang hidungnya memanjang bila berbohong, untuk sistem rating-nya. 

    PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI 

    Malam debat lalu adalah saat yang sibuk bagi kami. Beberapa periksa fakta atas klaim Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno bisa anda baca di sini:

    Selain pemeriksaan fakta dalam debat di atas, baca juga beberapa artikel periksa fakta sepekan terakhir bisa Anda baca di tautan-tautan berikut:

    Jangan absen juga membaca Majalah Tempo edisi 16 Maret 2019 dengan tajuk utama “Romy, Akhirnya”. Di dalamnya, Anda akan menemukan ulasan mendalam khas Tempo tentang isu aplikasi Sambhar, juga soal tentara dunia maya Paslon 01 dan 02.

    TENTANG TRUTHBUZZ

    TruthBuzz adalah program fellowship dari International Center for Journalists (ICFJ) yang bertujuan untuk memperluas literasi dan mengatasi permasalahan disinformasi di lima negara yakni Indonesia, India, Nigeria, Brazil, dan Amerika Serikat. Saya adalah penerima fellowship ini di Indonesia. Salah satu misi saya bersama Tempo.co adalah untuk menyebarkan hasil kerja tim pemeriksa fakta yang menangkis berbagai hoaks.

    Kenal seseorang yang Anda rasa tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

    Ikuti kami di media sosial:

    Facebook

    Twitter

    Instagram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.